Parade Kebhinekaan: Merayakan toleransi di atas setumpuk pelanggaran

Ursula Florene
Parade Kebhinekaan: Merayakan toleransi di atas setumpuk pelanggaran
Sesuai dengan Pergub No. 12 tahun 2016, Car Free Day tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan partai politik

JAKARTA, Indonesia — Pemandangan berbeda tampak di sepanjang area Car Free Day (CFD) yang membentang sepanjang Jalan MH Thamrin hingga Jalan Sudirman pada Minggu pagi, 4 Desember. Jalanan yang biasanya diisi warga ibu kota berolahraga, hari ini marak dengan bendera partai politik dan orang-orang yang mengenakan pakaian berwarna senada lambang parpol.

Atribut biru dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem) dan kuning dari Partai Golkar berpadu di pusat acara, yakni Bundaran HI sejak pukul 7 pagi. Sementara dari markas pusat Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang terletak di Menteng, sudah mulai berjalan rombongan beratribut hijau menuju area CFD.

Sekitar pukul 8 pagi, ribuan orang sudah memadati area sekitar air mancur Bundaran HI. Musik pun terdengar dari panggung utama, yang juga dipadati oleh para tokoh dari berbagai partai politik pendukung pemerintahan Presiden Joko “Jokowi” Widodo dan Jusuf Kalla. Politisi Partai Golkar, Tantowi Yahya,  menyapa hadirin selaku pembawa acara.

“Selamat datang di Parade Kebhinekaan. Acara ini bukan untuk bersaing, acara ini adalah pelengkap dari umat Islam,” kata Tantowi di atas panggung utama. Acara saingan yang dimaksud adalah doa bersama yang digalang oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) pada Jumat, 2 Desember, lalu.

Tak lupa, ia juga memuji acara tersebut, yang disebut sebagai prestasi membanggakan. Umat Islam, menurutnya, telah berhasil menyelenggarakan aksi besar-besaran secara damai. Aksi Jumat kemarin merupakan lanjutan dari dua demonstrasi serupa pada 14 Oktober dan 4 November.

Aksi yang juga disebut sebagai Aksi Bela Islam jilid 3 itu menuntut Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama ditahan dalam kasus dugaan penistaan agama. Ahok telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri dalam kasus tersebut.

Turut hadir bersama Tantowi dalam Parade Kebhinekaan adalah Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto, Ketua Umum PPP Djan Faridz, dan sejumlah tokoh lainnya, seperti Theo Sambuaga dan Oesman Sapta.

Surya Paloh menjadi orang pertama yang berpidato. Ia menekankan pentingnya untuk menjaga persatuan dengan merangkul perbedaan.

“Potensi maksimal Indonesia tak akan tercapai kalau saling menghujat, kalau kita tidak percaya satu sama lain, kalau kita menistakan satu sama lain. Tapi yang saya yakin adalah persatuan tidak tergoyahkan,” ujar Paloh di panggung utama.

Menurutnya, perbedaan bukanlah musuh yang harus diperangi. Masyarakat harus lebih fokus memberantas kebodohan dan kemiskinan.

Dalam acara hari ini, memang dipamerkan berbagai kebudayaan Indonesia di 10 panggung yang tersebar di sepanjang Jalan MH Thamrin-Jalan Sudirman. Tampak atraksi Reog Ponorogo, gamelan Bali, hingga sisingaan yang menghibur pengunjung. Panitia dan relawan juga membagikan makanan dan minuman gratis kepada peserta.

Pasangan Gyldas dan Lisa dari Petojo, Jakarta Pusat, membawa pin dan spanduk bergambar Garuda Pancasila dan tulisan “Akulah Pendukungmu”. Belasan orang tampak mengantre untuk berfoto dengan spanduk tersebut.

“Ini ide spontan kami kemarin, sekadar mengingatkan nilai Pancasila yang sudah terlupakan karena perbedaan partai, agama, dan lain-lain,” kata Gyldas kepada Rappler. Ia dan Lisa, serta panitia foto lainnya, juga mengenakan seragam berwarna merah dan putih yang bertujuan menampilkan “Indonesia”.

Mereka adalah sedikit orang yang tidak mengenakan atribut partai maupun kelompok pada acara hari ini.

Larangan berpolitik di CFD

ATRIBUT PARTAI. Sekumpulan orang beratribut Partai Golkar tampak berkumpul di area CFD guna menghadiri Aksi 412. Acara partai dilarang di CFD. Foto oleh Ursula Florene/Rappler

Sebelum acara berlangsung, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Soni Sumarsono menegaskan kalau tidak boleh ada kegiatan politik dalam setiap CFD. Hal ini juga sesuai dengan Peraturan Gubernur No. 12 tahun 2016 [asal 7 ayat 2 yang menuliskan CFD atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan partai politik.

