Ikon gudeg Yogya Yu Djum meninggal

Dyah Ayu Pitaloka
Ikon gudeg Yogya Yu Djum meninggal
Berkat racikan Yu Djum gudeg kini telah menjadi wisata kuliner yang mendunia

YOGYAKARTA, Indonesia – Ikon gudeg Yogyakarta Djuwariyah Darmosuwarno meninggal pada Senin 14 November 2016 di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. 

Darmosuwarno meninggal dalam usia 81 tahun. Ia dikenal sebagai salah seorang pelopor gudeg yang dikemas secara modern. Berkat racikannya, gudeg kini telah menjadi wisata kuliner yang mendunia.

“Ibu meninggal Senin pukul 18:15 wib, karena beberapa sebab, di antaranya infeksi saluran kencing dan infeksi ginjal,” kata Hariani, putri pertama mendiang di rumah duka, Jalan Argo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Selasa 15 November 2016. 

Selama sakit, menurut Hariani, ibunya berpesan agar usaha gudeg tetap dilanjutkan oleh anak dan cucu. “Kalaupun ada usaha lain, ibu berpesan agar kita tetap membesarkan gudeg ini,” katanya.

Menurut Hariani, ibunya telah merintis usaha gudeg sejak belum menikah. Saat itu usia Djuwariyah masih belasan tahun. “Ibu berjualan gudeg keliling,” kata Hariani.

Seiring waktu dan kegigihannya, usahanya kian membesar sehingga Djuwariyah mampu membuka warung pertamanya di Wijilan —yang tetap buka hingga saat ini. 

“Dulu warung pertamanya ibu di Wijilan, tetapi memasaknya di sini (rumah duka). Kemudian terus berkembang hingga sekitar 10 rumah makan sekarang,” lanjut Hariani. 

Hariani mengingat ibunya sebagai pekerja keras. Bahkan sebelum sakit pun ibunya masih membantu membersihkan daun. “Kepada kami beliau mengajarkan jika ingin makan harus bekerja,” katanya.

Darmosuwarno lahir pada 31 Desember 1935 rencananya akan dikebumikan pada Selasa sore sekitar pukul 14.00 wib, 15 November 2016. Selama masa berkabung, rumah makan Gudeg Yu Djum akan tutup selama sepekan ke depan.

“Untuk pesanan catering, kami sudah tidak memiliki tanggungan pesanan. Sudah kami umumkan jauh hari bahwa sejak Senin hingga Kamis minggu ini, kami akan tutup, karena karyawan akan berwisata rutin, sekali dalam satu tahun,” kata Hariani.

Setiap harinya, rumah makan Gudeg Yu Djum pusat di Jalan Argo setidaknya membutuhkan 3 kwintal nangka muda dan sekitar 300 ekor ayam potong.

Bintang jasa untuk Yu Djum

Bagi kalangan industri perhotelan dan rumah makan, gudeg Yu Djum dianggap memiliki jasa besar dalam membesarkan wisata kuliner gudeg di Yogyakarta. 

Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Istijab Danu Nagoro mengatakan Yu Djum adalah salah satu sosok yang melahirkan dan membesarkan gudeg sebagai tujuan wisata kuliner di Yogykarta. 

Anak dan cucu Yu Djum berkumpul di rumah duka untuk berkabung, Selasa (15/11). Foto oleh Dyah Ayu Pitaloka/Rappler “Beliau ini inventor gudeg sebagai ikon wisata kuliner di Yogya. Beliau juga mengemas gudeg dengan kemasan yang modern. Gudeg juga menjadi industri yang bisa bersaing hingga saat ini,” kata Istijab, Selasa 15 November 2016.

Menurutnya tak banyak sosok seperti Yu Djum yang dianggap berjasa mengembangkan gudeg sebagai wisata kuliner di Yogyakarta. 

“Mungkin ada sekitar lima pemilik Gudeg besar di Yogykarta. Yu Djum ini punya kekhasan mengembangkan gudeg dengan modern, jasanya besar untuk memperkenalkan gudeg sebagai wisata kuliner hingga internasional,” ujarnya. 

Menurutnya cita rasa gudeg Yu Djum berbeda karena terkesan tak terlalu manis dan tak terlalu basah. “Bagi mereka yang tak suka terlalu manis cocok dengan Gudeg Yu Djum,” tuturnya.

Untuk memberikan penghargaan, PRHI berencana mengusulkan bintang jasa pada Yu Djum atas berbagai jerih payahnya yang juga berdampak pada perkembangan wisata kuliner di Yogykarta.

“Kami ingin merekomendasikan semacam bintang jasa atau penghargaan untuk mendiang, jika tidak pada Presiden Jokowi, setidaknya Gubernur DIY memberikan penghargaan untuk beliau. Juga, kami ingin agar ada upaya mematenkan gudeg sebagai kuliner khas milik Indonesia,” tandasnya. —Rappler.com

 

Add a comment

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.