Pemutaran film dan diskusi tentang gender di Surabaya dibatalkan

Ursula Florene
Film 'Calalai: In Betweeness' berkisah tentang perempuan maskulin dalam budaya suku Bugis

Screenshot film ‘Calalai’ dari YouTube

JAKARTA, Indonesia — Sebuah acara diskusi dan pemutaran film bertema Islam Nusantara batal berlangsung di Surabaya. Pembatalan ini diduga karena ketiadaan izin dan tekanan dari pihak eksternal.

Koordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) Jawa Timur, Aan Anshori, mengatakan panitia membatalkan acara tersebut secara mendadak pada Rabu, 16 November.

“Dikarenakan ada keberatan dari kelompok-kelompok intoleran,” kata Aan saat dihubungi Rappler pada Kamis, 17 November.

Diskusi tersebut dijadwalkan mulai pukul 18:30 WIB di auditorium Institut Francais Indonesia (IFI) Surabaya. Namun, lokasi tersebut malah sepi dan tidak terlihat tanda-tanda acara.

Selembar kertas putih bertuliskan “Acara malam ini dibatalkan” tertempel di pintu.

Film Calalai: In Betweeness yang disutradarai Kiki Febriyanti ini berkisah tentang calalai, atau perempuan maskulin dalam budaya suku Bugis. Selama berabad-abad, mereka menerima keberagaman gender manusia yang terdiri dari lima jenis, yakni oroane (laki-laki), makkunrai (perempuan), calalai (perempuan berpenampilan laki-laki), calabai (laki-laki berpenampilan perempuan), dan bissu.

Pemutaran ini merupakan bagian dari kampanye One Day One Struggle, sebuah jaringan kerja masyarakat sipil yang bergerak dalam isu pemenuhan hak dasar bagi kelompok minoritas seksual. Aan sendiri akan menyampaikan ulasan film tersebut dari perspektif Islam Nusantara.

“Saya sangat menyayangkan pembatalan tersebut. Ini adalah kado pahit, apalagi bertepatan dengan Hari Toleransi Internasional,” kata Aan.

Ia merasa negara ini sudah dikuasai kawanan yang merampas hak publik untuk berdiskusi dan berproses secara intelektual. Aparat hukum juga terkesan tak berdaya menghadapi mereka. Aan memprotes keras aksi intoleransi yang menyebabkan acara dibatalkan.

Permasalahan izin

Meski demikian, Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya Kompol Lily Dafar mengatakan acara tersebut tidak dibatalkan polisi. Pemilik lokasi yang tidak mengizinkan acara dengan dalih belum berizin.

“Setelah mendapat informasi ada acara tersebut, kami melakukan pengecekan. Ternyata acara itu tak ada izinnya,” kata Lily. 

IFI kemudian menanyakan ke pihak panitia dan mendapat keterangan bahwa acara itu memang belum mendapat izin.

Akhirnya, acara dibatalkan karena pemilik tidak mau menanggung risiko. Seperti adanya kemungkinan pihak-pihak tertentu yang dikhawatirkan akan merusak atau membubarkan acara dengan kekerasan.

Acara di IFI tersebut diakui Lily memang berpotensi mengundang pihak-pihak tertentu yang tak ingin acara itu digelar.

Panitia dan pihak IFI sendiri belum memberikan konfirmasi terkait penyebab yang sebenarnya. Pendiri GAYa Nusantara Dede Oetomo, selaku salah satu lembaga sponsor, mengatakan pihaknya tengah berkoordinasi.

“Nanti sore akan ada pernyataan resmi. Sejauh ini kami sepakat untuk tidak berkomentar dulu, mohon bersabar, ya,” kata Dede kepada Rappler. Pihak IFI sendiri tidak membalas telepon maupun pesan pendek yang dikirimkan.—Rappler.com