Pemain muda dan legenda sepak bola Indonesia

Rappler.com
Siapa saja pemain ‎legendaris dan pemain muda bersinar di persepakbolaan Indonesia?

Bagian 6 (terakhir)
Baca Bagian 1: Sejarah sepak bola di Indonesia
Baca Bagian 2: Lahirnya kompetisi-kompetisi sepak bola di Indonesia 
Baca Bagian 3: Sepak bola Indonesia dalam angka
Baca Bagian 4: Turnamen-turnamen sepak bola lokal pencetak bibit unggul
Baca Bagian 5: 3 klub sepak bola terbesar di Indonesia

JAKARTA, Indonesia — Siapa saja pemain-pemain ‎legendaris sepak bola Indonesia? Nama-nama seperti Maulwi Saelan, Iswadi Idris, Ronny Pattinasarany, dan Zulkarnaen Lubis, itu pasti muncul dalam setiap percakapan jika berbicara tentang legenda sepak bola.

Namun di era sepak bola modern seperti sekarang ini, para pemain muda dan yang sudah berpengalaman tentuk tak luput dari benak para penggemar si kulit bundar. Siapa saja mereka? 

Bambang Pamungkas

Pesepak bola Persija Jakarta, Bambang Pamungkas (kanan), melakukan pendinginan usai latihan. Foto oleh Iggoy el Fitra/Antara

Tak akan ada yang menyangkal bahwa Bambang Pamungkas adalah legenda sepak bola Indonesia versi modern.

Pemain yang akrab disapa Bepe itu menjadi striker lokal terakhir yang memiliki ketajaman dan loyalitas tinggi kepada tim nasional. Menjadi kapten utama timnas pada era 2010an, ‎pemain berusia 36 tahun itu sampai hingga kini masih memegang rekor caps tim Merah Putih dengan total 85 pertandingan.

Ia berhasil mencetak ‎37 gol untuk skuat Garuda selama 12 tahun karirnya di timnas. Jumlah tersebut hanya kalah dari top scorer sepanjang masa Indonesia, Soetjipto Soentoro, dengan 57 gol.

Selama masa emasnya, Bepe memang menjadi buah bibir dan menjadi banyak rebutan klub. Tapi, di Indonesia ia memilih bertahan dengan Persija Jakarta. 

Kejutan diberikan Bepe saat memilih bergabung dengan Pelita Bandung Raya pada ‎musim 2013/2014. Penyebabnya, Persija tak mampu membayar gaji pemain. Bepe pun diutang gajinya sampai berbulan-bulan, dan ujung-ujungnya tak dibayar penuh. 

Selain berkarir di Indonesia, Bepe juga mencatatkan sukses saat memperkuat tim Malaysia Super League, Selangor FA. Meski mendapatkan materi yang lebih dan kesuksesan di Negeri Jiran, pada akhirnya Bepe tetap memilih kembali ke Indonesia.

Kecintaan dan atmosfer gila sepak bola di Indonesia menjadi salah satu alasannya ogah kembali merantau.

“Di Indonesia sepak bola sangat populer. Selalu ada yang membuat ingin kembali saat Anda meninggalkannya,” kata pemain kelahiran 10 Juni 1980 tersebut.

Ia yakin, sepak bola Indonesia akan mencapai masa keemasannya setelah pembinaan dilakukan dengan maksimal. Tanpa pembinaan yang baik, ia tak melihat kesuksesan bakal diraih oleh sebuah negara.

Atep

Atep adalah pemain didikan klub anggota Persib, UNI Bandung. Foto oleh Ahmad Zamroni/AFP

Atep adalah pemain yang saat ini memperkuat Persib Bandung. Ia merupakan didikan klub anggota Persib, UNI Bandung. Tapi uniknya pemain kelahiran Cianjur, 5 Juni 1985, ini justru mengawali karier profesional di Persija Jakarta.

Nama Atep mulai muncul saat dapat panggilan ke timnas Indonesia U-20 pada 2004. Selepas itu, Atep langsung direkrut Persija yang tertarik dengan bakatnya sebagai pemain multitalenta. Sebagai pemain, Atep bisa memerankan posisi sebagai gelandang atau sayap sama baiknya.

Sayangnya, meski mampu berkiprah di timnas level junior, ternyata tidak diikuti dengan sukses di timnas senior. Hingga saat ini Atep tercatat baru memiliki 10 caps bersama timnas senior dengan mencetak 2 gol. Gol itu tercipta pada Piala AFF 2007, semuanya ke gawang Laos di babak penyisihan grup.

Pada 2008 Atep kembali ke Bandung untuk memenuhi panggilan Persib. Di tim senior Persib sampai sekarang, peran Atep tidak tergantikan. Bahkan saat ini pemain bernomor punggung 7 itu merupakan kapten utama Persib.

