Kapolda Papua: Tidak ada pembakaran kitab suci

Banjir Ambarita
Kapolda Papua: Tidak ada pembakaran kitab suci
Menurut Kapolda Boy Rafli Amar, buku yang terbakar berisi asal-usul masuknya satu agama tertentu, bukan kitab suci.

JAYAPURA, Indonesia – Kapolda Papua, Irjen Pol Boy Rafli Amar membantah telah terjadi pembakaran kitab suci Alkitab di lingkungan markas Korem 172 PWY seperti yang ramai ditulis di media sosial. Yang dibakar merupakan buku mengenai asal-usul agama. Kesimpulan sementara diambil oleh Boy berdasarkan penyelidikan awal.

“Dari hasil penyelidikan sementara, yang terbakar adalah buku tentang asal-usul agama, bukan kitab suci. Polisi masih menelusuri siapa penyebar isu di media sosial yang memancing atau memicu kemarahan warga,” ujar Boy yang ditemui pada Jumat, 26 Mei.

Pihak Kodam 17 Cendrawasih menyatakan telah memeriksa satu anggota TNI terkait terbakarnya buku mengenai agama itu.

“Saya yang bertanggung jawab atas insiden ini. Jika nanti ada anggota yang terbukti, maka akan diproses secara terbuka dan transparan,” ujar Pangdam 17 Cendrawasih George E. Supit di hari yang sama.

Isu terbakarnya kitab suci di Papua, bermula dari salah satu anggota TNI Korem 172 Prja Wira Yakhti yang melakukan bersih-bersih lingkungan. Dia menemukan dus di dalam gudang, kemudian isinya dibakar begitu saja tanpa dicek lebih dulu. Seseorang diduga mengabadikan proses pembakaran itu, lalu menyebarluaskan di media sosial dengan membuat narasi seolah yang dibakar oleh personel TNI adalah kitab suci agama tertentu.

Foto itu kemudian memantik kemarahan warga Padangbulan, Jayapura. Pada Kamis, 25 Mei sekitar pukul 13:30 WIB, warga memblokir ruas jalan utama rute Abepura-Sentani, khususnya yang berada di depan Markas Korem 172.

Dikeroyok massa

BLOKIR. Massa memblokir jalan di depan markas Korem 172 Papua usai mengetahu isu ada kitab suci yang dibakar oleh personel TNI pada Kamis, 25 Mei. Foto oleh Banjir Ambarita/Rappler

Kapolresta Jayapura AKBP Tober Sirait langsung menuju ke lokasi untuk menenangkan massa. Tetapi, Tober justru dikeroyok massa.

Tober datang ke lokasi bersama ajudannya, Bripda Nyoman. Sebelum bertambah runyam, beberapa warga yang mengenali wajah Tober, langsung membantu membawa ke mobil. Tober dan Nyoman dilarikan ke rumah sakit untuk menerima perawatan.

Akibat dikeroyok, baik Tober dan Nyoman mengalami luka yang cukup parah. Tober mengalami luka di bagian dada sebelah kiri, memar di bagian kepala akibat lemparan batu dan luka memar di bagian badan.

Sementara, sang ajudan mengalami luka di pelipis sebelah kiri, hidung retak, punggung mengalami luka sobek akibat pelemparan dan pemukulan dengan benda tumpul dan tajam. – Rappler.com

Add a comment

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.