Rekam jejak Tekad Purna, pilot Citilink yang diduga mabuk sebelum terbang

Santi Dewi
Rekam jejak Tekad Purna, pilot Citilink yang diduga mabuk sebelum terbang
Tekad tergolong pilot yang cerdas dan rajin. Di usia yang masih muda dia sudah meraih pangkat kapten.

JAKARTA, Indonesia – Maskapai Citilink sedang menjadi sorotan publik pada pekan ini karena nyaris membiarkan salah satu pilotnya yang diduga mabuk mengendarai pesawat rute Surabaya-Jakarta pada Rabu, 28 Desember lalu. Kejanggalan sikap pilot yang diketahui bernama Tekad Purna Agnimartanto ini sudah terlihat sejak pemeriksaan di bandara menuju ke pesawat.

Pilot berusia 32 tahun itu terekam kamera CCTV jalan dalam keadaan sempoyongan. Dia bahkan tak menyadari isi tas berhamburan keluar dan perlu dibantu diambilkan oleh petugas keamanan.

Saat berada di dalam kokpit dan memberikan informasi kepada penumpang, Tekad terdengar berbicara ngelantur dan tidak fokus. Dari sana, penumpang protes dan meminta agar pilot diganti.

Siapa Tekad Purna Agnimartanto dan rekam jejaknya di dunia penerbangan? Berikut Rappler rangkum untuk kamu:

1. Pernah jadi pilot Air Asia
Pria kelahiran tahun 1984 itu memulai karirnya di dunia penerbangan dengan bergabung di maskapai Air Asia Indonesia tahun 2009 lalu. Menurut seorang sumber Rappler, Tekad masuk di Air Asia dari jenjang bawah usai lulus dari sekolah penerbangan. Data dari akun media sosialnya menunjukkan Tekad lulus dari sekolah pilot di Australian National Airline College.

“Dia sudah melalui semua tahapan administrasi dan uji masuk dan diterima menjadi pilot. Kemudian, dia dilatih dari awal untuk mengendari (pesawat) jenis Airbus A-320,” ujar sumber tersebut.

Di kalangan teman-temannya sesama pilot Air Asia, Tekad dikenal baik dan tidak bertingkah yang aneh-aneh. Dia baru mulai berulah saat pangkatnya naik menjadi kapten di akhir tahun 2015 lalu. Karirnya tergolong cemerlang, karena di usia yang muda, Tekad bisa meraih pangkat sebagai kapten pilot.

Tekad akhirnya berhenti dari Air Asia Indonesia karena tersangkut permasalahan.

“Ketika akan berangkat menerbangkan pesawat, pramugari menemukan gelagat aneh dari Tekad. Akhirnya dilaporkan ke Direktur keselamatan lalu berlanjut ke operational control dan penerbangan dihentikan,” kata sumber itu lagi.

Saat diperiksa di darat, diketahui bahwa Tekad menggunakan zat psikotropika. Tetapi, tidak diketahui dengan jelas jenis zat psikotropika apa yang dikonsumsi.

2. Kantongi lebih dari 5.000 jam terbang
Menurut CEO Citilink Albert Burhan, saat bekerja dengan Air Asia, Tekad sudah mengantongi 4.888 jam terbang. Sementara, dengan Citilink dia sudah membukukan 656 jam terbang sejak bergabung per Maret 2016.

Saat bekerja di Air Asia, dia belum pernah memiliki catatan kecelakaan saat mengemudikan pesawat Airbus A-320.

3. Miliki type rating A-320
Di awal tahun 2016, Tekad bergabung dengan Citilink setelah memilih berhenti dari Air Asia. Direktur SDM Citilink, Devina Veryano menjelaskan sebelum bergabung dengan Citilink mereka telah melakukan pemeriksaan dokumen dan serangkaian tes kepada Tekad.

“Hal itu termasuk penyisiran CV, tes kemampuan, kompetensi keseluruhan, tes keamanan penerbangan (avsec) dan tes kepada user. Saat dilakukan avsec test, sejarah seperti apa dia bekerja di maskapai sebelumnya tidak muncul,” ujar Devina ketika memberikan keterangan pers di Menara Citikon pada Jumat, 30 Desember.

Namun, salah satu pertimbangan Tekad diterima di Citilink karena dia memiliki kemampuan dan license pesawat jenis Airbus A-320 yang notabene menjadi armada maskapai pelat merah itu. Sementara, jumlah pilot yang memiliki type rating A-320 sangat terbatas di pasaran.

Selain itu, Citilink juga mengakui tak bertanya mengenai rekam jejak Tekad ke maskapai AirAsia.

“Kami lakukan pengecekan (latar belakang) agak diam-diam. Perusahaan di mana orang tersebut sedang bekerja, tidak bisa kami tanyakan, terlebih lagi untuk pilot yang type rating A-320,” kata Devina.

4. Dipecat sebelum investigasi rampung
Manajemen sebelumnya sudah membebas tugaskan Tekad sembari menunggu hasil investigasi terhadap kesehatannya. Namun, belum juga investigasi rampung, manajemen Citilink pada Jumat kemarin langsung memecat Tekad.

Wakil Direktur Komunikasi Citilink, Benny Butarbutar beralasan Tekad sudah melakukan pelanggaran yang fundamental, sehingga tidak perlu lagi menunggu hasil investigasi untuk diambil keputusan. Benny merinci ada tiga kesalahan fatal yang dilakukan Tekad:

a. Sesuai dengan UU Ketenagakerjaan nomor 30 tahun 2003, pilot Tekad dianggap ceroboh dan dianggap membahayakan keselamatan penerbangan
b. Melanggar aturan disiplin kerja dengan terlambat datang ke bandara. Idealnya seorang pilot sudah tiba minimal 1 jam sebelum keberangkatan untuk mendapat briefing mengenai jadwal penerbangan
c. Merusak citra dan nama perusahaan

Benny mengatakan alasan Tekad datang terlambat ke bandara karena dia bangun kesiangan. Pengakuan ini, kata dia, diperoleh dari Tekad sendiri.

Usai kebijakan ini, kewajiban lain dari manajemen ke Tekad akan dituntaskan belakangan. – Rappler.com

BACA JUGA:

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.