Riwayat bom Molotov

Rahadian Rundjan
Serangan bom Molotov di Samarinda merenggut nyawa seorang anak yang tak berdosa. Ini jihad teror, bukan jihad sebagai jalan kehidupan.

Aksi 1.000 lilin untuk Intan Olivia Marbun yang digelar di titik Nol Kota Medan, Sumatera Utara, pada 18 November 2016. Foto oleh Irsan Mulyadi/Antara

Orangtua seharusnya tidak menguburkan anaknya. Pasti rasanya perih, amat perih, bagi orangtua Intan Olivia Marbun, anak perempuan berusia 2,5 tahun yang tewas setelah terkena ledakan bom Molotov di pekarangan Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, pada 13 November silam. Dari kunjungan ibadah Minggu ke rumah Tuhan tersebut, Intan akhirnya benar-benar menemui Yang Maha Kuasa untuk selamanya.

Belum lama bom Molotov di Samarinda yang merenggut nyawa Intan dan melukai beberapa anak lain tersebut, ketenangan kembali terusik setelah pada keesokan harinya, Senin, 14 November, dini hari, Wihara Budi Dharma, Singkawang, Kalimantan Barat, juga diserang bom Molotov. Beruntung, tidak ada korban jiwa. Namun ini tetap merupakan bencana bagi ketentraman masyarakat di Kalimantan.

Terlebih, dapat diduga secara kuat bahwa aksi-aksi teror bom Molotov tersebut, meski (diduga) tidak saling terkait, memiliki benang merah: kebencian relijius dan rasial. Pelaku di Samarinda bahkan memakai kaus bertuliskan “Jihad: Way of Life”, kala tertangkap tak lama setelah melakukan aksinya, dan setelah diselidiki polisi, pelaku merupakan mantan narapidana dan anggota jaringan teroris Islam radikal.

Dinamakan di Finlandia

Vyacheslav Molotov. Foto dari Wikimedia

Mungkin di zaman ini, bom Molotov lebih sering digunakan secara asal-asalan oleh para agen kekerasan amatir seperti demonstran anarkis, berandalan, dan lain-lain. Namun bagi tentara Finlandia yang tengah berjuang mempertahankan kemerdekaan negaranya dari agresi liar Uni Soviet pada musim dingin 1939-1940, bom Molotov adalah senjata taktis dan strategis yang ampuh.

Sejarah penamaan bom api dalam bentuk botol ini sendiri cukup unik dan jenaka. Pemberian nama “Bom Molotov” adalah lelucon yang diciptakan tentara Finlandia untuk mengejek Vyacheslav Molotov, Menteri Luar Negeri Uni Soviet dan salah satu arsitek Pakta Molotov-Ribbentrop, sebuah kesepakatan non-agresi antara Nazi Jerman dan Uni Soviet yang ditandatangani pada 23 Agustus 1939.

Dua pemain besar dalam Perang Dunia II tersebut bersepakat untuk tidak saling mengganggu sehingga masing-masing dapat fokus menyerang negara-negara tetangganya yang lebih lemah. Jerman menginvasi Polandia pada 1 September 1939. Dan Soviet menyerbu Finlandia pada 30 November 1939, memulai apa yang kemudian disebut dengan Perang Musim Dingin.

Dalam sekejap, nama Molotov menjadi lelucon di antara masyarakat Finlandia. Terlebih ketika aksi-aksi pemboman jarak jauh terhadap Helsinki, ibu kota Finlandia, dipropagandakan oleh Molotov sebagai bentuk pengiriman bantuan kemanusiaan Soviet bagi orang-orang Finlandia yang saat itu diklaimnya tengah kelaparan akibat krisis politik internal. Bom-bom ini dinamakan secara sarkastik oleh tentara Finlandia sebagai “keranjang-keranjang roti Molotov”. 

Dan sebagai balasannya, ketika tentara Finlandia berhasil memproduksi bom-bom bakar untuk menghancurkan tank-tank Soviet, mereka menamakan senjata barunya tersebut sebagai “koktail Molotov”; sebuah kelakar, minuman pendamping untuk hidangan “keranjang-keranjang roti Molotov”. 

