Bagai perempuan tanpa vagina: Penulis transgender berbagi kisahnya

Dyah Ayu Pitaloka
Bagai perempuan tanpa vagina: Penulis transgender berbagi kisahnya
Buku terbaru Merlyn Sopjan, ‘Wo(w)Man’, diberi label +21. Mengapa?

MALANG, Indonesia — “Jika sedang berada di bandara misalnya, dan ingin ke toilet, Mbak Merlyn ingin masuk ke toilet apa, wanita atau laki-laki?”

Pertanyaan tersebut muncul dalam sesi bedah buku berjudul Wo(w)Man milik penulis transgender, Merlyn Sopjan, sebagai bagian dari pameran bertema Pesta Sejuta Buku yang berlangsung hingga 4 Januari di Malang, Jawa Timur. 

Buku berisi 19 kumpulan cerita pendek yang diilhami dari pengalaman penulis itu sengaja diberi label 21+ pada sampulnya.

Pada acara bedah buku yang berlangsung Senin petang, 2 Januari, ada banyak pertanyaan serupa yang dilontarkan pengunjung kepada si penulis yang seorang transgender. Misalnya, seperti jika meninggal akan dimakamkan sebagai perempuan atau laki-laki, atau tentang mengapa dia memilih menjadi transgender, dan mengapa banyak waria atau transgender yang melacur. 

Merlyn, yang terlahir sebagai pria dengan nama Aryo Pamungkas, menjawab semua pertanyaan, terkadang dengan membagikan sejumlah kisah pada buku barunya. 

“Saya melabeli 21+ bukan karena konten seks, tetapi karena saya menyebutkan penis dan vagina,” kata nya dalam sesi bedah buku di Malang.

Misalnya, seperti cerita seorang pekerja seks dalam cerita pendek berjudul Blackberry. Merlyn mencoba menawarkan pandangannya bahwa melacur adalah pekerjaan halal, meskipun tak ada orang yang bercita-cita menjadi pelacur. 

Menghidupi keluarga dengan menjual tubuh sendiri, dengan berbagai risiko dan perlakuan yang tidak layak.  

“Seperti TKI [Tenaga Kerja Indonesia] kita, juga banyak diperlakukan tidak layak. Tetapi itu usaha mereka sendiri. Tidak seperti koruptor, mengambil hak orang untuk menghidupi dirinya sendiri,” katanya.

Merlyn, yang merasa menjadi seorang perempuan sejak usia 4 tahun, menjadi waria pada 1998. Ia menyatakan transgender bukanlah pilihan. 

Seperti kaum difabel, dirinya terlahir perempuan namun tanpa memiliki vagina. 

“Saya ada alat reproduksi penis, tetapi itu tak sesuai dengan jiwa saya. Seperti Perempuan Tanpa Vagina,” kata Merlyn seraya menyebutkan salah satu judul cerita pendeknya.

Buku setebal 153 halaman itu menjadi buku ketiga Merlyn, setelah vakum hampir 10 tahun sejak buku keduanya muncul. Buku keduanya yang terbit pada 2005 itu diberi judul Jangan Lihat Kelaminku. Transgender kelahiran Kediri itu berharap bukunya mampu memberikan wawasan baru tentang hal-hal yang sering dialami kelompok minoritas, seperti pelacur ataupun transgender. 

“Jika ada hal yang dianggap tidak baik pada buku, ya, jangan dilakukan. Itu tanggung jawab masing-masing kepada Tuhan dan sosial. Bahwa dalam hidup ada pilihan, tidak berarti jika tidak sama dengan yang lain, kita salah,” ujarnya. —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.