Terhadap hal ini, Soni menyayangkan masih banyaknya atribut partai bertebaran, dan berjanji akan melayangkan surat teguran tertulis kepada pihak penyelenggara.

“Nanti [teguran tertulis] ditembuskan ke partai yang memang benderanya tampak, supaya mereka ke depan bisa menghargai peraturan gubernur,” kata Sumarsono.

Ia juga mengkritik panitia yang tidak konsisten dalam ucapan, karena sebelumnya panitia berjanji tidak akan membawa atribut partai politik atau agenda lain yang bersifat provokatif. Setelah melihat banyaknya atribut, Sumarsono langsung meminta anggota Satpol PP untuk membereskan.

Inisiator CFD, Alfred Sitorus, juga mengeluhkan acara ini. Menurutnya, kegiatan ini melenceng dari tujuan CFD untuk ajang olahraga tanpa menghirup polusi udara.

“Saya mau meluruskan terkait dengan peraturan pelaksaan CFD. Banyak sekali regulasi yang ditabrak oleh penyelengara. Salah satunya yang tertuang di Pasal 7; tidak boleh dilakukan kepentingan parpol, menghasut, dan orasi,” kata Alfred yang saat bersamaan ada di Bundaran HI.

Acara CFD yang dibentuk untuk olahraga dan tempat berkumpul keluarga dan anak, tercoreng lantaran demo yang tidak ada kepentingan dengan agenda sebenarnya. Pihak inisiator memang tidak membatasi kegiatan, namun sudah ada regulasi Pergub yang menaungi kegiatan ini.

“Jadi itu yang paling utama. Pada prinsipnya kami selaku inisiator CFD prihatin dan kecewa terhadap pelaksanan kegiatan yang bercampur parpol itu. Ini membuktikan banyak yang tidak memahami arti dari regulasi Pergub,” katanya.

Sementara itu, Surya Paloh mengaku siap menerima konsekuensi jika partainya melanggar aturan karena acara ini. Namun, ia berkilah soal apalah artinya CFD bila dibandingkan dengan persatuan bangsa.

“Barangkali kalau melanggar kami siap menerima konsekuensinya untuk kebaikan yang kita rasakan. Apalah artinya CFD dibandingkan dengan persatuan bangsa ini. Sejujurnya itu yang saya katakan. Jadi yang mau CFD boleh, mau sedikit menari boleh‎,” kata Paloh.

Beberapa peserta beratribut partai yang ditemui Rappler memang mengaku mendapat instruksi untuk mengenakan kaos ataupun membawa bendera. Mereka tidak tahu kalau hal tersebut dilarang di CFD, apalagi mereka yang berasal dari luar kota.

“Saya tidak tahu, dibilanginnya begitu, ya ikut saja,” kata pria yang hanya mengenalkan diri sebagai Anto dari Bandung.

Sampah dan taman rusak

Setelah pengunjung mulai dibubarkan menjelang pukul 11, tampak sampah botol plastik dan kantong kresek berserakan.

Pembawa acara sudah mengingatkan para peserta aksi untuk memunguti sampah di jalanan, tetapi tampaknya diacuhkan oleh peserta aksi. Mereka tetap berjalan ke titik kumpul masing-masing sementara sampah beterbangan ditiup angin.

Petugas Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU) atau yang juga dikenal sebagai Pasukan Oranye baru berdatangan kira-kira pukul 11 lewat. Remaja beratribut Relawan Nusantara juga turut hadir membantu.

Tak hanya sampah, pendemo rupanya juga menginjak-injak rumput di sekitar Bundaran HI hingga rusak. Tanaman di atas pembatas jalan yang berada di pos Polisi di depan Hotel Kempinski juga rusak. Bahkan, tiang besi yang berada di tengah taman tersebut tampak roboh.

Kasie Pengendalian Kebersihan Jakarta Pusat Risart Saristian menyayangkan hal ini. Menurutnya, ‎mayoritas pedemo 412 kurang kesadaran akan pentingnya peran rumput.

“Ini sebetulnya kembali lagi kesadaran masyarakat tentang menjaga kebersihan dan keindahan taman masih kurang, alhasil beginilah [rusak],” kata Risart.

Ia mengatakan, pihaknya mengerahkan ratusan Pasukan Oranye yang didatangkan dari berbagai kecamatan di Jakarta Pusat.

“Kami kerahkan per kecamatan 15 personel, jadi semuanya 150 personel. Itu untuk bersihkan sampah,” katanya. —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.