Kisah memilukan gadis cilik korban bom molotov Gereja Samarinda

Virqo Aryan
Kini keluarga hanya bisa mengenang keceriaan IOB dalam kenangan mereka

Anggiat Manumpak Banjarnahor dan Diana Susan hanya bisa merelakan kepergian putri kecil mereka yang tewas akibat bom molotov di Gereja Samarinda, Minggu (13/11). Foto oleh Virqo Aryan/Rappler

BANJARMASIN, Indonesia – Anggiat Manumpak dan Diana Susan tak lagi memiliki tenaga. Keduanya hanya bersandar di peti jenazah yang terletak di ruang tamu rumah mereka di Kelurahan Harapan Baru, Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Di dalam peti tersebut terbujur sesosok tubuh mungil putrinya IOB (2,5 tahun) yang tewas terkena ledakan bom molotov yang meledak di Gereja Oikumene, Kelurahan Sengkotek, Kota Samarinda, Minggu 13 November. 

Anggiat Manumpak sesekali menatap foto putrinya yang di letakkan di atas peti jenazah. Matanya bercucuran air mata. Kehilangan putri semata wayang membuat bapak berusia 33 tahun ini hancur.

Masnur Simanulang, keluarga dari Anggiat Tumpak, mengatakan saat ledakan terjadi, IOB sedang berada di halaman gereja. Anggiat sempat melihat langkah kecil putrinya berlari keluar gereja untuk bermain bersama teman-temannya.

Saat ledakan terdengar, Anggiat langsung berhambur ke teras gereja. Di sana ia melihat putrinya tergeletak dengan baju masih terbakar. “Dia membuka bajunya yang terbakar, IOB menangis di pangkuannya. Saat bajunya yang terbakar di buka kulitnya ikut terkelupas,” kata Masnur.

“IOB masih menangis saat dibawa ke Puskesmas. Tapi setelah dibawa ke RSUD AW Syahranie IOB sudah tak sadar sampai dia meninggal,” Masnur melanjutkan.

IOB menghembuskan nafas terakhir, Senin, 14 November 2016, sekitar pukul 04.30 Wita di RSUD AW Syahranie, Samarinda. “IOB meninggal karena luka bakar yang parah,” kata Rachim Dinata, Direktur RSUD AW Syahranie.

IOB adalah anak semata wayang Anggiat Manumpak dan Diana Susan. Menurut Balutan Julianto Banjarnahor, adik Anggiat Manumpak, IOB adalah anak yang ceria. “Dia ceriwis, suka ngajak ngobrol. Semua yang didekatnya diajak ngomong,” kata Balutan Julianto Banjarnahor saat ditemui di rumah duka.

Julianto mengungkapkan pemakaman IOB menunggu kehadiran kakek IOB yang tinggal di Kebupaten Labuan Batu Utara, Medan. “Yang kami khawatirkan kakeknya, dia punya gejala penyakit jantung. Sampai sekarang bapak saya itu belum dikabari kalau cucunya sudah tiada,” kata Julianto.  

Kini Julianto, Anggiat Manumpak, dan Diana Susan hanya bisa mengingat keceriaan IOB dalam kenangan mereka. Entah bagaimana perasaan mereka terhadap Juhanda, pelempar bom molotov yang merenggut nyawa IOB.

Juhanda sempat melarikan diri sesaat setelah melempar bom molotov. Dia kabur dengan menyeburkan diri dan berenang ke Sungai Mahakam sebelum akhirnya ditangkap polisi.

Warga di sekitar gereja mengenal Juhanda sebagai seorang penjaga Masjid Mujahidin yang jaraknya sekitar 200 meter ke arah kiri gereja. —Rappler.com