Kisah Nanda bertemu belahan jiwa di Korea

Yetta Tondang
Kisah Nanda bertemu belahan jiwa di Korea
Hanya butuh beberapa bulan waktu pacaran sebelum akhirnya Verananda Putri memantapkan diri dan menikah dengan Park Jun

JAKARTA, Indonesia – Tak ada yang bisa menebak kapan dan di mana seseorang akan menemukan cinta sejati mereka. Itu pula yang mungkin dirasakan dan kini dijalani oleh Nanda Putri, wanita berusia 29 tahun asal Jakarta.

Beberapa saat lalu, kisah cinta Nanda menjadi viral di dunia maya, khususnya media sosial. Apa yang dilalui Nanda menjadi mimpi banyak orang di dunia. Menemukan pasangan yang mencintai kita tulus apa adanya.

Cerita Nanda bertambah seru karena ia bertemu dengan belahan jiwanya yang datang dari latar belakang budaya dan negara berbeda, Korea Selatan. Tapi dengan modal tekad dan cinta, keduanya membuktikan, tak ada yang bisa menghalangi cinta mereka.

Jatuh cinta di Seoul

Nanda yang saat ini bermukim di Seoul, Korea Selatan, kami hubungi lewat email beberapa saat lalu. Wanita kelahiran Jakarta ini pun bertutur soal kisah cintanya dengan Park Jun, pria asal Korea yang saat ini sudah resmi menjadi suaminya.

Semua bermula saat Nanda memutuskan untuk mengambil kelas bahasa Korea di Seoul National University. Nanda memang dikenal suka dengan segala sesuatu yang berbau Korea, termasuk mengagumi artis-artis asal Negeri Ginseng itu.

“Cuma suka aja, tapi enggak kepikiran untuk menikah sama orang Korea. Karena niat awalnya ya belajar Bahasa Korea karena suka aja,” kata Nanda yang juga penggemar tayangan variety show Korea, salah satunya Running Man.

Tapi jodoh memang tidak ke mana. Nanda akhirnya berkenalan dengan Jun. Singkat cerita, keduanya akhirnya resmi pacaran pertengahan tahun 2016. Seoul jadi saksi perkenalan mereka sampai akhirnya jatuh cinta dan mulai berpacaran.

Usia Jun yang lebih muda setahun dari Nanda pun tak pernah dianggap jadi penghalang. Meski saat itu Nanda sempat ragu, karena alasan perbedaan agama yang dianut mereka berdua.

Perbedaan agama

“Sebelum nikah kita pacaran enggak gitu lama, terus memutuskan untuk menikah. Dibilang cepat juga sih prosesnya padahal di awal enggak ada kepikiran buat nikah sama dia karena beda agama juga kan,” kata Nanda mengenang perjalanan cintanya dengan Jun.

Tapi Jun menunjukkan keseriusannya. Saat ia dan Nanda berlibur ke Pulau Nami bersama teman-teman mereka, kebetulan ayah Nanda bertelepon dari Indonesia. Momen itulah yang dimanfaatkan dengan baik oleh Jun untuk memohon restu dari ayah Nanda.

“Dia (Jun) brani ngobrol sama Papa dan dia bilang mau serius. Di situ dia bilang rencana selanjutnya, Febuari dia mau ke Jakarta buat memperkenalkan diri sekalian ngelamar secara indonesia. Keluarga saya enggak masalah, enggak ditentang, asal dia mau masuk Islam.”

Jun pun membulatkan tekad untuk mulai belajar agama Islam. Seminggu sekali, Nanda mendampingi Jun belajar. Hingga akhirnya Jun resmi memeluk agama Islam. Dan tak ada lagi halangan dan perbedaan yang bisa memisahkan keduanya.

Tidak ikut mempersiapkan pernikahan

Nanda dan Jun pun akhirnya sepakat untuk menggelar pernikahan di Jakarta, Februari 2017. Namun kendala jarak membuat Nanda dan Jun tidak bisa terlibat 100 persen untuk mempersiapkan pernikahan mereka di Jakarta. “Halangan banyak, karena pada saat itu saya masih sekolah, jadi enggak bisa urus semua dokumen sendiri di Jakarta, mulai dari baju, undangan semuanya saya enggak bisa urus sendiri.”

