Benarkah kelompok penolak kampanye Ahok-Djarot bukan warga setempat?

Rappler.com
Akibat penolakan dari sekelompok orang, Ahok sempat dievakuasi menggunakan mikrolet

Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama saat blusukan ke kawasan Bali Mester, Jatinegara, Jakarta, Selasa (15/11). Foto oleh Hafidz Mubarak/ANTARA

JAKARTA, Indonesia – Kampanye yang dilakukan calon petahana gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama terus mendapatkan penolakan dari sekelompok orang. Selasa sore ini penolakan terjadi di Ciracas, Jakarta Timur.

Ahok tiba di Gang Mandiri, Ciracas, Selasa sore 15 November sekitar pukul 15.00 wib. Ia langsung disambut oleh sekitar 30 orang yang langsung berorasi menolak kehadirannya. 

Tak hanya berorasi, mereka juga mencoba mendekati Ahok namun dihalau petugas kepolisian. Ahok sendiri begeming. Ia tetap melayani warga sekitar yang mengajaknya berfoto bersama. 30 menit kemudian, Ahok meninggalkan lokasi. 

Aksi penolakan ini menjadi yang kesekian kalinya dialami Ahok sejak masa kampanye gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta dimulai pada 28 Oktober lalu. Sebelumnya Ahok pernah ditolak di Jagakarsa, Kebon Jahe, Pejaten, dan Rawabelong.

Penolakan terparah terjadi di Rawabelong, Jakarta Barat, pada 2 November. Saat itu sekelompok orang menghadang Ahok sambil membawa spanduk bertuliskan kalimat kasar. Akibat ulah mereka, Ahok terpaksa dievakuasi menggunakan mikrolet ke Mapolsek Kebon Jeruk.

Ahok menilai penolakan terhadap dirinya mencederai demokrasi. Namun ia yakin barisan penolak itu bukan berasal dari warga yang ia kunjungi. “Penduduk asli terima, kok. Mereka hanya segelintir orang yang menteriak-teriakkan itu,” kata Ahok.  

Kecurigaan Ahok bahwa masa yang menolak kehadirannya bukanlah warga setempat dibuktikan oleh Djarot Saiful Hidayat, pasangannya di bursa pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta.

Saat blusukan ke Jalan Bangka, Pela Mampang, Jakarta Selatan, Selasa pagi 15 November, Djarot sempat didatangi sekelompok orang yang menolak kehadirannya di wilayah tersebut.

Mereka membawa berbagai poster sambil berteriak ke arah Djarot, “Warga Pela Mampang menolak Ahok- Djarot!”  Djarot sempat ingin menemui mereka, namun warga setempat melarangnya. “Jangan ditemui, Pak. Bukan warga sini,” kata warga.

Kapolsek Mampang M Syafii membenarkan keterangan warga jika para pendemo tersebut bukan warga Pela Mampang. “Bukan orang sini, Pak, nanti kami amankan,” kata Syafii. Saat itu Djarot hanya menjawab, “Oh, bukan orang sini, ya.”

Tim pemenangan pasangan Ahok-Djarot tak tinggal diam menghadapi penolakan warga tersebut. Pada 10 November lalu mereka mendatangi Badan Pengawas Pemilu untuk melaporkan rentetan insiden penolakan ini.

Wakil Ketua Bidang Media dan Opini Publik Tim Pemenangan Ahok-Djarot, Wibi Andrino, menduga massa yang menolak kehadiran Ahok atau Djarot telah disiapkan oleh kelompok tertentu. “Kita minta Bawaslu untuk pro-aktif,” kata Wibi. 

Namun Ketua Badan Pengawas Pemilu Muhammad tak ingin terburu-buru menyimpulkan apakah penolakan terhadap Ahok dan Djarot dilakukan oleh warga setempat atau oleh massa yang disiapkan oleh kelompok tertentu.  

“Kami tidak boleh terburu-buru menyimpulkan ada pihak yang menggiring,” kata Muhammad di Hotel Ibis, Hayam Wuruk, Jakarta, Jumat, 11 November 2016.—dengan laporan ANTARA/Rappler.com