Kisah pasangan buruh yang berjuang mencari biaya pengobatan anaknya

Ari Susanto
Kisah pasangan buruh yang berjuang mencari biaya pengobatan anaknya
Suami-istri Aldi dan Ika menggalang dana untuk obati anak bayinya yang berusia 6 bulan. Kizzy, nama bayi itu, menderita atresia bilier. Pendapatan ayahnya yang hanya Rp1,5 juta per bulan tak mencukupi

KLATEN, Indonesia – Ika Triyasari menggendong sembari menyusui bayinya yang berusia enam bulan, Zyuanna Alea Kizzy, yang sedang menangis. Sore itu, suaminya yang baru tiba di rumahnya sepulang kerja langsung mendekati si buah hati yang hampir terlelap dalam pelukan ibunya, lalu mengelus kepalanya.

Pasangan muda ini tinggal di sebuah rumah pedesaan di Desa Meger, Kecamatan Ceper, Klaten, Jawa Tengah. Sang suami, Aldi Krisnadani, sehari-hari bekerja di pabrik konstruksi atap bangunan di Kartasura, Sukoharjo. Sementara istrinya adalah karyawan pabrik plastik di Colomadu, Karanganyar.

Saban hari, keduanya menempuh jarak puluhan kilometer pulang-pergi untuk mencari nafkah dan menghidupi kedua anaknya. Seperti pekerja antarkota lainnya, mereka pergi pagi dan pulang senja hari.

Namun, belum lama ini, Ika terpaksa berhenti dari pekerjaanya meskipun ia dengan berat hati kehilangan penghasilannya. Sekarang, suaminya menjadi satu-satunya gantungan hidup keluarga.

“Memang berat, biasanya ada dua sumber penghasilan, sekarang hanya satu,” kata Ika.

Ika tak lagi bisa membantu suaminya memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia harus merawat anak bungsunya di rumah. Bayi yang biasa dipanggil Kizzy itu menderita penyakit langka dan membutuhkan perhatian lebih dari ibunya.

Tak seperti kakak laki-lakinya yang sehat, bayi perempuan yang lahir November tahun lalu itu didiagnosa menderita atresia bilier. Perkembangan saluran empedunya tidak sempurna sehingga berakibat pada penyumbatan. 

Sepintas, Kizzy memang tampak tak berbeda dengan bayi lain, kecuali bobot tubuhnya yang sulit naik. Di usianya yang setengah tahun, berat badan Kizzy hanya 5 kilogram, di bawah rata-rata bayi normal seusianya.

“Dokter memperkirakan biayanya Rp1,3 hingga Rp1,6 miliar. BPJS hanya bisa membiayai maksimal Rp200 juta. Sementara pekerjaan kami hanya buruh.”

Kizzy baru diketahui menderita penyakit langka ini sejak berusia dua bulan, yang ditandai dengan perubahan warna pada mata, kulit, dan urin yang semakin menguning. Gejala ini tidak menghilang selama berminggu-minggu meskipun si bayi sudah menjalani terapi medis dan penjemuran.

“Saran dokter sering dijemur setiap pagi seperti bayi kuning pada umumnya, tetapi tidak juga membaik,” ujar Ika.

Kizzy sempat ditangani dokter anak di Klaten, sebelum akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta untuk menjalani pemeriksaan secara lengkap. Bayi itu menjalani rawat jalan setiap minggu sebelum menjalani operasi pembuatan pengganti saluran empedunya yang tidak berfungsi, pada 7 Februari lalu.

Namun, rupanya kesedihan orangtua tak lantas hilang setelah keberhasilan operasi itu karena dokter menemukan bahwa saluran empedu bukan satu-satunya kelainan pada tubuh sang bayi. Kizzy juga divonis menderita sirosis; kerusakan pada hati yang tak bisa disembuhkan dan dalam jangka panjang berakibat kegagalan fungsi hati.

Sebagian organ hati Kizzy sudah menghitam dan akan terus menjalar ke semua bagian. Orangtuanya pun semakin kalut dan hampir pasrah dengan kondisi anaknya.

Satu-satunya jalan keluar adalah operasi cangkok hati yang bisa dilakukan setelah bayi berusia satu tahun dengan berat badan minimal 10 kilogram. Namun, tindakan medis ini membutuhkan biaya fantastis yang nyaris tak mungkin bisa ditutup dari pendapatan mereka sebagai pekerja pabrik.

“Dokter memperkirakan biayanya Rp1,3 hingga Rp1,6 miliar. BPJS hanya bisa membiayai maksimal Rp200 juta. Sementara pekerjaan kami hanya buruh,” ujar Aldi.

Ika sadar bahwa mereka tak akan sanggup membiayai pengobatan anaknya. Penghasilan suaminya yang hanya Rp1,5 juta per bulan kini hanya bisa digunakan untuk bertahan hidup, tanpa bisa disisihkan di tabungan.

Mencari pinjaman ke perusahaan tempat Aldi bekerja jelas tidak mungkin karena jumlahnya yang terlalu besar. Keluarga itu juga tak punya aset pribadi yang bisa dijual untuk menutup biaya pengobatan anaknya.

Untuk mempertahankan hidup anaknya, keduanya harus mencari cara lain. Mereka sudah mencoba untuk menggalang dana bantuan dari para dermawan secara online lewat situs kitabisa.com. Beberapa teman mereka yang peduli juga ikut membantu mengunggah tautan itu di media sosial.

Belum lagi selesai soal pendanaan cangkok hati, dokter kembali menemukan kelainan, yaitu kebocoran pada jantung bayi. Namun, kondisi ini masih perlu observasi dalam beberapa tahun untuk mengetahui apakah kebocoran akan menutup dengan sendirinya seiring dengan perkembangan jantung si bayi. Jika tidak membaik, dokter juga akan menyarankan Kizzy dioperasi di kemudian hari.

Bayi mungil itu juga diketahui memiliki kelainan pada tulang belakang yang tumbuh tidak normal yang oleh dokter disebut spina bifida. Kondisi ini disebabkan oleh cacat bawaan sejak lahir.

Aldi dan Ika ini nyaris tak punya asa terhadap kondisi kesehatan anaknya. Mereka melihat orangtua dari pasien lain yang juga menderita sirosis menyerah karena tak punya biaya, dan hanya pasrah sambil menghitung umur anaknya.

“Kami sadar tidak punya uang sebanyak itu. Tetapi kami ingin sekali anak kami sembuh, meskipun caranya terpaksa dengan berharap bantuan orang lain,” kata Ika.

“Sebenarnya malu, tetapi kami tak punya pilihan lain demi anak. Seandainya bisa memilih, saya tidak ingin anak menderita penyakit ini.”

Kini tiap pekan, Kizzy terus menjalani kontrol di RS Sardjito untuk memantau kondisi kesehatannya. Tidak semua biaya pengobatan tercakup oleh BPJS, sehingga Aldi dan Ika harus merogoh kocek sendiri untuk perawatan anaknya, termasuk untuk membeli susu khusus yang harganya lebih dari Rp300.000 per setengah kilogram dan suntik vitamin K dua kali seminggu.

Hingga hari ini, belum ada bantuan dari Dinas Kesehatan setempat maupun kepala daerah. Namun, Aldi dan Ika berterima kasih karena masih ada orang yang menelpon mereka dan bersedia memberikan donasi untuk biaya pengobatan Kizzy.

Jika Anda terpanggil untuk membantu pengobatan Kizzy, Anda dapat memberi donasi melalui laman ini atau kilk tombol “donasi sekarang” di bawah ini.

—Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.