Popularitas Ahok tidak tergerus status tersangka

Setelah pengumuman tersangka, pengunjung ke Rumah Lembang memang semakin membludak.

 Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menanggapi pengaduan warga di Rumah Lembang, Jakarta, Senin (14/11). Foto oleh Hafidz Mubarak/ANTARA

JAKARTA, Indonesia — Hampir sepekan berlalu sejak Bareskrim Mabes Polri menetapkan Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama sebagai tersangka dalam kasus penistaan agama. Namun, status baru ini ternyata tidak mempengaruhi popularitasnya sebagai calon gubernur DKI Jakarta 2017.

Setidaknya, hal tersebut tampak dari padatnya Rumah Lembang 27, tempat Ahok menggelar silaturahmi dengan warga. Setiap harinya, ratusan warga memadati markas tim pemenangan pasangan Ahok dan Djarot Saiful Hidayat untuk menyampaikan keluhan hingga memberikan dukungan kepada Ahok.

Seperti pada Rabu, 16 November 2016 lalu, ketika air mata tumpah di atas panggung silaturahmi. Mukti, seorang supir taksi, bergegas menuju Rumah Lembang begitu mengetahui Ahok menjadi tersangka dari siaran berita stasiun televisi. “Saya sayang sama dia, karena Ahok menolong keluarga saya. Tolong Pak Ahok tetap berjuang,” kata dia sembari mengusap air matanya.

Pria yang tinggal di Pejaten Barat, Jakarta Selatan, tersebut mengaku mendapatkan banyak kemudahan setelah ahok menjabat. Pertama, fasilitas Kartu Jakarta Pintar (KJP) untuk putra bungsunya, dan asuransi BPJS Penerima Bantuan Iuran untuk tiga anaknya yang lain.

Warga lain dari Matraman, Aminah, juga menangis saat berkesempatan bicara di hadapan Ahok. Selama dua tahun kepemimpinannya, ia juga merasakan banyak perubahan.

“Jakarta akhirnya disiplin, sudah gak banjir lagi, rakyat kecil juga dibiayai rumah sakit. Ini fakta yang bicara,” kata dia. Seperti Mukti, Aminah pun tak percaya kalau status tersangka harus disandang gubernur non-aktif ini.

Semangat keduanya juga dirasakan oleh ratusan pendukung lainnya, yang tak henti-hentinya bersorak mendukung dan memadati Rumah Lembang. Berbagai ungkapan yang menginginkan Ahok tetap melaju di Pilkada DKI Jakarta 2017 pun kerap muncul dari puluhan orang yang berbicara di atas panggung, dari warga hingga artis.

Puncaknya adalah saat seorang kakek berusia 89 tahun berbicara pada Senin, 21 November 2016. Ia meminta Ahok tetap bersabar dengan kondisinya saat ini.

“Saya tetap berharap bapak terpilih lagi menjadi Gubernur DKI 2017,” kata Abdul Muis, yang disambut sorakan dan tepuk tangan pendukung lainnya.

Kepada seluruh pendukungnya, Ahok selalu berterima kasih. Ia pun bertekad untuk lebih berhati-hati saat bicara, agar tak ada lagi ucapannya yang membawa masalah.

“Saya mendengarkan nasehat dari rekan-rekan. Memang saya harus memperbaiki sikap, ucapan, kata-kata supaya tidak menyinggung pihak lain. Saya sudah diberi tahu,” kata dia.

Lebih lanjut, ia meminta dukungan dan bantuan doa dari pendukungnya supaya bisa terus menjadi pribadi yang lebih baik.

Memunculkan simpati

Anggota tim sukses Ahok dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Ivanhoe Semen mengatakan, setelah pengumuman tersangka, pengunjung ke Rumah Lembang memang semakin membludak.

“Karena ada unsur simpati, kasihan Pak Ahok jadi tersangka. Mereka jadi mau bersuara,” kata dia. Menurutnya, status tersangka tidak lantas menurunkan elektabilitas Ahok.

Bahkan, setelah ditetapkan tersangka, Ahok justru menyatakan ia yakin menang satu putaran.

Meski demikian, survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA berkata lain. Pasangan Ahok-Djarot justru berada di posisi bontot dengan angka 10,6 persen. Peneliti LSI Denny JA Ardian Sopa mengatakan penetapan tersangka sangat berpengaruh. Sebelumnya, elektabilitas pasangan ini 24,6 persen.

Hasil survei terhadap 440 orang ini juga mencatat 73,2 persen responden menilai ucapan Ahok terkait surah Al-Maidah ayat 51 sebagai suatu kesalahan.

Meski demikian, kubu Ahok-Djarot tidak terlalu ambil pusing soal kemerosotan elektabilitas ini. “Kalau LSI kan begitu, dari dulu waktu saya awal maju,” kata Ahok.

Lebih lanjut, ia mengatakan hasil ini dapat menjadi pelecut bagi tim pemenangan untuk bekerja lebih keras. Targetnya, memenangkan Pilkada DKI Jakarta dalam satu putaran.

Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah PDIP DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi mengatakan, partainya berkaca dengan hasil Pilkada 2012. Saat itu, berbagai hasil survei menunjukkan pasangan Jokowi-Ahok bukan sebagai unggulan. Faktanya, justru mereka keluar sebagai pemenang.

Gerilya diam-diam

Salah satu harapan lain dari tim pemenangan Ahok adalah warga yang mendukung dalam diam. Mereka tidak datang ke Rumah Lembang, ataupun berkoar-koar di media sosial. Gerakan mereka lakukan dalam lingkup internal, seperti terhadap keluarga atau tetangganya.

Seperti Dewi, seorang ibu berusia sekitar 40-an yang ditemui Rappler di Rumah Lembang. Ia mengatakan, banyak rekannya yang memilih tidak menemui langsung Ahok-Djarot, tetapi mereka bergerak lewat grup WhatsApp, hingga mempromosikan Ahok ke tetangga.

“Yang kayak begini cukup banyak, mereka memang tidak koar-koar, tapi ya gerak terus,” kata dia. Dewi menolak menyebut nama lengkap maupun tempat tinggalnya.

Anggota tim pemenangan Ahok-Djarot Bestari Barus juga mengatakan hal serupa. “Gerakan bawah tanah makin kencang. Tadinya mereka mungkin hanya mendukung keluarga saja, sekarang ajak orang,” kata dia.

Pendukung Ahok, lanjutnya, lebih banyak yang berdiam diri meski gejolak penolakan tengah riuh-riuhnya. Hal terpenting bukanlah apa yang terjadi sekarang, melainkan nanti, saat di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Tentu saja, Ahok dan tim relawan serta partai pengusungnya masih memiliki waktu hingga Februari 2017 mendatang untuk menaikkan elektabilitas. Tim sukses juga sudah menasehati Ahok untuk lebih menjaga ucapannya supaya tidak disalahartikan.

Apakah upaya ini akan menghasilkan kemenangan satu putaran? Warga DKI Jakarta akan menjawabnya tahun depan.—Rappler.com