Indonesia

Wisata Bantaeng, dari pantai sampai Gunung

Uni Lubis
Wisata Bantaeng, dari pantai sampai Gunung
Dubes RI untuk Jepang kunjungi Bantaeng dan menikmati perkembangan pariwisata di sana.

 

BANTAENG, Sulawesi Selatan –  “Tinggal ditanami pohon Kemboja dengan bunga-bunganya yang khas, pantai ini sudah seindah pantai di Bali,” kata Arifin Tasrif kepada Bupati Bantaeng, Prof. M. Nurdin Abdullah.  

Arifin yang baru dilantik menjadi duta besar Republik Indonesia untuk Jepang itu, menyempatkan diri mengunjungi Kabupaten Bantaeng, awal pekan ini. Kabupaten ini menjadi contoh bagaimana kerjasama dengan berbagai pihak di Jepang dijalankan dengan baik.  

Dubes Arifin yang akan berangkat menjalankan tugasnya pada 20 April 2017, diajak menikmati sarapan pagi di Kawasan Pantai Marina, sekitar 18 kilometer dari tengah kota Bantaeng. Sepanjang perjalanan menuju kawasan yang terletak di Desa Baruga Kecamatan Pajukukang ini, mata dimanjakan oleh deburan ombak  laut yang lembut.  

Pantainya bepasir putih. “Kami memasang jejaring rumput laut, yang berfungsi sekaligus memecah ombak,” kata Bupati Nurdin. Rumput laut adalah komoditi andalan Bantaeng. Perjalanan ke sini ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit dari kota, melewati poros jalan menuju Kabupaten Bulukumba.

Kawasan Wisata Pantai Marina Bantaeng, (11/4/2017), Foto Uni Lubis/Rappler

Kawasan Pantai Marina dibangun di atas lahan seluas 35 hektar. Selain dilengkapi dengan gasibu atau tempat duduk di pinggir pantai, pemda membangun hotel dan tempat penginapan bekerjasama dengan berbagai pihak. Hotel Marina Beach misalnya, dibangun bersama sebuah bank pelat merah.  

Di kawasan itu juga ada bangunan-bangunan dengan kualitas interior kamar hotel bintang 4 dan 5, yang berfungsi sekaligus sebagai balai pendidikan dan latihan instansi pemerintah. 

“Tempat ini cocok untuk reuni keluarga besar, piknik perusahaan, sampai rapat kerja. Semua ada di sini termasuk fasilitas olahraga dan taman bermain,” kata Bupati Nurdin. 

Di bagian belakang kita bisa melihat bangunan-bangunan balai latihan kerja termasuk bengkel otomotif yang memperkerjakan tenaga ahli langsung dari Jepang.

Pengembangan Kawasan Pantai Marina menjadi salah satu upaya Bantaeng, sebuah kabupaten kecil berjarak 120 kilometer di selatan Makassar, membangun pariwisata. “Kami punya 21 km garis pantai, yang sebelumnya tidak terurus. 

Kecamatan Pajukukang adalah kecamatan paling kering, dengan curah hujan hanya sekitar dua bulan sepanjang tahun. Dulu, saat saya baru menjabat Bupati tahun 2008, kecamatan ini miskin,” kata Nurdin.

Maret tahun 2016, penulis berkunjung ke Pantai Marina ini dan menikmati indahnya matahari terbit (sunrise) dan matahari terbenam (sunset) di sini. Tak kalah dengan keindahan pantai-pantai yang sudah lebih dahulu populer di Indonesia.

BACA:  Revolusi Mental Terjadi di Kabupaten Bantaeng 

Sekarang, selain punya kawasan wisata yang menghidupi warganya dari usaha kuliner, sentra pengolahan sarang burung yang diekspor, kecamatan ini juga menjadi lokasi kawasan industri yang menampung pabrik permurnian mineral (smelter) dan pembangkit listrik. 

Pemasukan dari pariwisata yang 3 tahun lalu cuma Rp 35 juta, kini menjadi Rp 3,3 miliar per tahun 2016. Pemasukan wisata itu bukan hanya dari kawasan Pantai Marina. Banteng juga punya sejumlah tempat indah lainnya. Diantaranya: 

Pantai Seruni Bantaeng

Penulis datang ke sini tahun lalu, dan menikmati indahnya Pantai Seruni di siang hari. Tidak ada sampah, taman ditata indah.  Pemda membangun plaza tempat duduk-duduk menikmati pantai yang terletak persis di tengah kota, di seberang alun-alun utama. 

Bupati Nurdin yang melewatkan masa kuliah S2 dan S3 di Jepang menamai dengan Pantai Seruni, diambil dari bunga Seruni arau chrysanthemum, bunga yang populer di Jepang. Di Alun-alun juga dibangun rumah sakit kelas internasional RSUD Prof Andi Makkatutu, berlantai delapan. RSUD ini menjadi titik penting di kawasan pusat kegiatan utama di Bantaeng.

