Dunia maya membuka pintu bagi anak muda sebagai pembela hak asasi manusia

Abdul Qowi Bastian
Dunia maya membuka pintu bagi anak muda sebagai pembela hak asasi manusia
Meski saat Munir dibunuh 12 tahun lalu, anak-anak muda sekarang mempelajari tentang kasusnya dan ikut berpartisipasi aktif

BANGKOK, Thailand  — Munir Said Thalib dibunuh dengan racun arsenik yang dituangkan ke dalam minumannya dalam penerbangan ke Amsterdam, Belanda, pada 7 September 2014. Saat itu ia menuju Amsterdam untuk melanjutkan studinya ke Universitas Utrecht. 

Aktivis hak asasi manusia yang terkenal vokal membela kaum termarjinalkan itu meninggal pada usia 39 tahun. Meski seorang pilot maskapai penerbangan Garuda Indonesia yang sedang cuti, Pollycarpus Budihari Priyanto, divonis 14 tahun penjara karena terbukti menaruh arsenik pada minuman Munir, namun ia diduga hanya sebagai fasilitator.

Kini, 12 tahun kemudian, dalang di balik kasus pembunuhan pembela hak asasi manusia masih belum diketahui. 

“Dengan upaya dari pemuda-pemudi dan aktivis-aktivis di Indonesia, serta dukungan dari mitra kawasan dan global, setiap tahunnya dalam rangka memperingati meninggalnya Munir, kami terus menuntut [pemerintah Indonesia] untuk kembali membuka dan melanjutkan investigasi,” kata Marte Hellema, Programme Manager Information, Communication and Publication at Asian Forum for Human Rights and Development (Forum Asia), pada Rabu, 30 November.

Hellema berbicara di hadapan ratusan delegasi pemuda, lembaga-lembaga non-pemerintah, dan pejabat Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam acara “Youth at the Heart of 2030 Agenda: Case4Space” di Bangkok, Thailand.

Hellema mengatakan kasus Munir sebagai salah satu kasus pembunuhan yang menimpa pembela hak asasi manusia di kawasan Asia Pasifik yang cukup menarik perhatian global.

Ia juga menyebut contoh lain di kawasan seperti Maria Chin Abdullah, pemimpin kelompok Bersih, yang ditangkap aparat karena mengadakan demonstrasi di Kuala Lumpur menuntut Perdana Menteri Malaysia Najib Razak untuk mundur dari jabatannya karena terindikasi kasus korupsi.

Selain itu, ada juga Sombath Somphone, pemimpin organisasi masyarakat dari Laos, yang hilang sejak 15 Desember 2012 lalu.

Maria dibebaskan dari tahanan 11 hari sejak penangkapannya. Menurut Hellema, internet dan media sosial turut membantu memobilisasi massa menuntut pemerintah untuk membebaskan Maria. Bukan hanya dari Malaysia tapi juga dari negara-negara Asia Tenggara dan Asia Pasifik. 

Marte Hellema, Programme Manager Information, Communication and Publication Forum Asia, di kantor PBB di Bangkok, Thailand, pada 30 November 2016. Foto oleh Abdul Qowi Bastian/Rappler

Sedangkan untuk kasus Munir yang dibunuh dan Somphone yang hilang, Hellema mengatakan dengan bantuan teknologi, anak-anak muda di Indonesia dan Laos selain mempelajari sejarah kelam negara masing-masing, juga dapat ikut berpartisipasi aktif sebagai pembela hak asasi manusia.

“Dunia maya dapat membantu membuka pintu bagi generasi-generasi baru untuk menjadi pembela hak asasi manusia,” kata Hellema.

Meski kejadian yang menimpa para pembela hak asasi manusia sebelumnya terjadi belasan tahun lalu, bukan berarti anak-anak muda ini terisolasi dari informasi. Mereka kini dapat mengetahui tentang sejarah kelam dan turut menggerakkan massa melalui media sosial. 

Hellema mengatakan, kadang memang internet dipersepsikan sebagai pendobrak batas dan menyajikan informasi yang berguna, namun tak selamanya demikian.

“Kita juga melihat banyak tantangannya,” kata Hellema. “Apa yang kita katakan, apa yang kita unggah dapat membawa konsekuensi nyata,” ujarnya mengingatkan.

Oleh karena itu, ia mengimbau para anak-anak muda, meski kini sedang bersemangat untuk menyuarakan pendapat mereka tentang isu yang mereka minati, untuk tetap berhati-hati terhadap apa informasi yang mereka bagikan.

Bahkan kini menurutnya ada peningkatan tren di Asia yang cukup membahayakan di mana pengguna internt dianiaya, dipenjara, bahkan dibunuh karena apa yang mereka katakan atau unggah ke dunia maya.

“Contohnya, kita melihat sebuah kasus yang sangat menyedihkan di Bangladesh. Salah satu blogger, Nazimuddin Samad, dibunuh pada April tahun ini karena ia mengungkapkan pendapatnya online,” kata Hellema.

Lalu, bagaimana pengguna internet —utamanya anak muda— melindungi diri mereka dari ancaman digital?

Langkah pertama adalah untuk selalu ingat bahwa apa yang diunggah online akan selalu ada, meski konten tersebut sudah dihapus sekalipun. 

“Kamu bisa menghapus apapun yang kamu mau, [tapi] jika kamu menunggah fotomu pada suatu pesta di malam hari ketika kamu berusia 16 tahun, foto tersebut bisa kembali untuk menghantuimu saat kamu berumur 25 tahun,” kata Hellema.

“Itulah kenyataannya,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan kepada “Generasi Facebook” bahwa ada ancaman lain terkait pengawasan, terutama mereka yang gemar berbagi apa saja di dunia maya, seperti lokasi dan kegiatan yang sedang dilakukan.

“Sangat mudah untuk melacak di mana kamu berada. Seseorang dengan kemampuan yang minimum sekalipun dapat dengan gampangnya membaca percakapan pribadimu, mencari tahu email, dan password-mu,” ucapnya.

“Saat kita memindahkan kehidupan kita ke dunia maya, penting diingat bahwa teknologi memberikan kita kesempatan tanpa batas dan kita harus menggunakannya untuk keuntungan kita, namun kita harus menggunakannya secara hati-hati.” —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.