Bom Molotov ini sebenarnya sudah digunakan dalam Perang Sipil Spanyol 1936 oleh tentara Nasionalis untuk menghancurkan tank-tank tentara Republik. Namun namanya baru diciptakan oleh tentara Finlandia, dan penggunaannya sebagai senjata pertahanan sipil menyebar pesat pada Perang Dunia II, terutama di Inggris untuk menghadapi invasi Jerman.

Sampai Perang Musim Dingin berakhir pada 13 Maret 1940, setidaknya 450.000 botol-botol koktail Molotov diproduksi di Finlandia, dan pastilah telah membakar sedemikian banyak aset-aset militer Soviet, baik tentara maupun tank. Setidaknya 363.000 tentara Soviet dan 70.000 tentara Finlandia tewas. 

Soviet memang menang, tetapi dihantui hasil akhir statistik perang yang memalukan. Soviet yang digdaya terlunta-lunta menghadapi Finlandia yang kecil dan bahkan tidak siap untuk berperang tersebut.

Pemberian nama “Bom Molotov” adalah lelucon yang diciptakan tentara Finlandia untuk mengejek Vyacheslav Molotov, Menteri Luar Negeri Uni Soviet.

Tentu saja bagi Molotov, seorang diplomat berdarah dingin dan kawan dekat Joseph Stalin ini, penyematan namanya ini merupakan sesuatu yang tidak akan bisa ia apresiasi positif, seperti ditulis oleh sejarawan Simon Sebag Montefiore dalam Stalin: The Court of the Red Star. Ironisnya, bom Molotov justru kerap digunakan oleh para demonstran anti-komunis, seperti dalam Revolusi Hungaria pada 1956.

Bom Molotov juga hadir dalam sejarah Indonesia. Ada tokoh Herman Johannes, pahlawan nasional dan Rektor Universitas Gadjah Mada (1961-1966), yang tercatat ahli dalam membuat bom Molotov dan serangkaian peledak lain dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1945-1949). 

Para demonstran di Indonesia juga kerap membawa bom Molotov dalam berbagai aksi protes, baik di masa Orde Lama, Orde Baru, juga Orde Reformasi. Bahkan Soe Hok Gie, mungkin nama tokoh demonstran paling terkenal dalam sejarah Indonesia, pernah mencetuskan aksi pelemparan bom Molotov selama masa-masa demonstrasi Tri Tuntutan Rakyat (Tritura) tahun 1966.

Api dan jihad yang terbakar

Mahasiswa menyalakan lilin saat aksi diam dan tabur bunga di kawasan Tugu Pal Putih, DI Yogyakarta, pada 16 November 2016, sebagai bentuk keprihatinan sekaligus mendoakan Intan Olivia Marbun. Foto oleh Hendra Nurdiyansyah/Antara

Bom Molotov dapat dirakit dengan sederhana. Sediakan botol berisi minyak tanah dan tutup dengan kain sebagai sumbu untuk memantik api, lalu lempar dan sasaran akan terbakar. Pembuatannya yang mudah dan murah, menjadikannya sebagai senjata favorit kaum yang lemah.

Oleh karena itu, aksi teror bom Molotov di Kalimantan seakan menggambarkan bahwa pelaku menempatkan semangat jihadnya sebagai pihak lemah yang selalu teraniaya oleh sistem keberagaman di Indonesia, bahkan menghilangkan nyawa orang lain untuk memperlihatkan eksistensi perjuangannya. Itu hal yang dungu dan keliru.

Jihad haruslah dilakukan dengan perasaan sejuk dan konstruktif, bukan berdasarkan kebencian akan perbedaan semata. Karena jihad yang dilandasi rasa benci dan sebuah bom Molotov itu memiliki kesamaan: ketika terbakar, ia hanya akan meninggalkan kerusakan. —Rappler.com

Rahadian Rundjan adalah esais, kolumnis, penulis dan peneliti sejarah. Kini berdomisili di Bogor dan dapat disapa di @RahadianRundjan.