Ashraf Sinclair: Maskulinitas mengawal, bukan menundukkan feminisme

Rika Kurniawati
Ashraf Sinclair: Maskulinitas mengawal, bukan menundukkan feminisme
Ashraf Sinclair akan menjadi salah satu pembicara di Resonation, konferensi pemberdayaan perempuan, pada Sabtu, 29 April

JAKARTA, Indonesia — Kalimat “Di belakang laki-laki yang sukses ada perempuan yang hebat” kini tidak akan berdiri sendiri. Perempuan-perempuan yang karirnya bersinar mengakui bahwa mereka sangat terbantu oleh laki-laki yang menjadi pasangan hidupnya. 

Contohnya adalah pasangan selebriti Bunga Citra Lestari (BCL) dan Ashraf Sinclair.  

Bunga dikenal di Indonesia sebagai aktris dan penyanyi. Sedangkan Ashraf yang mengawali karir sebagai aktor di Malaysia, kini sukses berakting di Indonesia. Pria yang mempunyai hobi melukis itu juga mendalami dunia wirausaha dan investasi. 

Keduanya mempunyai karir masing-masing. Bunga sebagai seorang istri dan ibu tidak dikekang hanya untuk melakukan urusan rumah tangga dan mengurus anak.  

Konser satu dekade karir Bunga sebagai penyanyi yang diselenggarakan 1 Maret lalu membuktikan bahwa Ashraf menjadi salah satu pendukung terbesar atas karir Bunga. 

“Ashraf turut menyumbang pemikirannya, cintanya. Pendapatnya juga aku sangat dengarkan karena dia suami aku dan tenaganya pasti untuk membuat ini jadi nyata,” kata Bunga saat mengadakan konferensi pers konser “It’s me BCL” pada 17 Januari silam. 

Ashraf yang kini menjabat sebagai venture partner di 500 Startups menyadari pernikahan atau hubungan romantisme lainnya tidak boleh menjadi penghambat bagi masing-masing pribadi untuk mengembangkan diri. 

“Ayah mengumpamakan ibu saya sebagai layangan dan ia sebagai bola tali senar. Layangan dapat terbang setinggi mungkin dan tidak robek oleh kekuatan angin karena bantuan dari tali senar.”

“Ikatan pernikahan adalah ekspresi dari dua orang yang sepakat untuk hidup sepenuhnya. Dua orang yang berdampingan untuk berbagi momen tetapi masing-masing mempunyai jalannya sendiri,” kata Ashraf. 

“Kalian dapat melihat diri kalian yang sebenarnya di dalam mata orang terkasih kalian. Tantangan terbesar dan yang sangat bernilai adalah pengembangan pribadi masing-masing yang dapat kalian lihat di dalam mata orang terkasih kalian.” 

Ia kemudian menambahkan, ayahnyalah yang mendorongnya untuk menjadi suami yang suportif. 

“Ayah mengumpamakan ibu saya sebagai layangan dan ia sebagai bola tali senar. Keduanya bekerja sama dengan baik. Layangan dapat terbang setinggi mungkin dan tidak robek oleh kekuatan angin karena bantuan dari tali senar,” kata pria kelahiran 18 September 1979 ini. 

Ayah dari Noah Sinclair itu mempunyai perumpamaan sendiri terkait feminisme. Baginya semangat feminisme layaknya ombak; bebas dan tidak bisa diprediksi. 

Maskulinitas adalah pelaut yang mencoba mempelajari gerakan, cuaca, dan jiwa lautan atau perempuan. Pria sebagai pelaut menantang lautan, menikmati gerakan ombak dan dalam waktu yang sama merasakan cinta darinya. 

“Jiwa maskulin mencoba memahami dan mengawal, bukan menundukan jiwa feminisme,” ujarnya. 

Oleh karena itu, Ashraf juga ambil bagian besar dalam mengurus Noah yang kini berusia 6 tahun. Ayah Ashraf kembali memberi arahan kepadanya bahwa ia harus ada di setiap momen anaknya bertumbuh. 

“Ada periode waktu yang harusnya bisa kita gunakan untuk mengejar karir tetapi harus kita korbankan. Pengorbanan itu akan menjadi arahan terbaik bagi pasangan dan anak kalian. Apapun akan saya lakukan untuk Noah, kecuali menyusui,” katanya. 

Prinsip hidup Ashraf sebagai suami dan ayah yang menginspirasi dapat kita dengar lebih lengkap di Resonation, konferensi pemberdayaan perempuan yang akan diselenggarakan pada Sabtu, 29 April, di Kota Kasablanka, Jakarta. 

Seminar dan sesi group mentoring di acara tersebut diharapkan dapat membuat perempuan-perempuan Indonesia berani mengejar cita-cita dan mengembangkan karir. 

Ashraf akan berada di Men’s Panel pada pukul 17:15 WIB bersama dengan pria-pria lain yang mendukung pemberdayaan perempuan. 

Pembicara lain pada panel tersebut yaitu Johan Ekengård, seorang ayah di Swedia yang menggunakan program paternal leave  di negara tersebut dengan tepat, dan Henry Manampiring, penulis buku The Alpha Girl’s GuideBuku itu berisi panduan bagaimana menjadi perempuan yang menginspirasi, memengaruhi orang lain secara positif, dan mampu menjadi pemimpin.  

Siap menjadi perempuan inspiratif? —Rappler.com

Dapatkan tiket masuk Resonation di laman iniKeterangan lebih lanjut, kunjungi www.resonation.id dan ikuti update terbaru di Instagram @Resonationid.

BACA JUGA:

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.