Menjadi seorang bhikkhu

Wirawan Perdana
Menjadi seorang bhikkhu
Apa yang membuat seseorang menjadi seorang bhikkhu dan bagaimana gaya hidupnya?

MAGELANG, Indonesia — Menjadi seorang bhikkhu adalah pilihan. Dalam ajaran Buddha, seorang bhikkhu harus bisa mengendalikan diri sesuai dengan patimokkha (peraturan-peraturan Bhikhhu), sempurna dalam kelakuan, perbuatan, dan ucapan. 

Tugas utama seorang bhikkhu adalah menyingkirkan lima rintangan (panca nivarana) dari dirinya. Kelima rintangan itu adalah:

  • Nafsu duniawi dari dirinya
  • Itikad-itikad jahat
  • Kemalasan dan kelambanan
  • Kegelisahan dan kekhawatiran
  • Keragu-raguan

Ketika rintangan-rintangan ini telah dilalui, maka timbullah secercah kebahagiaan dalam diri seorang bhikkhu, yang merupakan tujuan utama dari ajaran Buddha.

Lantas, apa yang membuat seseorang memilih menjadi bhikkhu? Rappler berbincang dengan seorang bhikkhu, Bhante Ati, saat perayaan Hari Raya Waisak di sekitar Candi Borobudur pada pertengahan Mei lalu. 

Bhante Ati mengatakan, pada awalnya ia mengalami kejenuhan dalam hidup. Kejenuhan itu yang membuat manusia mencari pelarian berupa hiburan atau apapun yang menyenangkan kita secara fisik, tapi tidak secara batin.

“Itulah yang disebut seperti ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang mau dicari,” kata Bhante Ati.

Dari sana ia mulai mendalami ajaran Buddha dan semakin larut dalam pencariannya. Dari awalnya ingin mencari tahu, ia berlatih hingga belajar lebih dalam dan akhirnya menjadi seorang bhikkhu.

Dalam praktiknya, menjadi bhikkhu harus melepas kesenangan duniawi. Oleh karena itu, hidupnya pun teratur sejak matahari terbit hingga terbenam.

“Kehidupan bhikhhu itu harus teratur, dalam arti full suatu hari dari bangun tidur kita sudah harus punya kesadaran yang harus kita pegang sampai tertidur di malam hari,” kata Bhante Anti.

Misalnya, sebelum pukul 6 pagi, ia sudah harus membaca paritta, sebuah bacaan untuk mendapatkan perlindungan penuh. Kemudian dilanjutkan dengan meditasi dan Pindapatta.

“Pindapatta itu mengumpulkan makanan dari lingkungan vihara atau tempat yang bisa untuk ber-pindapatta,” kata Bhante Ati.

Setelah itu, para bhikkhu pun makan dari hasil Pindapatta.

Pada sore hari menjelang malam, mereka melakukan bersih-bersih di vihara atau lingkungan sekitar dilanjutkan dengan paritta sore dan meditasi.

Ketika ditanya apa ajaran Buddha yang bisa diterapkan dalam masyarakat, Bhante Ati menjawab, bahwa kita harus berdamai terlebih dahulu dengan diri sendiri.

“Sebelum ke masyarakat, tujuan dari agama Buddha itu adalah Nibbana atau kebahagiaan tertinggi. Bagaimana kita mau membahagiakan ke luar kalau kita sendiri tidak berbahagia?” katanya.

Menurutnya, salah satu caranya adalah dengan membebaskan diri dari keserakahan, keinginan yang terlalu besar, hingga kepikiran terus. Itu yang membuat kita akhirnya tidak bahagia. 

Dengan demikian, makan akan tercipta kedamaian dalam diri yang kemudian dapat disebarkan ke orang-orang terdekat kita. —Rappler.com

BACA JUGA:

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.