Megawati: Partai pendukung pemerintah harusnya usung calon yang sama dalam Pilkada

Rappler.com
Megawati datang menemui Jokowi di Istana dalam kapasitasnya sebagai Presiden RI ke-5, bukan Ketua Umum PDIP

Presiden Jokowi dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menjawab pertanyaan jurnalis di Istana Merdeka, pada 21 November 2016. Foto dari Setkab.go.id

JAKARTA, Indonesia — Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri mengunjungi Presiden Joko “Jokowi” Widodo di Istana Negara, pada Senin, 21 November.

Dalam pertemuan tersebut, keduanya membicarakan tentang isu nasional yang sedang hangat saat ini, di antaranya pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2017.

“Kami juga berbicara hal yang berkaitan dengan Pilkada. Pilkada ini ada di 101 kabupaten, kota, dan provinsi, bukan hanya di Jakarta,” kata Jokowi dalam konferensi pers usai pertemuan.

“Menang atau kalah dalam Pilkada itu adalah sesuatu yang biasa. Yang paling penting antarkandidat itu harus saling menghormati, saling menghargai karena kita ini adalah bersaudara,” ujarnya.

Isu seputar Pilkada DKI Jakarta menghangat dalam beberapa waktu belakangan setelah Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama dituding telah melakukan penistaan agama Islam. Cuplikan video Ahok mengutip surah Al-Maidah ayat 51 beredar di media sosial dalam pidatonya di hadapan warga Kepulauan Seribu pada September lalu.

Gubernur petahana itu dituduh telah menghina agama Islam. Ribuan umat Muslim turun ke jalan pada 14 Oktober meminta Ahok diproses hukum, dilanjutkan dengan Aksi Bela Islam jilid II pada 4 November lalu.

Setelah melalui penyelidikan di Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, Ahok lalu ditetapkan sebagai tersangka kasus penistaan agama pada 16 November. Ia tidak ditahan, namun dilarang bepergian ke luar negeri.

Gerakan Nasional Pembela Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI), selaku koordinator demonstrasi, berencana kembali menggelar Aksi Bela Islam jilid III pada 2 Desember mendatang.

Menanggapi situasi terkini, Megawati yang mengatakan kapasitasnya berbicara sebagai Presiden RI ke-5, bukan sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan, mengatakan bahwa Indonesia adalah negara hukum di mana warganya harus patuh.

“Pilkada ini kan sudah berjalan sejak dulu. Hanya sekarang ini ada sebuah hal, yang menurut saya, itu justru dibuat sedemikian rupa yang membesarkan satu Pilkada di Jakarta. Seharusnya kita sendiri menjaga,” kata Megawati. 

“Kalau saya perhatikan pada 4 November kemarin, itu kelihatan sekali bahwa banyak mereka yang tidak mengerti yang dibawa untuk ikut serta. Lalu dikatakan kalau sejak awal sudah damai, di ujungnya semua juga melihat ada yang berupaya justru menjadi tidak baik,” ujarnya.

Aksi Bela Islam jilid II lalu diikuti oleh ratusan ribu umat Muslim, bukan hanya dari Jakarta dan sekitarnya, tapi juga dari luar daerah. Demonstrasi yang dimulai usai menggelar salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, itu berjalan dengan damai hingga petang.

Sempat terjadi kerusuhan di depan Istana Merdeka menjelang pukul 20:00 WIB. Polisi kemudian menembakkan gas air mata ke arah demonstran, yang dibalas dengan pembakaran mobil aparat.

Jokowi kemudian menggelar konferensi pers pada tengah malam. Pada kesempatan itu ia mengatakan, kericuhan terjadi karena “ditunggangi oleh aktor-aktor politik” meski tidak merinci siapa yang dimaksud.

Hal tersebut ia kembali ungkapkan setelah pertemuan dengan Megawati hari ini.

“Sebetulnya dalam setiap Pilkada, biasa di mana-mana pasti suhunya hangat. Dinamikanya pasti lebih tinggi dari keadaan normal biasa. Sehingga ini juga dinamika biasa. Tetapi ada yang menunggangi untuk kepentingan-kepentingan yang lain, ada aktor-aktor politik yang memanfaatkan situasi. 

“Buat saya seperti itu biasa saja. Tetapi yang penting sekali lagi, jangan merugikan NKRI. Jangan melemahkan Bhinneka Tunggal Ika kita. Jangan apalagi merongrong Pancasila. Prinsipnya itu saja,” ujarnya.

Jokowi akan bertemu para ketua umum parpol

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (kanan) bertemu dengan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto (kiri) sebelum menggelar pertemuan di Jakarta, pada 20 November 2016. Foto oleh Akbar Nugroho Gumay/Antara

Demi menjaga agar situasi tetap kondusif selama musim kampanye ini hingga hari pemilihan pada 15 Februari 2017, Jokowi mengatakan ia akan melakukan safari politik. 

“Saya juga meminta ke Presiden nanti ada pertemuan antara ketua umum [partai politik]. Seperti kemarin kan saya bertemu dengan Ketum Partai Golkar. Lalu mungkin beberapa hari ini saya akan bertemu dengan beberapa juga partai pendukung presiden. Itulah permintaan saya pada beliau,” kata Megawati.

Megawati telah mengadakan pertemuan dengan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto pada Minggu, 20 November, untuk membahas isu ini.

PDIP dan Golkar merupakan partai-partai yang mendukung pencalonan Ahok di Pilkada 2017, di samping Partai Nasdem dan Partai Hanura.

Situasi politik saat ini sendiri sudah berubah sejak pencalonan Jokowi sebagai presiden pada 2014 lalu. Partai-partai yang dulu berseberangan kini telah berubah haluan, seperti Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Kini mereka telah mengumumkan akan mendukung presiden dalam pemerintahan.

Namun, dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, ketiga partai tersebut mengusung kandidat yang berbeda dari PDIP. Mereka mendukung pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni bersama Partai Demokrat.

“Saya kemarin bertemu dengan Pak Nov [Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto], sebagai partai yang masuk belakangan, tentunya juga harus bisa memperkuat jalannya pemerintahan,” kata Megawati. 

“Begitu juga tentunya bagaimana dengan PAN, PPP, PKB, yang dewasa ini kalau kita mengetahui mereka mengikuti Pilkada dengan pencalonan yang berbeda. Padahal pada waktu-waktu yang lalu sebetulnya saya sudah mengatakan bahwa baiknya ya kalau tadinya sudah bersatu di dalam sebuah penguatan di pemerintahan, ya seharusnya juga di dalam pilkada-pilkada yang ada kita bisa bersama-sama,” ujarnya. 

“Tetapi adalah hak partai untuk menentukan hal-hal seperti itu.”

Ketika ditanya wartawan apakah akan bertemu dengan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang juga merupakan Ketua Umum Partai Demokrat, Jokowi hanya menjawab, “Ya, nanti semuanya akan kita atur”.

Jokowi sendiri telah bertemu dua kali dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Pertama di kediaman pribadi mantan rivalnya pada Pemilihan Presiden 2014 lalu di Hambalang, Jawa Barat, pada 1 November. Berikutnya Prabowo —pemimpin Koalisi Merah Putih yang merupakan oposisi pemerintah— yang mengunjungi Jokowi di Istana pada 17 November.—Rappler.com