70 warga Rohingya Myanmar tewas di Rakhine

Rappler.com
70 warga Rohingya Myanmar tewas di Rakhine

AFP

Pasukan bersenjata Myanmar telah menduduki Rakhine sejak 9 Oktober 2016.

JAKARTA, Indonesia — Aparat keamanan Myanmar telah menewaskan sedikitnya 70 orang warga Rohingya di daerah konflik Rakhine dalam serangan bulan lalu. Saat ini, mereka telah menduduki bagian utara daerah tersebut, namun mngatakan berita pembantaian dan penghancuran sebagai kebohongan.

Pasukan bersenjata telah menduduki daerah perbatasan dengan Bangladesh ini sejak 9 Oktober 2016. Hal ini dipicu serangan terhadap aparat kepolisian.

Serangan semakin meningkat pada akhir pekan lalu, di mana 30 orang terbunuh dalam waktu dua hari saja. Disebutkan oleh Agence France-Presse, tentara Myanmar menggunakan tembakan udara dari helikopter untuk pertama kalinya.

“Perburuan untuk mencari pelaku serangan ini membunuh 69 Bengalis [Rohingya] dan menangkap 234 lainnya,” demikian pernyataan resmi dari pihak militer di laman Facebook mereka pada 14 November lalu.

Militer Myanmar sendiri harus kehilangan 7 orang personel dan 1 komandan. Sedangkan pada serangan terhadap polisi, 10 orang tewas.

Mereka juga membantah pernyataan aktivis yang menuding para tentara membunuh penduduk sipil, memerkosa perempuan, dan membakar rumah. Penjagaan ketat mempersulit jurnalis asing sekaligus pengamat independen untuk memverifikasi kebenaran laporan pemerintah.

Markas militer pusat juga membantah laporan Human Rights Watch (HRW) lewat gambar satelit, yang menampilkan 3 desa terbakar, dengan kerusakan lebih dari 400 rumah. Versi militer, hanya 227 rumah terbakar, dan itupun dilakukan oleh “teroris pembakar Rohingya”.

Rakhine telah menjadi daerah konflik antara umat Buddha yang merupakan penduduk mayoritas, dengan Muslim Rohingya. Konflik berkepanjangan ini menelan korban 100 orang, dengan 100 ribu lainnya harus bermukim di pengungsian sejak 2012.

Kejadian ini sekaligus meletakkan Aung San Suu Kyi dalam masalah, karena dunia menilai ia gagal mengendalikan tindak militer negaranya. Pemenang Nobel perdamaian ini juga dikritik keras karena bungkam terhadap kesengsaraan kaum Rohingya. —AFP/Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.