Liverpool vs Manchester City: Momen Gesamtkunstwerk melompat lebih tinggi

Agung Putu Iskandar
Liverpool vs Manchester City: Momen Gesamtkunstwerk melompat lebih tinggi
Saat yang tepat untuk jauh meninggalkan Manchester City di belakang.

JAKARTA, Indonesia — Tak pernah dalam delapan tahun terakhir Liverpool bisa sedekat ini dengan gelar juara. Saat kompetisi baru berjalan separuh musim, mereka sudah berada di posisi kedua klasemen sementara Liga Primer. 

Delapan tahun lalu, tepatnya pada musim 2008-2009, mereka juga mencatatkan situasi yang hampir sama. Bahkan memuncaki klasemen sementara di masa Boxing Day—meski akhirnya finis di posisi runner up di akhir musim dan melihat rival abadi Manchester United juara. 

Zaman berubah. Roda nasib beputar. United tak lagi menghalangi pandangan mereka dalam menatap gelar juara. Hambatan The Reds kini cuma satu: Chelsea. Mereka harus terus mengejar catatan mengagumkan pasukan Antonio Conte yang terus meraih streak dalam 12 laga. 

Salah satunya dengan mengalahkan Manchester City, Minggu, 1 Januari, pukul 00.30 WIB di Anfield. 

Pertemuan dua tim tersebut sangat krusial karena keduanya hanya berselisih 1 angka. Jika Liverpool menang, posisi mereka di peringkat kedua semakin kuat dan City semakin jauh tertinggal.

Tak heran jika Pep Guardiola, manajer City, menganggap bentrok tersebut adalah pertandingan penentuan gelar. “Liverpool kini menjadi tim pemburu gelar,” kata Pep seperti dikutip BBC

“Laga ini seperti final,” timpal manajer Liverpool Juergen Klopp

Tim paling agresif di Liga Primer 

Performa impresif Liverpool tersebut tak lepas dari kerja keras manajer Juergen Klopp. Setelah adaptasi yang cukup keras di musim perdananya di Liga Inggris, Klopp kini sudah mampu meramu penampilan terbaik The Kop

Mereka menjadi klub yang paling produktif di Liga Primer dengan 45 gol. Bahkan berjarak cukup jauh dari Manchester City di peringkat kedua produktivitas gol (39 gol). 

Tak hanya itu, Jordan Henderson dan kawan-kawan adalah tim dengan tembakan on target terbanyak, 115 tembakan. Rasio konversi antara tembakan dan gol juga tertinggi di Liga Primer: 54,2 persen! Artinya, satu dari dua tembakan ke gawang yang dilepas Liverpool selalu berbuah gol. 

Kiprah Klopp membangun Liverpool itulah yang menuai pujian. Dari tim yang hanya terbuai kejayaan masa lalu menjadi monster di kotak penalti lawan. Hasil kerja nyata Klopp tersebut banyak disebut sebagai sebuah karya seni komprehensif. Yang dalam bahasa Jerman disebut Gesamtkuntswerk. Penggabungan sekian banyak elemen pembangun tim menjadi satu momok yang menakutkan di depan gawang.

Meskipun demikian, agresivitas tersebut tidak datang dengan “gratis”. Ada harga yang harus dibayar. Yakni pada ketahanan gawang mereka terhadap gol. Catatan kebobolan Liverpool termasuk terburuk dari tim lima besar Liga Primer.

Sepanjang 18 pekan, mereka sudah kebobolan 21 gol. Jumlah kebobolan tersebut bahkan lebih buruk dibanding tim peringkat kedelapan Southampton atau bahkan tim peringkat ke-15 Middlesbrough dengan 20 gol. 

Memang, gaya permainan gegen pressing membuat para pemain lebih banyak menekan daerah lawan. Membuat mereka keteteran saat menghadapi serangan balik. Atau ketika lawan berhasil lepas dari tekanan. 

