Mixed Martial Arts

Pemerintah Belanda tawarkan bantuan dana untuk rawat Kota Lama di Semarang

Kunjungan PM Mark Rutte juga dimanfaatkan oleh Pemprov Jawa Tengah untuk menawarkan produk kopi khas Indonesia yang selama ini sulit tembus ke pasar Eropa

BERKUNJUNG. Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte mengenakan kemeja putih berjalan untuk meninjau beberapa bangunan bersejarah di Kota Lama, Semarang pada Selasa, 22 November. Foto oleh Fariz Fardianto/Rappler

SEMARANG, Indonesia – Selain tertarik dan sudah meneken nota kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Indonesia dalam penanggulangan banjir rob, Pemerintah Belanda kini juga melirik kerjasama pengelolaan bangunan tua dan bersejarah. Keinginan itu terungkap ketika Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte mengunjungi area kota lama yang ada di Semarang, Jawa Tengah pada Selasa, 22 November.

Rutte mengaku kagum dengan keunikan gedung tua di sana, karena tetap mampu berdiri kokoh walau sudah berusia lebih dari seabad. Baginya, kota tua menyimpan banyak nilai historis antara Indonesia dan Belanda pada masa lampau, sehingga dia menawarkan bantuan dana untuk merawat setiap bangunannya.

“Kami tadi bersepakat untuk mengelola Kota Lama,” ujar Rutte yang tiba di Semarang sejak hari Senin, 21 November.

Ketertarikan Rutte terhadap Kota Lama, dia wujudkan dengan meninjau beberapa bangunan di Semarang. Dengan mengenakan setelan kemeja putih yang dipadukan celana kain hitam, Rutte tidak mampu menyembunyikan kekagumannya terhadap bangunan di area itu.

Ditemani rombongan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuldjono, Rutte memulai tur kota tuanya dengan menyambangi Gereja Protestan Imannuel atau Gereja Blenduk yang berdiri di jantung Kota Lama. Pendeta Gereja Blenduk, Ellen Luhulima dan Wakil Walikota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu menyambut Rutte yang ingin melihat kecantikan desain interiornya.

Lantunan suara penyanyi keroncong menggema di seluruh ruangan begitu rombongan Rutte masuk ke gereja. Perdana Menteri yang berusia 47 tahun itu berulang kali mengabadikan sebuah altar raksasa berusia ratusan tahun.

Dia mengaku takjub dengan apa yang disaksikannya di Kota Lama. Bangunan itu menjadi saksi bisu sejarah panjang antar dua negara yang patut dilestarikan dengan baik.

“Sangat bagus dan benar-benar terawat,” katanya saat melangkahkan kakinya menuju Gedung Galery Semarang Art yang menyimpan aneka ragam benda seni karya seniman lokal.

Beberapa warga yang tinggal di kawasan tersebut, ikut menyambut kunjungan rombongan Rutte. Komunitas pegiat wisata Semarang bahkan menggelar ajang pameran seni rupa bertajuk Risjterfist di Oudertrap yang berlokasi di belakan Gereja Blenduk.

Panitia sengaja mempercantik Taman Srigunting dengan ratusan payung yang digantung pada seutas tali serta pameran foto yang menampilkan keindahan Kota Lama.

Salah seorang warga, Indri Handayani, mengaku cukup bangga dengan kedatangan rombongan Rutte. Dia mengatakan kunjungan dari seorang kepala pemerintahan Belanda ke kawasan Kota Lama Semarang menjadi sebuah kehormatan.

“Saya senang ada PM Belanda berarti dia memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pelestarian gedung-gedung tua,” ujar Indri ketika ditemui Rappler.

Tawarkan kopi khas Indonesia

TAWARKAN KOPI. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo (kanan) tengah mendampingi Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte yang ingin berkunjung ke Kota Lama Semarang pada Selasa, 22 November. Foto oleh Fariz Fardianto/Rappler

Sementara, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang turut mendampingi Rutte ikut menawarkan kerjasama ekspor kopi khas Indonesia kepada Pemerintah Belanda.

“Saya tawarkan kalau (Indonesia) memiliki kopi, lalu Dubesnya memberikan nomor kontaknya. Selama ini kami kesulitan untuk menembus pasar Eropa. Kami perkuat kerjasamanya melalui G to G,” ujar Ganjar.

Namun, Ganjar mengatakan yang menjadi prioritas saat ini adalah penanggulangan banjir rob terlebih dahulu.

“Kami sudah melihat Polder Banger, Kota Lama kemudian ada investasi. Mereka memiliki manajemen air dan energi. Alatnya pun tersedia,” kata politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu.

Pertemuan dengan Pemerintah Belanda pada Selasa kemarin menghasilkan beberapa kesepakatan di beberapa tingkatan. Kepala Disbudpar Jawa Tengah, Prasetyo Aribowo menjelaskan salah satu kesepakatan yang berhasil dijalin yakni penguatan sumber daya permuseuman dengan Belanda.

Sebenarnya, kata Prasetyo, sudah ada kerjasama antara Museum Bronbeek di Kota Arnhem dengan museum di Semarang.

“Tapi kali ini kami kuatkan lagi dengan penandatanganan MoU. Salah satunya, mereka meminta kami untuk memberikan pelatihan untuk meningkatkan konten media dan pelatihan kuratornya,” ujar Prasetyo.

Sementara, Indonesia meminta agar Belanda bisa memberikan fasilitas revitalisasi manajemen permuseuman, supaya museum punya alur yang baik dan koleksinya bisa ditambah.

“Kami akan meminta beberapa duplikat benda seni milik Bangsa Indonesia yang disimpan di Belanda. Apalagi, Pak Ganjar sudah datang ke Museum Bronbeek untuk meminta duplikat keris, pakaian militer dan sejumlah arsip sejarah yang notabene memang milik Bangsa Indonesia,” tutur dia.

Selain itu, Pemprov Jateng juga tertarik kepada koleksi lukisan kuno karya maestro pelukis Raden Saleh, tumpukan arsip sejarah serta pakaian perang era perjuangan Pangeran Diponegoro.

“Jumlahnya ada banyak (yang disimpan) dan kota minta sebagian biar disimpan di museum Semarang, mulai arsip, keris dan lukisan,” kata dia. – Rappler.com