Memupuk toleransi di sekolah Purwakarta

Yuli Saputra
Memupuk toleransi di sekolah Purwakarta
SMP 1 Negeri Purwakarta menyediakan ruang ibadah untuk semua pemeluk agama. Cikal bakal toleransi.

Bandung, Indonesia – Yuranda Yacob Pesa Gambe menyatukan kedua tangannya dalam genggaman, meletakkan di depan dada, lalu perlahan memejamkan mata.  

Di depannya, di atas sebuah meja, berdiri patung Bunda Maria, berdampingan dengan alkitab dan salib kecil. Di belakang meja, patung Yesus Kristus berukuran cukup besar ‘bersandar’ di dinding.

Gadis berusia 13 tahun itu kemudian larut dalam hening. Kalimat doa dan puji syukur atas hari baru yang membawa kesegaran dan semangat terdengar lirih dari mulutnya.  

Hari itu Yuranda tak sedang berdoa di gereja, melainkan di salah satu ruang di SMP Negeri 1 Purwakarta. Di sekolah ini, murid beragama katolik memiliki gereja sendiri.

Gereja tersebut tak lain ruang kelas yang disulap menjadi ruang ibadah. Meski fasilitas ibadahnya tak selengkap di gereja, namun Yuranda bahagia.

Sebab gereja mini ini merupakan bentuk  pengakuan sekolah —yang mayoritas muridnya beragama Islam— terhadap agamanya. “Saya merasa lebih diakui,” kata Yuranda kepada Rappler, pekan lalu.

Menurut siswa kelas 8 ini keberadaan ‘gereja mini’ di sekolahnya membuat ia bisa lebih sering berinteraksi dengan Tuhan. “Bisa berdoa bersama kakak kelas,” katanya.

Di SMP Negeri 1 Purwakarta ada 18 murid beragama Katolik, termasuk Yuranda. Setiap Jumat pagi mereka berdoa di ruang yang telah disulap menjadi gereja mini. 

Tak hanya gereja mini, sekolah yang terletak di jalan Kolonel Kornel Singawinata ini juga menyediakan ruang ibadah untuk murid beragama Kristen Protestan, Hindu, Budha dan —tentu saja— Islam.

Setiap Jumat pagi semua murid berdoa di ruang-ruang yang telah disulap menjadi ruang ibadah. Bahkan siswa pemeluk agama Budha yang hanya satu orang pun memiliki ruang ibadah.

Ni Putu Trisna Ayu, siswi pemeluk agama Hindu, sangat senang dengan kebijakan sekolah menyediakan ruang ibadah untuk agamanya, meskipun pemeluk Hindu di sekolah ini hanya 2 orang. 

Siswa dan siswa beragama Hindu mendapatkan ruang ibadah di SMP Negeri 1 Purwarkarta. Foto oleh Agung Fatma.

Sebab, biasanya Ayu harus keluar kelas saat pelajaran agama Islam, kini ia bisa melakukan ibadah khusus agama Hindu di ruangan yang telah disediakan. Ia tak lagi merasa diasingkan.   

“Bagus, jadi bisa ibadah di sekolah, belajarnya jadi  lebih tenang. Mama bilang kalau sudah dikasih ruangan harus rajin sembahyang. Jadi aku tiap hari nyempetin sembahyang,” kata gadis berambut ikal itu.

Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Purwakarta Heri Wijaya mengatakan penyediaan ruang ibadah bagi siswa-siswi nonmuslim ini tak lepas dari surat edaran Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi tentang kebebasan menjalankan ibadah bagi semua pemeluk agama.

Tak hanya menyediakan tempat ibadah, Bupati Dedi juga meminta SMP Negeri 1 Purwakarta yang menjadi pilot project ‘proyek’ ini juga menyediakan guru rohani untuk setiap agama. 

Kebijakan ini, antara lain, untuk menumbuhkan sikap toleransi di antara siswa, sesuatu yang menurut Dedi sudah mulai luntur dalam beberapa tahun terakhir. 

“Kalau soal toleransi, kami sudah toleransi dari dulu. Cuma sekarang bukan hanya ruang, tapi Pak Bupati juga akan memberikan gurunya,” kata Heri Wijaya kepada Rappler.

Heri mengatakan di sekolahnya ada 1233 siswa. Sebanyak 48 orang di antaranya adalah nonIslam. Mereka terdiri dari 27 siswa Kristen Protestan, 18 Katolik, 2 Hindu, dan 1 Budha.  

Kebijakan menyediakan tempat ibadah untuk setiap agama membuat para siswa nonmuslim tersebut lebih bisa merasakan kebebasan beribadah. Selain itu siswa muslim pun bisa mengenal tata cara ibadah agama lain.

Hal ini, menurut Heri, bisa mendongkrak rasa toleransi dan pemahaman tentang keberagaman. “Siswa pemeluk agama Kristen dan Katolik bisa nyanyi untuk berdoa dengan leluasa. Mereka juga bisa bebas mendekorasi ruang ibadahnya masing-masing,” kata Heri.

Bupati Dedi Mulyadi saat meninjau langsung ruang ibadah di SMP 1 Negeri Purwakarta. Foto oleh Agung Fatma.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengatakan kebijakan menyediakan tempat ibadah untuk semua pemeluk agama di sekolah berangkat dari kekhawatirannya terhadap menipisnya rasa toleransi.

“Intoleransi itu muncul setelah banyak yang ke luar negeri,” kata Dedi Mulyadi saat berbincang dengan Rappler di rumah dinasnya di Purwakarta, pekan lalu.

Mereka yang datang dari luar negeri itu, Dedi melanjutkan, membawa organisasi, kelompok, dan paham masing-masing. “Munculah intoleransi,” katanya.  

Dengan disediakannya ruang ibadah bagi semua agama di sekolah, Dedi berharap sikap toleransi akan tumbuh di hati para siswa dan siswi. 

Selain itu, Dedi juga berharap ruang-ruang ibadah di sekolah juga bisa membuat para siswa dan siswi ngeh tentang betapa pentingnya kesetaraan dalam beribadah. “Ke depannya, tidak ada lagi diskriminasi,” Dedi melanjutkan.

Ia percaya  murid-murid sangat toleran. Mereka, Dedi mencontohkan, bisa duduk sebangku dan tetap akur dengan teman meskipun mereka berbeda keyakinan agamanya. “Yang galak-galak itu di luar mereka, yang kemudian mencoba mengajarkan doktrin (intoleransi) pada generasi muda,” kata Dedi. 

Dedi, tentu saja, tak menyebut siapa ‘mereka’ yang ia maksud. Namun sepertinya kita mafhum siapa yang dimaksud Dedi. —Rappler.com

 

Add a comment

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.