Seribu lilin dan refleksi toleransi di Indonesia

Aparat hukum juga harus bekerja keras menindak kelompok yang menyebarkan intoleransi, dan mencegahnya berkembang meluas

LILIN UNTUK INTAN. ANTARA FOTO/Sheravim/jhw/pd/16  

JAKARTA, Indonesia — Dunia merayakan Hari Toleransi Internasional setiap tanggal 16 November. Sikap saling menghargai pendirian orang lain, sangat penting untuk menjaga keharmonisan dan perdamaian antar masyarakat.

Indonesia sebagai negara dengan penduduk yang terdiri dari beragam suku, agama, dan ras tentu perlu menjunjung tinggi sikap tersebut. “Jadi, jika seseorang atau kelompok tertentu sudah tidak ada toleransi, maka segala perbedaan itu bisa jadi pemecah belah bangsa Indonesia,” kata Koordinator Aksi Forum Kebhinekaan Joshua “Jojo” Pardede saat dihubungi Rappler pada Rabu, 16 November 2016.

Pekan ini, terjadi berbagai aksi intoleransi di berbagai daerah. Pertama,  pengeboman Gereja Oikumene HKBP Samarinda, Kalimantan Timur, yang menewaskan seorang balita. Sehari setelahnya, Vihara Budi Dharma di Singkawang, Kalimantan Barat juga mendapatkan serangan serupa. Gereja Katolik Paroki Gembala Baik di Kota Batu, Malang, pun mendapatkan ancaman bom.

Forum Kebhinekaan kemudian menggelar aksi menyalakan 1000 lilin bagi Intan Olivia Marbun, balita yang tewas dalam serangan bom di Gereja Oikumene HKBP Samarinda, di Bundaran HI pada Senin, 14 November 2016. Ia mengutuk keras perbuatan tersebut.

Ironisnya, pelaku pemboman mengenakan baju bertuliskan “Jihad way of life” yang merujuk pada agama tertentu. “Saya kira tidak ada satupun agama yang mengajarkan tindakan seperti itu. Ini disebabkan karena mereka termakan doktrin ajaran-ajaran yang menyimpang jauh dari toleransi,” kata Jojo.

Upaya bersama

INTOLERANSI DI INDONESIA.

Lantas, bagaimanakah cara untuk menumbuhkan semangat toleransi di Indonesia? Peran tokoh agama, pejabat publik, hingga tokoh adat sangat penting.

“Mereka bersama-sama, bersatu membangun bangsa ini. Mengajarkan dan memberi contoh saling toleransu antar umat suku, agama, dan ras,” kata Jojo. Sikap toleran ini harus dikedepankan dan diterapkan dalam kehidupan sosial masyarakat.

Hal senada juga disampaikan oleh Pengurus Aliansi Beragam Itu Indah Caroline Monteiro. Masyarakat seharusnya juga berani bersikap dan bersuara mengingatkan pemerintah dan aparat hukum.

“Masyarakat sipil yag peduli pada HAM dan keadilan harusnya berani bersuara dan bersikap, karena suara rakyat penting didengar,” kata dia. Selain itu, bisa juga membangun dialog antar agama, lintas budaya, dan pendidikan HAM bagi kaum muda.

Berbagai usaha harus dilakukan, baik pendekatan ke pemerintah, maupun ke akar-akar budaya di masyarakat. Bagi Olin, usaha sekecil apapun akan berarti, untuk mewujudkan masyarakat toleran.

Tak kalah penting, aparat hukum juga harus bekerja keras menindak kelompok yang menyebarkan intoleransi, dan mencegahnya berkembang meluas. “Untuk memberi rasa aman dan nyaman kepada seluruh rakyat di Indonesia,” kata Jojo.

Ketua Setara Institute Hendardi menambahkan, momentum pengeboman gereja ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk menyusun kebijakan komprehensif dalam menangani kasus intoleransi. “Ini merupakan soft terrorism yang berpotensi atau rentan bertransformasi menjadi gerakan radikal,” kata dia.

Mereka yang menjadi aktor jihad, lanjut Hendardi, adala orang=orang yang telah melampaui pandangan intoleran yang melakukan aksi untuk mencapai kepuasan.

Aksi intoleransi atas dasar agama dan ras harus diatasi dengan berbagai pendekatan politik, sosial, dan hukum. “Juga mencegah terjadinya kekerasan baru dan disintegrasi bangsa,” kata dia.

Akhir pekan ini pun, akan ada berbagai kegiatan yang menyuarakan toleransi dan keberagaman. Seperti Parade Bhinneka Tunggal Ika pada Sabtu, 19 November 2016, dan Tole Run pada Ahad, 20 November 2016.

 



Meski hari toleransi internasional ini sedikit dinodai dengan penetapan calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama sebagai tersangka penistaan agama, setidaknya masih ada harapan bagi Indonesia toleran di masa depan. Lewat semangat para orang muda yang ingin menerabas batasan perbedaan.—Rappler.com