Kelemahan tersebut bisa dimanfaatkan Manchester City. Apalagi mereka memiliki kemampuan mempertahankan bola yang jauh lebih baik dibanding Liverpool. City memiliki total jumlah ball possession terbaik di Inggris, 63 persen. Keunggulan tersebut bisa mereka manfaatkan untuk lepas dari cengkeraman tekanan Liverpool. 

Apalagi, lini depan City bakal semakin tajam dengan kehadiran Sergio Aguero. Bomber Argentina itu bakal kembali turun bersama rekan-rekannya setelah selesai menjalani skors pasca insiden dengan bek Chelsea David Luiz. 

Guardiola belum menemukan stabilitas

Masalahnya, City tidak dalam kondisi yang ideal untuk meladeni tuan rumah. Pep Guardiola masih belum final dalam menemukan performa terbaik tim. 

Dengan para pemain yang memiliki karunia teknis dan skill yang ulung seperi David Silva dan Raheem Sterling, City jelas bakal dengan mudah mengungguli Liverpool. 

Sejak awal musim, sedikitnya sudah 4 formasi yang dijajal Pep. Mulai dari 4-4-2, 4-1-4-1, 4-2-3-1, hingga sistem tiga bek 3-4-2-1 saat meladeni Chelsea, Everton, dan Southampton.

Padahal, beradaptasi dalam formasi berbeda tidak mudah. Apalagi dengan manajer yang sangat mementingkan permainan daripada sekadar mencetak gol seperti Pep. Akibatnya, City kerap tergelincir dalam beberapa laga penting. 

Mereka ditahan seri Everton dan Southampton di kandang dan kalah melawan Chelsea, Tottenham Hotspur, bahkan Leicester City.  

Belum lagi tekanan dari media Inggris. Eksperimen Pep di atas lapangan memicu kritik. Mereka menganggap dia terlalu arogan untuk beradaptasi dengan kompetisi ketat di Liga Primer. 

Dalam hal membangun permainan, misalnya. Pep bersikeras bahwa serangan bukan dibangun dari bek. Tapi justru dari kiper. Penjaga gawang adalah orang pertama yang membangun serangan. Ia juga harus menjadi salah satu alternatif umpan dari para bek di depannya.

Paradigma tersebut sampai membuat Joe Hart yang cenderung lebih “tradisional” harus merantau ke Italia. Demi memberi tempat bagi Claudio Bravo.

Faktanya, Bravo tak lebih baik dari Hart. Beberapa kali dia bahkan membuat blunder hingga membuat City kebobolan. Ide untuk menempatkan Bravo sebagai keeper-sweeper alias penjaga gawang sekaligus bek jelas tak cocok diterapkan di liga sepak bola paling ketat di Eropa tersebut. 

Tapi, Pep tak perduli. 

“Maaf. Tapi hingga hari terakhir saya sebagai pelatih pun, saya akan memulai serangan dari penjaga gawang,” kata Pep usai laga melawan Everton. 

Seiring hasil yang buruk di Liga Primer, hubungan dia dengan media memang memburuk. Beberapa kali pernyataan Pep cukup emosional. Dia tak mau dianggap gagal beradaptasi di Inggris. Apalagi disalahkan “kepercayaannya” terhadap filosofi yang sudah dia anut selama bertahun-tahun. 

“Saya memenangi 21 gelar dalam 7 tahun. Rata-rata 3 gelar setiap tahun. Dan semuanya saya raih dengan cara ini. Bagaimana mungkin saya harus berubah,” katanya seperti dikutip New York Times. 

Padahal, membandingkan Inggris dengan Spanyol dan Jerman jelas jauh berbeda. Di sana, pertandingan ketat hanya terjadi saat melawan para seteru abadi seperti Real Madrid dan Borussia Dortmund.

Tak heran jika legenda Manchester United Peter Schmeichel mengkritik Pep dengan keras. Menurut dia, liga Inggris adalah “makhluk” yang berbeda. “Dia selalu menganggap sepak bolanya yang terbaik. Sangat arogan,” katanya

Schmeichel mungkin perlu menunggu hingga akhir musim untuk membuat kesimpulan seperti itu. Atau paling tidak setelah City melawan Liverpool.—Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.