Setelah 12 tahun, tsunami masih menghantui warga Aceh

Adi Warsidi
Setelah 12 tahun, tsunami masih menghantui warga Aceh
“Tak sanggup saya melihat laut. Masih trauma.”

BANDA ACEH, Indonesia – Anita bersimpuh di atas rumput menghadap sebuah batu besar yang baru saja ditaburi aneka bunga. Mulutnya tak berhenti melafal doa. Tak lama kemudian air matanya meleleh. Wanita berusia 42 tahun ini menangis sesungukan. Kerudung biru yang dikenakannya berulangkali diusapkan ke matanya yang sembab.

Tak jauh dari tempatnya duduk,  puluhan orang juga menitikkan air mata. Mereka duduk berkelompok atau sendiri-sendiri. Hari ini, mereka datang ke pemakaman  Ulee Lheu di Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, untuk mengenang saudara mereka yang tewas diterjang tsunami 12 tahun silam.

Saat itu, 26 Desember 2004, gelombang dahyat menerjang Banda Aceh. Air bah menyeret apa saja yang dilewatinya. Sebanyak 200 ribu orang tewas dalam bencana mengerikan ini. PBB menyebut tsunami di Aceh sebagai bencana kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi.

Sebanyak 14.500 dari 200 ribu korban tsunami itu dimakamkan secara massal di pemakaman Ulee Lheu. Di antara mereka yang terbaring itu adalah keluarga Anita. “Saya kehilangan suami dan dua anak saya,” kata Anita kepada Rappler yang menemuinya di pemakaman, Senin 26 Desember 2016.

Anita masih mengingat jelas ketika air bah itu datang menerjang desanya di Blang Oi, masih tetangga desa Ulee Lheu. Diawali gempa berkekuatan 9,2 SR, air kemudian datang menyeret tubuhnya.

Anita selamat bersama putranya, Aprizal. Namun suami dan dua anaknya yang lain tewas terbawa arus. Anita bahkan tak sempat bertemu suaminya. Sebab, saat tsunami datang, suaminya sedang tak berada di rumah.

Karena itu bayangan tsunami tak pernah benar-benar pergi dari benaknya. Bahkan, sampai saat ini, ia tak pernah lagi bisa menikmati indahnya pantai dan laut. Gemuruh ombak selalu mengingatkannya pada tsunami.

“Tak sanggup saya melihat laut. Masih trauma,” katanya. Anita sudah berusaha melupakan kejadian mengerikan tersebut dengan datang ke pemakaman setiap bulan. Namun duka itu masih tetap ada. “Saya selalu kemari, bukan satu tahun sekali, tapi saban bulan,” .

Warga berziarah ke pemakaman Ulee Lheu di Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, Senin (26/12). Foto oleh Adi Warsidi/Rappler Setelah gelombang dahsyat itu surut, Anita tinggal di pengungsian selama tiga tahun. Setelah itu, ia enggan kembali ke bekas rumahnya yang hancur dihajar tsuanami, meski rumah tersebut telah dibangun kembali.

Anita memilih untuk mengontrakkan rumah tersebut dan tinggal di sebuah rumah yang dibelinya di Cot Mesjid, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh, yang jaraknya jauh dari bibir pantai. Ia tak ingin lagi hidup berdampingan dengan laut yang pernah menewaskan anak dan suaminya.

Ia ingin melepaskan bayang-bayang tsunami. Namun gempa yang kerap menggoyang Banda Aceh justru semakin membuat kenangan akan tsunam semakin mengendap dalam kenangannya. Saat gempa 6,5 SR menggoyang Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pada 7 Desember lalu, Anita bahkan langsung bersiap untuk mengungsi, meskipun tak ada peringatan akan terjadi tsunami.

Anita tak sendiri dihantui tsunami. Hampir setiap korban selamat mengalami trauma serupa. Yulianto, 60 tahun, adalah salah satunya. Saat gempa melanda Pidie Jaya, dirinya juga langsung teringat tsunami yang membuatnya melarikan diri ke daerah lain.

Yulianto juga enggan tinggal di dekat pantai lagi. Baginya cukup sekali dirinya diseret arus hingga nyaris tewas. Selain itu, setiap kali melihat laut, ia juga selalu teringat pada wajah istri dan tiga anak perempuannya yang tewas diseret tsunami.

Kepedihan Yulianto semakin berlipat manakala jasad istri dan ketiga anaknya tidak ditemukan. Namun ia meyakini mereka terbaring bersama ribuan korban lain di Pemakaman Ulee Lheu. “Setahun awal tsunami, setiap ke kuburan massal saya selalu menangis,” kata pensiunan PNS ini.

Kini Yulianto tinggal bersama sisa-sisa keluarganya di Lampriet, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, yang jaraknya cukup jauh dari bibir pantai.

Bukan pengingat luka

Pemakaman Ulee Lheu memiliki luas sekitar 15.800 meter persegi atau satu setengah luas lapangan sepak bola. “Lokasi ini dulunya bekas Rumah Sakit Meuraxa,” kata Pengurus kuburan massal yang juga mengurusi Masjid Ulee Lheu Banda Aceh, M Yacob, kepada Rappler. 

Pemakaman tersebut dipagari secara rapi di sekelilingnya. Rumput-rumput tumbuh di tanah datar tak berpusara. Di pemakaman ini hanya ada dua tulisan, yakni ‘kuburan dewasa’ dan ‘kuburan anak-anak’.

Setiap 26 Desember pemakaman ini ramai dikunjungi warga Aceh. Mereka datang untuk berziarah sekaligus mengenang amukan tsunami. Ritual dilakukan dengan menebarkan bunga ke atas batu-batu besar.

Peringatan tsunami 2016 ini dihadiri Plt Gubenur Aceh, Soedarmo. Dalam sambutannya, Soedarmo mengatakan peringatan tsunami bukan untuk membuka kembali kesedihan atau luka lama, melainkan untuk  meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bencana. “Sekaligus menyadarkan kita supaya lebih peduli pada lingkungan,” kata Soedarmo. 

Soedarmo mengatakan tsunami yang melanda Aceh 12 tahun silam merupakan tragedi paling memilukan dalam peradaban manusia. Bencana itu tidak hanya memporak porandakan Aceh, tapi juga berdampak hingga India, Sri Langka, Thailand dan sebagainya. 

”Tentunya sangat menusiawi jika kita bersedih ketika mengenang peristiwa tersebut. Namun yang lebih penting bagaimana memetik pelajaran dari peristiwa itu sebagai landasan untuk menata diri lebih baik ke depan,” kata Soerdarmo.

Masyarakat juga diajak untuk lebih peduli tentang masalah kebencanaan. Apalagi Aceh termasuk salah satu wilayah yang terletak di kawasan rawan bencana. Yang terakhir adalah gempa 6,5 SR yang melanda Pidie Jaya pada 7 Desember lalu.

Setelah mendengarkan sambutan Soedarmo, para peziarah kembali melantunkan tahlil. Doa-doa kembali dipanjatkan. Isak tangis kembali terdengar dan air mata berjatuhan lagi. Setelah 12 tahun berlalu, kepedihan dan trauma itu ternyata masih ada. —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.