PH collegiate sports

Guy Fawkes dan ikon protes modern

Rahadian Rundjan
Plot Bubuk Mesiu 5 November 1605 memang gagal mengubah wajah monarki Inggris, namun salah satu konspiratornya menjelma menjadi simbol anarkisme.

Topeng Guy Fawkes seperti dikenakan oleh karakter V dalam film ‘V for Vendetta’. Foto dari Facebook.com/VforVendettaFilm

Apakah satu benda yang paling lekat dengan semangat anarkisme? Satu jawabannya, sebuah topeng wajah berwarna putih dengan senyum menyeringai yang dikenal sebagai topeng Guy Fawkes.

Mungkin nama Guy Fawkes, tokoh anarkis Inggris abad ke-17, tak akan sebegitu populer di kalangan gerakan protes kontemporer jika Alan Moore tidak menulis V for Vendetta (1988), sebuah novel grafis tentang V, pejuang kebebasan misterius bertopeng Guy Fawkes yang menentang pemerintahan fasis dan otoriter Inggris dengan latar belakang dunia distopia.

Dampaknya, aksi-aksi anarkis V, yang juga dapat dinikmati dalam adaptasi layar lebarnya (2006), membuat topeng Guy Fawkes kian populer bersinonim dengan gerakan protes.

Lalu, siapakah sebenarnya sosok Guy Fawkes tersebut?

Plot Bubuk Mesiu

Fawkes diperkirakan lahir pada 13 April 1570 di York, Inggris, yang tahta monarkinya sudah beralih dari Katolik ke Protestan, situasi tidak menguntungkan bagi kaum Katolik yang kerap kali mendapatkan diskriminasi politik dan sosial dari pihak monarki.

Akibatnya, kaum Katolik dipaksa mengakui seorang raja Inggris yang Protestan sebagai satu-satunya kepala gereja yang sah, lepas dari pengaruh Vatikan. Penolakan berarti hukuman penjara, bahkan eksekusi mati.

Dalam situasi politik-religius itulah Fawkes tumbuh sebagai seorang Katolik. Pada 1592, ia meninggalkan Inggris yang semakin opresif dan berlayar ke Spanyol, negeri Katolik yang tengah berjuang mempertahankan supremasinya sebagai kekuatan politik-religius utama di Eropa Barat. 

Layaknya anak-anak muda Katolik seumuran dirinya kala itu, Fawkes merasa terpanggil untuk terlibat dalam menumpas pemberontakan kaum Protestan di Belanda. Ia bertempur di bawah panji Spanyol dalam Perang 80 Tahun, yang juga dikenal sebagai Perang Kemerdekaan Belanda tersebut, setidaknya sampai 1603.

Pengalamannya di medan perang ini menjadikannya sebagai ahli peledak, juga semakin menumbuhkan kebenciannya terhadap monarki Inggris yang ternyata membantu pemberontakan kaum Protestan di Belanda. 

Dengan memakai nama alias Guido Fawkes, ia meminta Raja Spanyol Philip III untuk menolong kaum Katolik yang makin tertindas di Inggris. Tak mendapat jawaban yang positif dari Spanyol, Fawkes pun memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya dan menemukan bahwa namanya telah dikenal oleh sebuah komplotan Katolik radikal.

Komplotan tersebut dipimpin oleh Robert Catesby, seorang Katolik kharismatik dengan kegelisahan yang sama dengan Fawkes. Catesby menyiapkan plot untuk membunuh Raja Inggris James I dan menaikkan Putri Elizabeth ke tahta sebagai pemimpin boneka yang akan mengembalikan tahta Katolik dalam monarki Inggris.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Catesby dan 12 konspirator lain berniat untuk meledakkan gedung parlemen di London pada 5 November 1605, ketika James I dan pejabat-pejabat pemerintahannya menghadiri seremoni pembukaan sidang parlemen Inggris.

Kunci keberhasilan rencana tersebut, yang kemudian dikenal dengan nama Plot Bubuk Mesiu, terletak pada Fawkes. Ia ditugaskan untuk menyulut api yang akan meledakkan 36 tong bubuk mesiu di sebuah ruangan tepat di bawah gedung parlemen.

Namun semalam sebelum rencana itu terlaksana, Fawkes ketahuan dan ditangkap oleh patroli penjaga. Kelelahan setelah diinterogasi dan disiksa, Fawkes pun menyebutkan nama-nama para kolaborator yang bekerja bersamanya.

Tak lama, para konspirator ditangkap dan dijatuhi hukum mati. Pada 31 Januari 1606, Fawkes melompat dari mimbar tempat ia akan digantung dan mendarat dengan leher patah, ia tewas seketika. Tubuhnya lalu dimutilasi, dikirim dan dipamerkan ke empat penjuru wilayah Inggris sebagai bentuk peringatan bagi orang-orang yang ingin memberontak terhadap raja.

Keberhasilan mengantisipasi Plot Bubuk Mesiu dirayakan secara besar-besaran di seluruh kerajaan. Setiap 5 November, masyarakat Inggris melakukan tradisi menyalakan api di tungku kayu raksasa dan membakar boneka Guy Fawkes sebagai simbol superioritas monarki Inggris terhadap elemen-elemen radikal yang mencoba menjatuhkannya.

Teror atau heroik?

Para peretas yang tergabung dalam kelompok Anonymous mengenakan topeng Guy Fawkes. Foto dari Facebook.com/anonews.co

Kisah Guy Fawkes dan transformasi citranya adalah contoh bagaimana waktu dapat mengubah persepsi terhadap satu sosok sejarah, dari “ekstrimis religius” menjadi “pejuang kebebasan”.

Cermati saja: Fawkes muda pergi ke luar negeri, menjadi radikal kala terlibat perang bersentimen religius, dan kembali ke kampung halaman untuk melakukan hal yang dapat dikatakan sebagai percobaan aksi teror. Kisah tersebut paralel dengan fenomena kelahiran ekstrimis Islam beberapa dekade belakangan ini. 

Namun, kekuatan budaya populer melalui V for Vendetta berhasil memberikan citra baru terhadap sosok Fawkes. Seperti yang dikatakan oleh sejarawan Lewis Call, Fawkes telah menjadi “ikon utama budaya politik modern”, atau tepatnya, ikon bagi kaum anarkis. 

Grup peretas Anonymous menjadi kelompok yang pertama menggunakan topeng Fawkes untuk menyembunyikan identitas mereka kala melakukan protes di jalanan. Tak lama, topeng serupa ramai dipakai oleh para demonstran anti-pemerintahan di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Sebuah lelucon Inggris mengatakan bahwa Fawkes adalah satu-satunya orang yang pernah masuk ke gedung parlemen dengan niat yang jujur; Fawkes memang tidak mengelak ketika ditanya langsung oleh penangkapnya, ia lantang mengaku ingin meledakkan parlemen.

Hal tersebut seakan mengolok reputasi buruk parlemen Inggris, seperti parlemen di negara-negara lain, yang cenderung disesaki oleh politisi-politisi bermuka dua yang korup.

Di tengah kontroversinya sebagai sosok historis, nyatanya kini citra anarkis Fawkes memang masih relevan sebagai antitesis terhadap bentuk-bentuk tirani modern, yang sayangnya masih sering ditemui dalam pemerintahan negara manapun di dunia ini. —Rappler.com 

Rahadian Rundjan adalah esais, kolumnis, penulis dan peneliti sejarah. Kini berdomisili di Bogor dan dapat disapa di @RahadianRundjan.