‘Kartini’: Sukses menguras air mata meski tanpa penutup yang memuaskan

Ayu Annisa
‘Kartini’: Sukses menguras air mata meski tanpa penutup yang memuaskan
Film 'Kartini' garapan sutradara Hanung Bramantyo tayang di bioskop mulai 19 April mendatang

 

JAKARTA, Indonesia – Sejak beredarnya foto dan video cuplikan dari film ini di media sosial sejak tahun lalu, film Kartini memang sudah banyak ditunggu-tunggu.

Nama-nama artis besar Indonesia serta kesungguhan sutradara handal Hanung Bramantyo dalam menggarap film-filmnya menjadi daya tarik tersendiri. Film ini dibuat sejak pertengahan 2016 dan hanya menghabiskan satu bulan untuk syuting.

Nama-nama besar

Bisa dibilang, film Kartini ini bertabur bintang. Dari deretan pemain ada Dian Sastrowardoyo, Adinia Wirasti, Acha Septriasa, Ayushita, Reza Rahadian, Denny Sumargo dan Dwi Sason.

Sementara di bangku sutradara ada Hanung Bramantyo, yang telah berpengalaman membuat film biopik seperti Habibie dan Ainun dan Soekarno. Berbekal nama besar ini, harapan penonton pun meninggi. Apalagi ceritanya tentang Kartini, sosok pahlawan perempuan paling dikenang di Indonesia dari sisi yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Sayang, nama besar tersebut tak sepenuhnya menjadi kekuatan film Kartini.

Dian Sastrowardoyo sebagai Kartini begitu mendalami perannya. Di sepanjang film ia berbahasa Jawa dan kadang juga berbicara dalam bahasa Belanda. Gerak-geriknya melambangkan putri bangsawan yang lahir jauh sebelum masanya. Wajahnya yang ayu dipoles nyaris tanpa make-up.

Hanya saja, seringkali sosok Dian Sastro lah yang terlihat di layar, bukan seorang Kartini. Hal ini disebabkan pembawaannya yang cenderung sama sepanjang film. Ketika mengingat nama Kartini yang gairah dan perjuangannya mencuri perhatian bangsa Belanda, penonton dipaksa untuk membayangkan sesosok wanita yang menggebu-gebu, ceria, dan bersemangat.

Namun Dian terlalu banyak memperlihatkan karakteristik Kartini yang terbelenggu, yang baru saja menemukan arti dirinya sendiri dan tidak cukup sebagai Kartini yang mempelopori kemajuan pendidikan wanita Indonesia.

Ayushita sebagai Kardinah dan Acha Septriasa sebagai Roekmini, dua adik Kartini, diprediksi akan mencuri perhatian. Namun sayang keduanya hanya mendapatkan peran kecil yang mudah terlupakan. Keduanya adalah wanita yang tugasnya hanya mengikuti apa yang dikatakan dan dilakukan Kartini.

Untungnya, keduanya berhasil membangun chemistry yang baik dengan Dian sebagai Kartini.

Menurut Dian, ketika mengisi acara konferensi pers film Kartini di Plaza Indonesia, Rabu, 5 April, banyak hal yang harus dilakukan untuk mengakrabkan mereka sehingga ketiganya layak dipandang sebagai saudara.

“Beruntung karena kita sudah sama-sama kenal. Karakter kita semuanya sangat fluid,” tutur Dian. “Kita hanya harus membiasakan diri berinteraksi dengan bahasa Jawa atau dengan logat medhok. Semuanya termasuk proses penyesuaian,” tambahnya.

Suasana press conference film 'Kartini' di Plaza Indonesia, Rabu, 5 April. Foto dari akun Instagram Legacy Pictures.

Dua kakak Kartini, Reza Rahadian sebagai Kartono dan Adinia Wirasti sebagai Soelastri, juga hanya tampil di beberapa adegan. Meskipun begitu keduanya tetap tampil meyakinkan. Deni Sumargo yang mengaku sama sekali tidak memiliki darah Jawa juga tampil dengan apik sebagai Raden Slamet, kakak Kartini yang keras hati.

Sementara itu, ada pula aktor yang sukses mencuri perhatian seperti Deddy Sutomo sebagai Raden Ario Sosroningrat yang merupakan ayah Kartini dan juga Dwi Sasono sebagai Raden Joyodiningrat yang akhirnya menikahi Kartini.

Aktris senior Christine Hakim menunjukkan bahwa ia datang dari kelas yang berbeda. Berperan sebagai Ngasirah, Ibu Kartini yang tidak terlalu diakui karena statusnya yang bukan bangsawan, Christine Hakim sukses merefleksikan cinta kasih dan harapan seorang ibu yang tidak berdaya kepada anak-anaknya.

Ia berhasil membangun chemistry dengan Dian Sastrowardoyo melalui pembawaannya meskipun ketika dipertemukan dalam sebuah adegan penting, dialog yang tertulis untuknya kurang sampai ke hati penonton karena berbelit-belit.

