Mendobrak tabu, mengintip museum penis di Islandia

Rappler.com
Rumah bagi koleksi penis terbesar di seluruh dunia. Nilainya bukan pada erotika, tapi pendidikan.

MUSEUM PENIS. Halldor Kolbeins/AFP

JAKARTA, Indonesia — Setidaknya, ukuran penismu tidak menjadi masalah bagi Museum Lingga Islandia. Tempat yang berlokasi di Reykjavik, Islandia, ini menjadi rumah bagi koleksi penis terbesar di seluruh dunia, yang berasal dari ratusan spesimen binatang.

Di pintu masuk, pengunjung akan disambut oleh lingga dari paus sperma, yang berukuran 1,7 meter dan bobot 75 kilogram. “Saya datang untuk melihat apakah ini benar, dan ternyata benar-benar ada museum penis di Reykjavik,” kata pengunjung asal Amerika Serikat, Jerry Anderson, kepada Agence France-Presse, sembari tersenyum menatap penis terbesar di museum itu.

Dalam ruangan yang diterangi cahaya lampu itu, terpampang beragam penis dan bagian-bagiannya dalam berbagai bentuk dan ukuran. Asalnya bisa dari paus hingga beruang, anjing laut, hingga kucing, dan tikus.

Artefak berbentuk penis juga mendapat tempat di museum tersebut, seperti patung totem, telepon, hingga nampan. “Siapa yang tidak mau datang ke museum penis?” kata Kim, turis dari Kanada yang berusia 62 tahun ini sambil tertawa terbahak-bahak.

Ide ini dirasanya lucu, dan ia datang bersama teman-temannya tengah memandang tabung kosong yang berisi penis kasat mata dari “peri”.

Berawal dari canda

Kurator museum, Hjortur Sigurdsson, berpose di depan koleksi Museum Lingga Islandia, pada 27 Oktober 2016. Foto oleh Halldor Kolbeins/AFP

Museum ini tak pernah sepi dari gelak tawa pengunjung saat melihat 286 spesimen biologis yang dipajang. “Ini adalah tempat yang cocok untuk bercanda dan menghabiskan waktu yang menyenangkan. Kamu bisa mendapatkan pelajaran, dan pada saat bersamaan bersenang-senang,” kata pengelola museum, Hjortur Sigurdsson.

Pria berusia 52 tahun ini sebelumnya bekerja sebagai manajer logistik, dan museum ini merupakan gagasan ayahnya, Sigurdur Hjartarson. Sebagai seorang sejarawan yang juga guru selama 37 tahun, Hjartarson membuka museum ini pada 1997, hanya dengan 62 spesimen.

“Awalnya hanya bercanda. Ayah saya gemar mengoleksi, melakukan sesuatu ayng tak pernah dilakukan orang lain sebelumnya. Dia selalu mengatakan ‘harus ada yang melakukan ini,'” kata Sigurdsson.

Pertama-tama, koleksi ini hanyalah penis binatang. Namun, bertahun-tahun berikutnya, ayah Sigurdsson mendapatkan donor penis manusia dari seorang pria Islandia berusia 96 tahun.

Saat itu, pria tua ini mengaku takut kejantanannya akan mengkerut seiring dengan pertambahan umurnya.

Bagi Sigurdsson, nilai museum ini bukan terletak pada erotika, tetapi pendidikan. Pengunjung favoritnya adalah anak-anak sekolahan. “Banyak yang datang saat jam sekolah, dan mereka bergembira,” kata dia.

Anak-anak ini membandingkan warna, ukuran, dan bentuk penis dari tikus kecil hingga paus. Mereka juga tak ragu bertanya soal bentuk dan ukuran.

“Mereka tak takut bertanya,” kata dia.

Minat terhadap museum ini meningkat, dan pada 2011 sudah memiliki 12 ribu pengunjung. 60 persen pengunjungnya perempuan.

Selain itu, museum juga menjual pasta berbentuk penis dan kondom rancangan desainer ternama.—Rappler.com