Sejak menjadi pemain profesional, Atep baru mengoleksi 2 gelar juara. Satu gelar juara di kompetisi resmi, yaitu Indonesia Super League (ISL) 2014, dan satu gelar juara di turnamen Piala Presiden 2015.

Kini Atep yang telah berusia 31 tahun masih memiliki ambisi besar bersama Persib. Setidak-tidaknya Atep ingin membawa tim berjulukan Maung Bandung itu meraih gelar juara di Indonesian Soccer Championship (ISC) A musim 2016.

Ahmad Bustomi

Ahmad Bustomi saat membela timnas Indonesia melawan Oman saat pertandingan kualifikasi Olimpiade 2008, pada 28 Februari 2007. Foto oleh MOhammed Mahjoub/AFP

Kompetisi ISL musim 2009/2010 dan Piala AFF 2010 menjadi puncak kegemilangan Ahmad Bustomi sebagai pemain nasional. Pada kompetisi ISL musim itu, pemain Jombang, 13 Juli 1985, ini ikut andil membawa Arema Indonesia menjadi juara.

Permainannya yang cemerlang membuat Ahmad Bustomi dipercaya sebagai pemain inti timnas senior di sektor gelandang bertahan. Pelatih timnas Indonesia, Alfred Riedl, memberinya kepercayaan besar sebagai gelandang “pengangkut air”, penyeimbang transisi permainan dari bertahan ke menyerang, begitu pula sebaliknya.

Pada Piala AFF 2010, Bustomi mampu menjawab kepercayaan dengan ikut andil membawa timnas ke final. Sayangnya di pertandingan puncak melawan Malaysia, Indonesia harus menelan pil pahit kalah agregat 2-4. Namun permainan elegan Bustomi tetap membuatnya layak mendapat pujian.

Usai Piala AFF 2010, ia kemudian melanjutkan kariernya di Mitra Kukar. Dualisme yang terjadi di Arema membuat pemain didikan SSB Unibraw 82 ini tidak mau terseret ke dalamnya.

Namun pada 2013, Bustomi kembali ke Arema setelah konflik dualisme klub mulai reda. Tapi saat ini performanya sebagai gelandang mulai redup. Cedera menjadi hambatan dirinya belum mampu mencapai performa terbaik seperti periode 2009-2010.

Hanya saja keseniorannya di Arema membuat Bustomi tetap dipercaya tim pelatih. Saat ini status ia tetaplah kapten utama Arema Cronus. Tapi lantaran sering didera cedera, ia lebih banyak menepi dan kadang harus ada di bangku cadangan. 

Masa depan sepak bola Indonesia diyakini cerah berkat kegemilangan pemain-pemain muda berbakat nan bertalenta ini. Siapa saja mereka?

Evan Dimas

Pemain tengah muda timnas Indonesia, Evan Dimas, saat melawan Singapura dalam babak penyisihan grup SEA Games pada 11 Juni 2015. Foto oleh Roslan Rahman/AFP

Evan Dimas adalah pemain muda potensial yang kini sudah mulai meledak performanya di sepak bola profesional Indonesia. Pemain yang dicetak oleh klub Mitra Surabaya —anggota perserikatan Klub Persebaya asli— menjadi gelandang masa depan Indonesia.

Menurunnya performa Firman Utina yang termakan usia diyakini sudah tergantikan perannya oleh pemain 21 tahun tersebut. Evan disebut-sebut bakal menjadi jenderal lapangan tengah Indonesia, andai diberikan kesempatan lebih.

Pemain asal Surabaya ini memang fenomenal setelah‎ berhasil membawa timnas U-19 juara Piala AFF dan lolos ke putaran final Piala Asia U-19.

Karirnya semakin menanjak saat ia dites untuk mengikuti trial di Ue Llagostera, Spanyol. Ia kemudian bergabung dengan Espanyol B, setelah mengikuti global program dari La Liga Spanyol.

Tapi, Evan belum berhasil memikat pelatih di Spanyol untuk merekrutnya merumput bersama klub mereka. Namun demikian, pencapaian Evan di level kompetisi lokal sudah menunjukkan nilai yang positif. 

Menurutnya, sepak bola Indonesia ke depan harus bisa mengubah sistem pembinaan usia muda di Tanah Air. Pasalnya, sepulang dari Spanyol, ia melihat kompetisi dan pembinaan di sana sangat matang.

Selain itu, perlu modal bagi klub, untuk memperbaiki fasilitas pembinaan, latihan, dan juga lapangan. 

“Kita tertinggal jauh dengan Spanyol. Fasilitas mereka luar biasa. Semua lengkap, gizi diperhatikan, sampai dokter tim pun cukup lengkap dari yang mengurus makan, kesehatan, sampai recovery pemain,” kata Evan kepada Rappler.

Ia mencontohkan, untuk pengobatan saja, ‎di Indonesia hanya butuh beberapa hari sembuh karena dibawakan tukang pijat. Jika di Spanyol, ada mekanisme profesional yang sesuai pengetahuan kesehatan.

