‘No Shave November’ dan lebatnya masa lalu berewok

Rahadian Rundjan
Di kalangan aktivis sosial dan kaum lelaki, bulan November identik dengan gerakan ‘No Shave November’

No Shave November bertujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap kanker. Gambar dari no-shave.org

Terima kasih harus disematkan kepada internet, karena berkatnya aksi-aksi sosial dapat digemakan secara viral. Selain ice bucket challenge yang sempat tenar pada medio 2014-an, pada November setiap tahunnya juga ada aksi sosial No Shave November. Kini tingkat kesadaran masyarakat dunia, utamanya di kalangan anak-anak muda melek internet, terhadap bahaya kanker semakin meningkat. 

Sederhananya, No Shave November bertujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap kanker, yang penderitanya biasanya akan kehilangan rambut mereka selama pengobatan, dengan cara tidak mencukur rambut di kepala dan wajah selama bulan November. Biaya perawatan rambut yang tidak terpakai inilah yang akan disumbangkan untuk mendukung riset kanker.

Maka jangan heran jika populasi laki-laki berberewok bertambah sekejap selama bulan ini, tidak hanya di belahan dunia Barat tempat lahirnya gerakan aksi sosial ini, namun juga di Jakarta. Tentu saja selain berewok, yang jarang ditemukan tumbuh secara alami di wajah laki-laki Indonesia, menumbuhkan cambang, kumis, dan janggut pun termasuk dalam hitungan.

Melalui No Shave November, berewok memiliki makna kontemporernya. Dan layaknya tradisi sosial kebanyakan, menumbuhkan berewok memiliki dinamika sejarahnya tersendiri. 

“Meneliti berewok adalah jalan untuk mencari, menjelaskan perubahan dan macam-macam gagasan tentang kedewasaan dalam sebuah masa dan melewati waktu,” kata sejarawan Christopher Oldstone-Moore dalam bukunya, Of Beards and Men: The Revealing History of Facial Hair.

Salah satu faktor yang membuat Presiden Amerika Serikat ke-16, Abraham Lincoln, terkenal adalah berewoknya. Foto dari Wikimedia

Misalnya, satu hal ikonik yang paling dikenang dari Abraham Lincoln, presiden Amerika Serikat ke-16 (1861-1865), selain kelihaian memimpin AS dalam Perang Saudara dan kebijakan penghapusan perbudakannya adalah berewoknya. Untuk hal itu, ia harus berterima kasih kepada Grace Bedell, gadis berusia 11 tahun yang menyarankan kepada Lincoln untuk menumbuhkan berewoknya saat ia masih berkampanye untuk menjadi presiden pada 1860. 

Wajah Lincoln yang klimis memang terlihat tirus dan memelas. Meski awalnya menganggap saran Grace konyol, toh akhirnya Lincoln mencobanya. Ternyata manjur. Berewok Lincoln menambah kharisma dan kegagahannya di mata masyarakat Amerika, dan ia pun terpilih sebagai presiden.

Lincoln hanya serpihan kecil kisah romansa antara laki-laki dengan berewoknya. Setidaknya sejak zaman primitif dengan kehidupannya yang keras, laki-laki sudah memasang berewok untuk menghangatkan dan melindungi mulut mereka dari debu dan kotoran alam liar. Selain itu, berewok juga membuat rahang terlihat lebih kokoh dan intimidatif, cocok untuk membuat gentar orang asing.

Dalam peradaban-peradaban kuno, berewok menjadi bagian dari gaya hidup laki-laki. Ia mulai diwarnai agar terlihat indah, misalnya warna hitam di Assiria dan oranye di Persia. Begitu pula di Yunani, para pesakitan akan dicukur berewoknya sebagai hukuman. Image Tuhan, dewa-dewa, pun mulai digambarkan sebagai laki-laki tua dengan berewok lebat, sebuah personifikasi kebijakan dan kebajikan yang tertinggi.

Selama masa Kekaisaran Romawi, kaum laki-laki Roma biasanya mencukur tipis berewok mereka, salah satu fungsinya untuk membedakan diri dengan kaum budak dan barbar. Sedangkan di abad Pertengahan, kaum ksatria menumbuhkan berewok sebagai simbol kehormatan dan status sosial. Sebaliknya, para pemuka agama Kristen bercukur klimis sebagai syarat hidup selibat.

Di masa Renaissance Eropa, menumbuhkan berewok dapat membuat seseorang dikenakan pajak, seperti Inggris pada masa raja Henry VIII dan Ratu Elizabeth di abad ke-16, juga Peter yang Agung di Rusia (1682-1725). 

Baru di pertengahan akhir abad ke-19, berewok kembali populer di kalangan pemimpin Eropa, seperti Alexander III (Rusia), Napoleon III (Prancis), dan Frederick III (Jerman), serta beberapa tokoh historis lain seperti Karl Marx (filsuf), Charles Dickens (penulis), Giuseppe Garibaldi (negarawan), Charles Darwin (naturalis), Arthur Nikisch (komposer), dan lain-lain.

Kedatangan Islam ke Nusantara dan penyebarannya yang pesat di abad ke-15 membuat masyarakat Muslim yang baru ini juga berkeinginan untuk meniru menumbuhkan berewok seperti para saudara-saudara seimannya di Arab, dan juga untuk menunjukkan kesalihan mengikuti sunnah Nabi Muhammad; tren yang sampai saat ini masih dapat ditemukan di Indonesia.

Presiden RI pertama, Soekarno, berfoto bersama mantan Presiden Kuba, Fidel Castro. Foto dari Wikipedia

Soekarno punya satu kisah sendiri, seperti ditulis Guntur Sukarno dalam Bung Karno & Kesayangannya. Soekarno memang berkawan baik dengan Fidel Castro dan Che Guevara, namun ada satu hal yang Soekarno tidak sukai dari duo revolusioner Kuba tersebut: berewok mereka. Menurut Soekarno, berewok justru menutupi ketampanan wajah keduanya, bahkan menurutnya hal itulah yang membuat Castro kesulitan meminang istri.

Namun sepertinya pernyataan ini hanyalah pelampiasan seorang Soekarno, yang di masa mudanya pernah mengidamkan memiliki kumis ala aktor kenamaan Hollywood era 1920-an, Norman Kerry. Masalahnya, setelah berusaha ditumbuhkan malah kumis ala Charlie Chaplin yang Sukarno dapatkan. Sejak saat itu, definisi tampan dan gagah bagi si bung besar adalah wajah klimis.

Berewok merupakan simbol dari kaum budaya tandingan dimulai dari tahun 1950-an, contohnya seperti yang dipopulerkan dalam budaya hippies di tahun 1960-an dan hipster di masa kini. Bahkan, sejarawan Alun Whitley mengatakan bahwa berewok hipster, yakni berewok lebat ala penebang kayu akan, menjadi gaya facial hair yang mendefinisikan generasi ini [2010-an].”

Berewok bukan hanya pajangan, ada makna yang erat dengan ide maskulinitas, mode, dan ego kaum adam. Mungkin makna berewok akan bertransformasi lagi di masa depan, dan seperti No Shave November, semakin lebat pula jejak yang akan ditinggalkannya dalam sejarah. —Rappler.com

Rahadian Rundjan adalah esais, kolumnis, penulis dan peneliti sejarah. Kini berdomisili di Bogor dan dapat disapa di @RahadianRundjan.