Membahas etika penggunaan media sosial di Indonesia

Tiga pembicara mengisi sesi bertajuk “Digital Ethics in Indonesia’ sebagai rangkaian acara ‘Tech in Asia Jakarta 2016’ di Balai Kartini, Jakarta, Kamis, 17 November

Damar Juniarto, Founder Forum of Digital Democracy, Abdul Qowi Bastian, Editor Rappler Indonesia dan Ong Hock Chuan, Co-founder Maverick Indonesia berbagi pendapat mereka dalam sesi 'Digital Ethics in Indonesia' di 'Tech in Asia Jakarta 2016'. Foto oleh Amelia Stephanie/Rappler.com.

Jakarta, INDONESIA – Damar Juniarto, Founder Forum of Digital Democracy, Abdul Qowi Bastian, Editor Rappler Indonesia dan Ong Hock Chuan, Co-founder Maverick Indonesia berbagi pendapat mereka dalam sesi Digital Ethics in Indonesia.

Media sosial saat ini dianggap memiliki pengaruh yang kuat di kalangan masyarakat. Semenjak UU ITE dibuat, banyak pengguna yang harus berurusan dengan hukum karena dianggap menyalahgunakan posting-an media sosialnya.

“Lebih dari 200 netizen masuk penjara,” kata Damar.

Belakangan ini, di Indonesia, peran media sosial juga sudah mulai sedikit demi sedikit bergeser. Bukan hanya digunakan untuk menunjukkan keeksistensian pengguna, tapi juga sudah mulai digunakan untuk kepentingan politik.

“Sekarang, media sosial terhubung dengan partai politik,” ujar Damar lagi.

‘Medan pertempuran’ dunia politik

“Media sosial adalah ‘medan pertempuran’,” kata Damar.

Mendekati pemilihan umum Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, para politisi bersaing di media sosial untuk mendapatkan perhatian dan hati masyarakat. Salah satunya adalah Agus Yudhono.

Qowi mengatakan, di akun media sosianya, Agus tampil dengan menggunakan pakaian yang mengikuti tren. Sehingga hal ini menjadi salah satu keunggulannya menarik hati anak muda yang mempunyai hak memilih, jika dibandingkan dengan pakaian kampanye Ahok dan Anies yang terkesan formal.

“Dia mulai mentransformasi kampanyenya dengan outfit nya yang trendi sesuai dengan anak-anak muda yang berpotensi memilih,” kata Qowi.

Sementara di tahun 2012, saat pemilihan kampanye pilkada DKI, Jokowi-Ahok menggunakan media sosial untuk menyebarkan kampanye-kampanye kreatif. Salah satunya yang paling berhasil adalah pembuatan lagu parodi dari One Direction dalam bahasa Indonesia.

Tetapi pada masa kampanye Gubernur 2017 ini, tidak terlihat kampanye-kampanye kreatif seperti dulu. Yang lebih dominan adalah saling menyerang dengan alasan ras dan agama.

Meskipun media sosial dianggap memiliki pengaruh yang kuat, tetapi apa yang terjadi di media sosial belum tentu mempengaruhi kenyataan.

“Media sosial memang berpengaruh tetapi tidak sehebat yang kamu kira,” kata Ong.

Pada pemilihan presiden Amerika Serikat tahun ini, banyak orang yang menyerang Donald Trump di media sosial.

“Banyak serangan melawan Donald Trump, tapi itu tidak mempengaruhi suara pemilihan,” kata Qowi.

Begitu juga dengan Ahok yang saat ini telah ditetapkan menjadi tersangka kasus penistaan agama yang video pidato nya telah tersebar di media sosial.

“Banyak yang nyerang Ahok, tapi tetap dari hasil survei terakhir, Ahok tetap jadi nomor satu,” kata Qowi.

Hoax

Salah satu sisi negatif penggunaan media sosial adalah banyaknya beredar berita palsu atau hoax yang secara sengaja atau tidak sengaja disebar.

Penyebabnya adalah karena dalam membagikan informasi di media sosial, pengguna cenderung tidak memeriksa dan meyakinkan terlebih dahulu apakah berita tersebut benar.

“Banyak berita yang tidak terkualifikasi tapi banyak disebarkan oleh orang. Mereka berbagi artikel yang mempengaruhi emosi mereka tapi tidak dilakukan check and balance sebelum membagikannya,” kata Qowi.

Meskipun saat ini orang-orang memiliki hak untuk memilih, mana yang mereka mau percayai.

“Saat saya menggunakan Twitter, kalo ada informasi yang tidak relevan dengan saya, saya geser,” kata Ong.

Damar pun memberikan saran kepada para pengguna media sosial.

“Saya ingin memberikan saran, jika kita ingin membagikan opini kita, buatlah itu secara bebas dan bertanggung jawab. Bertanggung jawab disini berarti kita telah mengecek kebenarannya dan kita membagikannya tidak dalam emosi,” kata Damar.-Rappler.com.