Pantai Seruni dan Alun-Alun Kota Bantaeng (8/3/2016), Foto Uni Lubis/Rappler

Senin malam (10/4/2017), Bupati Nurdin membawa Dubes Arifin Tasrif ke kawasan ini. Ada suasana berbeda. Lampu-lampu indah memeriahkan kawasan Pantai Seruni dan alun-alun. Suasana bagaikan pesta malam pergantian tahun baru. Meriah. Sebuah restoran apung yang dibangun Kementerian Kelautan dan Perikanan di sisi pantai sibuk melayani pengunjung.  

Di sisi lain, puluhan kafe yang dikelola anak muda sibuk melayani ratusan pengunjung yang menikmati udara sepoi-sepoi di pinggir pantai.  Ini pemandangan di Senin malam! Bukan akhir pekan.

Pantai Seruni Bantaeng di malam hari (10/4/2017) Foto Uni Lubis/Rappler

Tahun lalu ketika penulis ke sini, yang tergambar di benak adalah suasana keren di River Walk di Singapura.  Lantai tempat bersantai di pinggir laut dibuat dengan desain menarik. Saat itu lampu-lampu di alun-alun sudah ada, tapi tidak semeriah kali ini.  

Kawasan yang tadinya menyeramkan dan jorok, kini jadi pusat berkumpul warga, dari sore hingga malam. Di akhir pekan, bupati dan ribuan warga olahraga bersama. “Kota jadi lebih romantis, angka perceraian turun. Penghuni penjara pun berkurang,” kata Nurdin.  

Lembaga Pemasyarakatan terletak di sudut alun-alun. Penghuninya pasti ikut menikmati alunan musik yang menghibur pengunjung sampai lewat jam 23.00 wita, di awal pekan. Saya membayangkan bagaimana ramainya kawasan ini di akhir pekan?  “Penuh. Pengunjung datang dari Makassar dan kabupaten sekitar. Mereka parkir dengan rapi, tanpa ada yang mengurus. Kami biasakan sejak awal untuk menjaga kebersihan dan teratur. Ternyata bisa,” ujar Nurdin.

Minishow Farm Bantaeng

Dubes RI untuk Jepang Arifin (batik coklat) dan Bupati Bantaeng M.Nurdin Abdullah kunjungi Mini Show Farm di Desa Bontolojong, Kec. Ulu Ere, Bantaeng (11/4/2017). Foto oleh Uni Lubis/Rappler

Di Desa Bontolojong, Kecamatan Ulu Ere ini, pada tahun pertama menjabat bupati untuk periode pertamanya, Nurdin mencanangkan pengembangan penerapan standarisasi desa wisata di Kabupaten Bantaeng. Nurdin bertekad menjadikan kawasan yang letaknya 1300-1500 di atas permukaan laut ini, menjadi pusat agrowisata andalan di provinsi Sulsel. Infrastruktur jalan dibangun, desa ditata, petani diperkenalkan dengan pola tanam terrasering.

Trotoar di Desa Bontolojong, Desa Wisata di Bantaeng

Hasilnya, adalah pemandangan yang indah. Bukit diselimuti tanaman mulai dari coklat, jagung, dan beragam tanaman hortikultura. Jalan desa yang jaraknya 23 km dari Kota Banteng, desa terjauh dari kota, dipercantik dengan trotoar. Jalan dilapis aspal, cukup mulus. Udara dingin membuat perjalanan melalui jalan berkelok ke atas menyenangkan. Segar.

Mini Show Farm Desa Wisata Bontolojong, Kec Ulu Ere, Bantaeng (11/4/2017). Foto Uni Lubis/Rappler

Mata semakin dimanjakan ketika tiba di MiniShow Farm. Taman Bunga. Sejauh mata memandang adalah bunga beragam warna yang indah.  “Wah, ini seperti di Cibodas, Bogor. Bunganya indah dan ditata baik,” kata Dubes Arifin. Favorit para pengunjung adalah bunga Masamba. Bunga ini dikenal dengan bunga tiga bulan. 

Keindahan bunga ini pada bentuk bunganya yang menyerupai bula salju, warna bunga yang menarik serta kelopak bunga yang indah dengan bentuk bintang. Warnanya ada yang putih, keunguan dan merah muda. 

Pengunjung cukup membayar Rp 5.000 untuk menikmati taman bunga ini dan berfoto dengan latar-belakang yang keren. Di seberang taman ada deretan rumah panggung tradisional Banteng, bisa menjadi pilihan latar berfoto.  Desa wisata  ini sangat instagramable!  Puas foto-foto di sini.

Selain wisata pantai dan agrowisata, Bantaeng juga punya obyek wisata lain yang tak kalah menarik, seperti wisata air terjun. “Saya banyak mendengar tentang pembangunan daerah ini, tapi tidak menyangka bahwa tempat wisatanya juga ditata dengan menarik,” kata Dubes Arifin Tasrif. –Rappler.com

 

 

 

Add a comment

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.