Menurut Christine, karakternya adalah orang yang berjasa membentuk Kartini sebagai pahlawan emansipasi yang kita kenal.

“Film ini menunjukkan ada dimensi perjuangan Kartini yg berbeda yaitu memilih pilihan yang sulit antara beasiswa atau menikah. Pada akhirnya karena wejangan Ibu Ngasirah, Kartini memilih untuk tetap tinggal di Indonesia tapi tidak melupakan cita-citanya,” jelasnya.

Kurang fokus

Meski dikemas dengan sinematografi yang memanjakan mata serta setting waktu dan tempat yang begitu rinci, film ini seperti tidak tahu di mana harus menempatkan fokusnya. 

Film dimulai dengan menunjukkan tradisi Jepara lama yang kental dengan tradisi. Terlihat Kartini sudah tidak tahan dengan segala prosesi yang harus ia lalui untuk menjadi seorang Raden Ayu, sebutan untuk anak-anak Bupati.

Foto dari akun Instagram Legacy Pictures.

Satu persatu kakaknya pergi karena harus tunduk oleh tradisi. Berkat hadiah dari Kartono yang hendak pergi ke Belanda, Kartini pun mulai membebaskan dirinya lewat buku-buku yang Kartono tinggalkan. Kartini pun terinspirasi untuk menjadi wanita yang cerdas dan terpelajar.

Pada adegan awal, penonton diajak untuk yakin bahwa film ini akan terfokus pada cita-cita Kartini untuk menjadi seorang wanita yang terpelajar di negara yang masih menjunjung tinggi budaya patriarki.

Benar saja, menurut Hanung Bramantyo ketika ditemui di kesempatan yang sama, ia ingin memfokuskan film ini pada perjuangan Kartini dalam pendidikan mengingat selama ini Kartini hanya dikenal sebagai pejuang emansipasi wanita.

Namun lama kelamaan fokus ini menghilang dan berubah menjadi konflik keluarga semata.

Diceritakan, Bupati Jepara, Bapak Kartini (Deddy Sutomo) yang selalu mendukung keinginan Kartini untuk belajar ternyata banyak dicibir oleh saudara-suadaranya karena tidak memingit Kartini dan adik-adiknya sesuai dengan tradisi yang ada.

Bagian ini diceritakan bersamaan dengan Kartini yang mulai rajin menulis surat-surat yang ia kirimkan kepada teman penanya di Belanda. Seharusnya fokus lebih baik berada di apa yang dituliskan oleh Kartini daripada berkutat dengan pengetahuan bahwa budaya dan tradisi Jepara menentang wanita untuk belajar.

Karena terlalu bertele-tele ketika melukiskan keluarga dan tradisi sebagai penghalang perjuangan Kartini, film ini kehilangan kesempatan untuk memaknai apa sesungguhnya yang diperjuangkan Kartini itu sendiri.

Tanpa penutup yang memuaskan

Di akhir film pun maksud utama film ini tidak tampak jelas. Ketika Kartini akhirnya bersedia menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, mimpinya sama sekali ditinggalkan.

Meskipun ia mengajukan syarat pernikahan yakni salah satunya meminta dibukanya sekolah khusus wanita dan orang miskin, cerita Kartini berhenti setelah ia menikah dan kehilangan kesempatan untuk melanjutkan beasiswa ke Belanda. Tidak ada kesimpulan yang absolut tentang tujuan dari film ini.

Hanung pun tampak tidak pasti dengan apa yang ingin ia tampilkan. Pertama ia ingin menampilkan Kartini sebagai pahlawan pendidikan tapi ia juga mengaku film ini dibuat sebagai protes atas budaya Jawa di masa lalu.

Secara terus terang sang sutradara menjelaskan maksud utama pembuatan film ini, “Saya kira pembuatan film biopik di Indonesia harus dilakukan lebih sering karena di era reformasi ini banyak referensi yang bermunculan.”

“Meskipun banyak referensi, saya tetap ingin membuat film biopik pahlawan yang ringan dan dapat dimengerti oleh generasi muda,” jelasnya.

Mempermainkan emosi

Alih-alih membuat film ini mudah diterima, kurangnya kedalaman cerita membuat film ini kehilangan isi. Hanya nama besar dan akting top yang menyelamatkannya. Kelebihan lain dari film ini adalah adegan-adegan yang mengundang haru. Sayangnya, adegan-adegan tersebut terasa terpisah dari satu dan lainnya.

Singkatnya, film Kartini yang akan datang pada 19 April ini cukup dapat mengoyak perasaan dengan penampilan para aktor yang meyakinkan. Namun jika Anda berharap untuk tahu lebih dalam tentang sisi lain Kartini, Anda harus siap untuk merasa sedikit kecewa. -Rappler.com