‘Pirates of the Caribbean 5’: Nikmati saja perjalanannya

Karina Maharani
‘Pirates of the Caribbean 5’: Nikmati saja perjalanannya
'Pirates of the Caribbean: Salazar's Revenge' memperbaiki beberapa kesalahan film sebelumnya dan cukup menyenangkan, asal tidak dipikirkan terlalu dalam!

JAKARTA, Indonesia — Seri film Pirates of the Caribbean adalah salah satu franchise film tersukses sepanjang masa, setidaknya dari segi penghasilan. Tiga film pertamanya juga cukup dihargai oleh kritikus, terutama film perdana Curse of the Black Pearl. Tapi film ke-4, On Stranger Tides, mendapat tanggapan negatif dari kritikus dan juga banyak penggemar meski tetap cukup sukses di box office. Apakah film terbaru Salazar’s Revenge lebih baik dari pendahulunya itu?

Menurut saya, iya, asal jangan terlalu banyak dipikirkan.

Kembalinya Will Turner dan Elizabeth Swann

Salazar’s Revenge mengangkat lagi benang cerita yang ditinggalkan di akhir film ketiga, yaitu kutukan yang dijatuhkan kepada Will Turner yang diperankan oleh Orlando Bloom. Will terpaksa mengarungi lautan bersama kapal The Flying Dutchman dan terpisah dari istrinya, Elizabeth Swann (Keira Knightley), dan anaknya, Henry (Brenton Thwaites).

Tapi Henry, yang diwarisi semangat petualang ayah dan ibunya tidak mau tinggal diam. Dia berangkat untuk mencari Trisula Poseidon, sebuah harta karun yang konon dapat memecahkan kutukan ayahnya.

Awal film ini cukup lambat dan dipenuhi dengan eksposisi yang agak berlebihan. Masuknya bajak laut favorit kita, Kapten Jack Sparrow (Johnny Depp) memberikan sedikit bumbu yang lebih, tapi Salazar’s Revenge baru benar-benar hidup setelah Jack, Henry dan seorang astronom perempuan bernama Carina Smyth (Kaya Scodelario) meninggalkan pulau St. Martin dan mulai mengarungi samudera.

Mencerminkan film pertama

Salazar’s Revenge ini sebenarnya mengambil jalan cerita yang sangat mirip film pertama franchise POTC, Curse of the Black Pearl. Kisah cinta Henry dan Carina mencerminkan kisah cinta Will dan Elizabeth, sementara antagonis utama, Armando Salazar (Javier Bardem) dan kru “zombie”-nya sangat mirip dengan Kapten Hector Barbossa (Geoffrey Rush) dan kawan-kawan di film pertama.

Mungkin karena kemiripan itu, menurut saya, film ini lebih berhasil daripada On Stranger Tides. Screenplay Salazar’s Revenge juga dipenuhi permainan kata dan lelucon-lelucon yang lebih lucu daripada film sebelumnya. Mengembalikan Jack Sparrow menjadi peran pendukung juga adalah pilihan yang tepat. Ulah-ulah Jack kalau ditampilkan terlalu banyak akan mulai menjengkelkan. 

Set piece yang ditampilkan juga lebih memukau daripada film ke-4, apalagi kalau ditonton di IMAX 3D. Tembakan meriam, serangan hiu zombie, laut yang terbelah — semua ditampilkan dengan apik dalam Salazar’s Revenge.

Sit back and enjoy the ride

Tapi tentunya film ini tidak sempurna. Dialog yang bukan lelucon cenderung canggung dan melodramatis. Para pemeran utama, Thwaites dan Scoledario, tidak se-charming Bloom dan Knightley pada film tiga film pertama. Dan sebenarnya, kalau dipikirkan terlalu lama, jalan cerita Salazar’s Revenge dipenuhi absurditas dan tidak terlalu masuk akal, 

Tapi ini bukan sebuah film yang seharusnya dipikirkan terlalu dalam. Ini adalah film di mana kamu harus duduk rileks dan nikmati perjalanannya tanpa merenungkan arti di baliknya. Jika kamu ingin melepas stres di akhir pekan dengan film penuh aksi dan tawa, inilah film untukmu.

Kamu belom menonton filmnya? Biar tidak susah mencari parkir dan macet, kalian bisa pergi ke lokasi nonton sekarang dengan menggunakan kupon UBER!

 

—Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.