Indonesia

Pemerintah berencana beri dana stimulus bangun rumah tahan gempa bagi warga Aceh

Santi Dewi
Pemerintah berencana beri dana stimulus bangun rumah tahan gempa bagi warga Aceh
Dana stimulus itu berkisar antara Rp 20 juta hingga Rp 40 juta yang akan diberikan ketika sudah memasuki tahap rekonstruksi dan rehabilitasi

JAKARTA, Indonesia – Pemerintah berencana untuk memberikan dana stimulus bagi warga Aceh yang rumahnya mengalami kerusakan akibat diguncang gempa berkekuatan 6,5 SR pada Rabu, 7 Desember. Dana stimulus itu berkisar Rp 20 juta untuk rumah yang mengalami kerusakan sedang dan ringan hingga Rp 40 juta untuk rumah warga yang rusak berat.

Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan dana stimulus itu masuk ke dalam tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Tetapi, itu baru dilakukan setelah proses evakuasi korban dan pembersihan puing-puing selesai dilakukan.

Sementara, waktu tanggap bencana telah ditetapkan oleh Gubernur Aceh hingga tanggal 20 Desember.

“Untuk stimulus pembangunan rumah tahan gempa akan dimulai dengan proses pendataan lebih dulu mengenai rumah dan kriteria kerusakan yang dialami apakah itu tergolong rusak berat, rusak sedang dan rusak ringan,” ujar Sutopo ketika memberikan keterangan pers di kantor BNPB pada Jumat, 9 Desember.

Setelah nantinya didata, maka bupati di masing-masing daerah yang warganya mengalami kerusakan tempat tinggal harus membuatkan Surat Keputusan (SK). Di dalam SK, turut dilampirkan alamat dari rumah warga yang rusak.

“Hal ini untuk mencegah adanya keributan pemberian bantuan yang notabene merupakan dana masyarakat,” katanya lagi.

Tetapi, dana stimulus itu tidak langsung diberikan dan memiliki mekanisme khusus. BNPB biasanya menggunakan model re-compact yang sudah lebih dulu sukses diterapkan pasca peristiwa bencana di beberapa kota seperti Yogyakarta, Banjarnegara dan Mentawai.

“Re-compact itu maksudnya proses rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan warga berbasis komunitas. Rumah yang akan dibangun tahan terhadap gempa. Pendistribusian dana dilakukan melalui bank berdasarkan termin kemajuan rumah,” tutur Sutopo.

Mekanisme pertama yang dilakukan yaitu membentuk kelompok masyarakat yang terdiri antara 10-20 kepala keluarga. Masing-masing kelompok itu akan ditunjuk satu fasilitator yang berfungsi untuk memandu pembuatan rumah desain anti gempa.

“Proses pencairan dana stimulus itu membutuhkan persetujuan semua pihak di dalam kelompok. Dengan begitu masyarakat bisa ikut dilibatkan,” katanya.

Model rehabilitasi dan rekonstruksi ini sudah pernah diterapkan pasca bencana longsor di Banjarnegara pada tahun 2014 lalu. Saat itu, pemerintah hanya memberikan dana stimulus sebesar Rp 25 juta.

Dana kemudian bertambah, setelah Gubernur Jawa Tengah dan Bupati Banjarnegara masing-masing menyumbang Rp 10 juta.

“Maka, total bantuan dari pemerintah mencapai Rp 45 juta. Sementara, partisipasi masyarakat diwujudkan dalam bentuk sumbangan bahan bangunan. Sehingga, saat itu berhasil terkumpul dana untuk membantu 1 unit rumah sebesar Rp 87 juta. Rumah mereka saat itu sangat bagus dan warga tinggal di kondisi yang lebih aman,” tutur Sutopo.

Belum semua tahan gempa

Sementara, dalam kasus gempa bumi yang terjadi di Aceh, Sutopo mengakui belum semua bangunan di sana dibangun tahan gempa. Apa yang membedakan rumah biasa dengan tahan gempa?

“Di rumah tahan gempa, maka di konstruksi akan ada semacam ‘tulang’ yang dipasang dalam pondasi batu bata di dalam rumah. Hal itu berfungsi untuk penguat dan meredam getaran gempa,” kata Sutopo.

Namun, Sutopo melanjutkan, tidak semua bangunan tahan gempa berarti tidak rubuh ketika gempa melanda. Paling tidak ketika digoyang gempa, bangunan tidak langsung ambruk, sehingga penghuni memiliki waktu lebih untuk melarikan diri.

Biaya yang dibutuhkan untuk membangun satu rumah tahan gempa diakui Sutopo juga tidak murah. Angkanya bisa tiga kali lipat dibandingkan biaya membangun rumah biasa. 

Berdasarkan data yang dimiliki BNPB total 11.681 rumah warga di tiga kabupaten di Provinsi Aceh mengalami kerusakan beragam mulai dari ringan hingga berat. Sedangkan, untuk ruko tercatat ada 129 buah yang juga rusak.

Sutopo mengatakan banyaknya bangunan yang rusak ini bukan berarti warga Aceh tidak belajar dari peristiwa serupa pada tahun 2004 lalu. Dari pantauan udara BNPB dengan menggunakan drone, masih banyak bangunan lainnya yang masih kokoh berdiri walau dilanda gempa. – Rappler.com

BACA JUGA:

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.