Untungnya ada kakak dan teman Nanda yang membantu segala persiapan pernikahan di Jakarta. “Untuk baju pengantin sendiri kami video call sama desainernya, ngukurnya juga ngukur sendiri. Karena kalau sewa, jawabannya ‘Sorry no size’. Ha ha ha.”

Sekitar bulan Desember 2016, kakak dan keponakan Nanda pun bertolak ke Seoul untuk berkenalan dengan Jun. Untungnya, tidak ada kendala bahasa, karena Jun sebelumnya lama tinggal di Australia. Sehingga semua komunikasi sehari-hari dilakukan dalam Bahasa Inggris. “Untungnya mereka cukup akrab,” kata Nanda soal hubungan Jun dengan keluarganya.

Ditanya apa alasannya menikah dengan Jun meski belum lama berpacaran, Nanda menjawab, “Karena saya percaya, saya sudah yakin, dan segala yang baik kenapa harus ditunda-tunda dan memang saatnya saya menikah.”

Uniknya, kata Nanda, Jun baru resmi melamar dirinya justru saat keduanya sudah heboh mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk menikah di Indonesia. “Beberapa hari sebelum saya berangkat ke Jakarta, Jun melamar ngajak nikah. Padahal dokumen udah disiapin baru dilamar. Ha ha ha.  Lalu berselang sebulan dia datang ke Jakarta untuk persiapan semuanya kayak fitting baju, lapor ke Kedutaaan Besar Korea, izin nikah dan lain-lain.”

“Empat hari setelahnya, keluarga dan teman-temannya datang ke Indonesia untuk melamar secara resmi ke keluarga saya, pakai acara lamaran ala Indonesia. Dan setelah itu kami menikah pada 27 Februari 2017.”

SBY jadi saksi

Pernikahan Jun dan Nanda digelar meriah dengan adat Minang, Sumatera Barat. Bahkan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) jadi saksi pernikahan keduanya.

Foto dari akun Instagram Verananda Putri.

Saat resepsi adat Minang, Nanda dan Jun kompak mengenakan busana bernuansa merah menyala berpadu emas. Penampilan Nanda bertambah cantik dengan tambahan aksesoris kepala, suntiang, yang menjadi ciri khas pengantin wanita asal Minang.

Keduanya pun tak melupakan budaya Korea Selatan. Jun dan Nanda terlihat kompak dan serasi saat mengenakan busana Korea bernuansa pastel. Ibu Jun yang juga hadir pun terlihat mengenakan hanbok, busana khas Korea.

Menyatukan perbedaan

Pernikahan adalah soal menyatukan dua hati dan dua pribadi yang berbeda. Itu pula yang dilakukan oleh Jun dan Nanda. Walaupun Nanda mengakui, kasusnya berbeda karena memiliki pasangan dengan latar belakang negara, budaya dan kebiasaan yang berbeda. Baik Nanda maupun Jun pun kini berusaha belajar dan menyesuaikan diri dengan budaya dan kebiasaan masing-masing.

“Contohnya kalau di Indonesia, bicara sama orang tua enggak ada bahasa sendiri. Kalau di sini ada. Jadi suami bicara dengan bahasa polite ke orang tuanya. Nah, kadang saya suka keceplosan pakai bahasa kayak sama teman. Tapi mereka cukup mengerti sih karena saya kan bukan orang Korea.”

Kebiasaan sehari-hari masing-masing pun kini berusaha dimengerti oleh Jun dan Nanda. Terutama Nanda yang kini menetap di Korea bersama Jun yang berprofesi sebagai desainer grafis. “Dia super teliti. Kalau belanja furnitur satu-satu diperhatiin warna dan ukurannya. Lama kalau milih furnitur. Sama orangnya rapi, lebih rapi dia daripada saya.”

Oh iya, menikah sama orang Korea dan hidup di Korea secara real jangan dipikir sama kaya di drama Korea. Semua drama setting-an kan, tidak seindah seperti di drama Korea, harus bisa pekerjaan rumah termasuk buang sampah.” -Rappler.com

Add a comment

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.