“Kalau di sini dipijat sembuh, seminggu sudah bisa main. Kalau di sana sebulan baru benar, tapi prosesnya itu yang profesional,” ungkapnya.

Andai mendapatkan kesempatan, Evan mengaku tak kapok untuk kembali mencoba trial atau peruntungan dengan klub di Spanyol. Hanya, untuk saat ini ia ingin fokus di klub Bhayangkara Surabaya United dan mengejar masuk timnas.

Yandi Sofyan

Yandi Sofyan (kanan) saat berebut bola dengan pemain Thailand dalam pertandingan final SEA Games pada 21 Desember 2013. Foto oleh Soe Than Win/AFP

Lahir dari keluarga pesepak bola membuat Yandi Sofyan sudah akrab dengan si kulit bundar sejak kecil. Tidak heran bila di usianya yang sekarang baru menginjak 24 tahun, pemain asal Garut ini sudah melanglang buana.

Setidaknya sudah empat benua dijelajahi pemain yang bermain sebagai striker ini. Semua berawal dari terpilihnya Yandi ke timnas SAD Indonesia yang berlatih dan bertanding di kompetisi usia muda Uruguay pada 2008.

Permainan cemerlang yang ditunjukkan Yandi akhirnya membawa pemain dengan tinggi badan 174 centimeter ini direkrut CS Vise di Belgia. Dalam satu musim pada 2011-2012, Yandi dipercaya turun sebanyak 21 pertandingan. Jumlah laga yang tidak sedikit buat pemain asal Asia.

Setelah kontraknya di Vise selesai, Yandi bergabung dengan Arema Cronus pada 2013. Tapi karena usianya yang masih sangat muda saat itu, pemain yang dibesarkan Persigar Garut ini jarang dapat kesempatan bermain.

Akhirnya manajemen Arema Cronus meminjamkannya ke klub Australia, Brisbane Roar. Di tim muda klub peserta Australian League (A-League) itu, Yandi bermain sebanyak 13 kali dan mencetak 2 gol. Sekembalinya dari Australia, Yandi langsung direkrut klub papan atas di Indonesia, Persib Bandung hingga sekarang.

Darah sepak bola yang mengalir dalam tubuhnya berasal dari kakek dan ayahnya yang merupakan pemain sepak bola. Bakatnya pun tertular dari mantan striker timnas Indonesia, Zaenal Arif, yang tidak lain adalah kakak kandung Yandi.

Saat ini Yandi yang memperkuat Persib masih berupaya untuk dapat kepercayaan dari pelatih. Ia berambisi besar mampu bersaing dengan striker yang lebih senior di Persib.

Setelah kenyang pengalaman di timnas kelompok umur, Yandi yang berulang tahun pada 25 Mei ini juga bertekad bisa dilirik pelatih timnas senior. Sebab, hingga sekarang Yandi belum pernah merasakan kebanggaan memakai kostum timnas senior, kendati sudah berpengalaman bermain di empat benua.

Samsul Arif

Pesepak bola Persib Bandung, Samsul Arif (kiri), berebut bola dengan pesepak bola Bali United dalam pertandingan ISC pada 18 September 2016. Foto oleh Nyoman Budhiana/Antara

Jalan hidup Samsul Arif langsung berubah setelah berhasil meraih gelar top scorer Piala Indonesia 2008/2009. Torehan 8 gol bersama Persibo Bojonegoro saat itu membuat Samsul langsung jadi bidikan banyak klub besar di Tanah Air.

Dari sekian banyak pilihan, Samsul akhirnya memantapkan pilihan untuk pindah ke Persela Lamongan pada musim 2009/2010. Produktivitasnya tetap terjaga setelah mencetak 9 gol dari 32 pertandingan yang dijalaninya.

Namun perasaan terhadap klub asal, membuat pemain yang sekarang berusia 31 tahun itu tidak mampu menolak tawaran kembali ke Persibo Bojonegoro. Bersamaan dengan itu, Samsul mulai menerima panggilan dari timnas Indonesia.

Pada 2012 Samsul memutuskan bergabung kembali dengan Persela. Di klub itu ia bertahan hingga 2013. Akhirnya tawaran dari klub idolanya sejak kecil, yaitu Arema, berhasil didapatkan. 

Tiga tahun lamanya Samsul memperkuat Arema dengan catatan 25 kali bermain dan mencetak 16 gol.

Samsul adalah tipe pemain yang memiliki pergerakan cepat karena memiliki sprint kencang. Alasan itu yang membuat namanya selalu masuk dalam daftar panggil timnas. Tipe bermain itu pula yang membuat Samsul menjadi buruan utama dari Persib Bandung pada pertengahan 2016.

Gaya bermain Samsul yang bisa menjadi penyerang sayap atau striker murni, dianggap bisa memberi keuntungan ganda buat pelatih klub. Bahkan Persib saking tidak ingin kehilangan Samsul, langsung memberi kontrak dua tahun. —Rappler.com