DENPASAR, Indonesia – Perkembangan teknologi informasi yang pesat di abad milenium ini, rupanya tidak mematikan tradisi mengirimkan surat. Setidaknya itu bisa terlihat dari besarnya antusiasme para pengunjung Bali Philately Exhibition (Baliphex) yang digelar pada 22-26 November di Kantor Pos Renon, Denpasar.
Di sesi pembukaan yang dilakukan pada Selasa pekan lalu, panitia menggelar workshop khusus untuk kalangan pelajar. Sebagian peserta mengaku datang karena penasaran dengan keberadaan prangko yang digunakan sebagai tanda pengiriman surat sudah lunas.
“Saya tahu prangko untuk surat menyurat malah dari acara ini (Baliphex),” ujar Abdul Hamid, siswa kelas 1 SMA Saraswati 1 Denpasar yang berusia 15 tahun dan ditemui pada Selasa, 22 November.
Siswa lainnya, Riskhi Pratiwi mengatakan, dia tertarik mengetahui prangko karena di masanya sudah tak lagi mengalami komunikasi tersebut.
“Saya hidup dalam komunikasi internet, WhatsApp, dan Facebook. Ternyata ada prangko untuk surat-menyurat, gambar-gambarnya juga bagus,” kata dia.
Di bagian akhir pameran, panitia menggelar talkshow bertema “Imaji Bali” di Taman Baca Kesiman, Denpasar. Ketua Komunitas Filateli Kreatif Indonesia Bali-Nusa Tenggara, Anak Agung Ayu Daninda, mengulik kembali sejarah prangko di dunia.
Berdasarkan catatan sejarah yang dia miliki, prangko pertama muncul di Inggris pada tahun 1840 dan dicetuskan oleh Sir Rowland Hill. Prangko itu dikenal dengan nama The Penny Black.
Lalu, di tahun 2000, prangko perlahan-lahan mulai mengalami perubahan, dari nilai guna menjadi komodifikasi.
“Kit mengenal e-mail (surat elektronik) dan pesan pendek SMS, sehingga prangko menjadi tidak lagi penting. Aksesnya hanya di kalangan kolektor saja untuk diperjualbelikan,” ujar Ayu pada Sabtu, 26 November.
Padahal, prangko bukan hanya sekedar penanda pengiriman surat sudah lunas. Melainkan juga medium belajar bagi generasi muda mengenai perjalanan sejarah sebuah bangsa.
Dia mengaku prihatin melihat intensnya generasi saat ini dengan teknologi, sebab pelan-pelan mengikis penghayatan sebuah komunikasi.
“Tulisan tangan seseorang adalah sesuatu yang khas seperti mendengar suaranya. Sekarang, kekhasan itu hilang, karena kita bisa memilih font apa saja,” katanya.
Selain itu, pola komunikasi digital yang sangat cepat dalam jejaring internet juga membuat informasi yang diterima menjadi kurang berkesan. Oleh sebab itu, proses surat menyurat sebenarnya lebih memberi respons yang kuat terhadap ingatan.
“Kalau teknologi canggih, berkomunikasi langsung saat ini dan di sini. Tetapi, surat-menyurat memberi jeda untuk merespons pesan secara tertulis cetak, sehingga menarik diulang-ulang membacanya,” kata dia lagi.
Prangko sebagai alat perjuangan

Di acara yang sama, perupa Alit Ambara menjelaskan soal pemaknaan desain visual dalam prangko-prangko bertemakan Bali. Menurut Alit, sejak dulu, Bali digambarkan lewat sebuah konstruksi kolonial.
“Imaji tentang Bali digambarkan melalui penari, kedamaian dan eksotisme,” ujar Alit.
Dia mengambil contoh saat gerakan perlawanan menolak reklamasi Teluk Benoa dimulai, visual digunakan sebagai alat perjuangan Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI).
“Saya membuat poster memakai elemen yang sudah dikenal, penari Bali (perempuan) dan ternyata cukup berhasil membangun kesadaran gerakan lebih luas,” tuturnya.
Namun, elemen konvensional imaji mengenai penari perempuan Bali kerap menjadi dikotomi pertentangan di dalamnya. Sebab, orang memahami gambar tentang Bali dengan kondisi saat ini.
“Gerakan yang dilakukan bisa kita catat, bukan hanya dalam bentuk tulisan, tetapi prangko pun juga bisa menjadi narasi sejarah,” katanya.
Maka, dia menciptakan desain prangko dengan desain visual Bali Tolak Reklamasi yang membuat ketertarikan baru. Dia berharap, prangko itu bisa diterbitkan secara resmi oleh negara. Alasannya, untuk merekam bagaimana dinamika sosial Bali.
Peneliti lontar, Sugi Lanus membahas mengenai sewala patra, yakni tradisi surat-menyurat dalam masyarakat Bali. Dia berkisah ada sebuah tradisi surat-menyurat yang menarik di Bali pada tahun 1811.
“Pada 25 Februari 1811, surat-menyurat antara Raja Buleleng dengan Sir Thomas Stamford Raffles meminta berbagai cinderamata di antaranya kamera,” kata Sugi.
Namun, di era itu, ketika surat-menyurat belum ada prangko. Maka, Raja Buleleng kemudian mengirim dua orang abdi kerajaan untuk mengantar surat secara langsung.
“Dua orang itu sekaligus menjalani pendidikan dengan Raffles agar mengerti diplomasi. Itu adalah bukti resmi, bahwa melalui kedua orang itu menempel ibarat prangko,” tutur Sugi.
Acara Baliphex 2016, baginya bisa menjadi sebuah momentum untuk mengembalikan ingatan tentang kebudayaan.
“Pemaknaan terpenting, orang Bali mampu melihat bahwa prangko masih memberi nyawa untuk menjadi sebuah diplomasi kebudayaan,” katanya. – Rappler.com
There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.