Drama proses deportasi mantan terpidana Schapelle Corby

Rappler.com
Drama proses deportasi mantan terpidana Schapelle Corby
Selama proses deportasi, Corby dikawal oleh sekitar 100 personel polisi.

JAKARTA, Indonesia – Mantan terpidana kasus narkoba asal Australia, Schapelle Leigh Corby selalu menjadi pusat perhatian. Hal itu sudah dimulai saat dia ditangkap, masuk proses persidangan, dibebaskan secara bersyarat dan ketika dideportasi.

Proses deportasi ini pun tak luput diwarnai drama. Puluhan media baik lokal maupun internasional sedang menunggu sejak beberapa hari sebelum mantan siswa sekolah kecantikan itu resmi dibebaskan pada Sabtu, 27 Mei. Bahkan, dalam akun instagramnya, Corby merekam detik-detik mobil lembaga pemasyarakatan Kerobokan Denpasar membawanya ke kantor Bapas.

Media mengerubungi mobil tersebut. Bahkan, satu jurnalis yang coba mendekati mobil Toyota Innova yang mengangkut Corby, terjatuh usai memanjat dinding pembatas.

Perempuan berusia 39 tahun itu dideportasi ke Brisbane, Australia setelah menjalani proses pembebasan bersyarat sejak tahun 2014 lalu. Corby divonis 20 tahun penjara pada tahun 2005, setelah terbukti berupaya menyelundupkan psikotropika kelas I yakni mariyuana seberat 4,2 kilogram di dalam tas papan selancarnya.

Setelah beberapa kali memperoleh pemotongan masa tahanan, Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono mengabulkan grasinya dan memotong masa tahanannya sebanyak lima tahun.

Lalu, mengapa Corby akhirnya diizinkan pulang ke negara asalnya? Kepala Bagian Humas dan Umum Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Agung Sampurno mengatakan Corby dipulangkan karena telah selesai menjalani masa hukuman pidana.

“Orang asing yang melakukan tindak pidana di Indonesia, kemudian dikenakan hukuman pidana penjara, itu kan melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan. Setiap orang asing yang melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan bisa dikenai deportasi,” ujar Agung seperti dikutip media pada Sabtu, 27 Mei.

Dia menjelaskan, selama Corby berada di dalam tahanan, dia tidak membutuhkan izin tinggal. Namun, kini setelah dia menjalani proses pembebasan bersyarat maka harus ada izin tinggal yang harus dia miliki.

“Ketika dia keluar (dari penjara) dan tidak memiliki izin itu, maka dia harus dideportasi. Soal apakah dia punya izin (tinggal) atau tidak, dengan sendirinya sudah gugur, karena semua sudah terkena di pidana awal,” kata Agung merujuk ke Undang-Undang nomor 6 tahun 2011 mengenai keimigrasian.

Namun, terkesan ada perlakuan yang istimewa yang diterima oleh Corby. Lantaran personel polisi mengerahkan sekitar 100 orang untuk mengawal dan memastikan bahwa Corby dapat tiba di bandara.

Proses pengawalan dan deportasi dimulai dari kediaman menuju ke kantor Badan Pemasyarakatan. Di sana, Corby menerima surat pernyataan telah bebas murni dari kasus yang menjeratnya.

Pengawalan terus berlanjut menuju ke Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Semula, Corby dijadwalkan akan terbang menggunakan maskapai Virgin Airways sekitar pukul 22:00 WITA. Namun, rupanya setengah jam sebelum berangkat, pihak keluarga mengabarkan kepada Kantor Wilayah Hukum dan HAM Provinsi Bali bahwa mereka pulang dengan menumpang pesawat Malindo Air menuju ke Brisbane.

“Jadi (pulang) dengan menumpang Malindo Air menuju ke Australia jam 22:00 WITA take off,” ujar Kepala Kantor Wilayah Hukum dan HAM Provinsi Bali, Ida Bagus K. Adnyana kepada media.

Corby mengabadikan momen di dalam kabin sebelum pesawat take off dengan tulisan di akun instagramnya “boarded”.

Boarded

A post shared by Schapellecorby (@schapelle.corby) on

Menyesuaikan diri

IRING-IRINGAN. Polisi mengawal iring-iringan kendaraan warga Australia, Schapelle Leigh Corby dan Konsulat Australia saat melapor terakhir kali di Balai Pemasyarakatan Denpasar, Sabtu, 27 Mei. Foto oleh Nyoman Budhiana/ANTARA

Corby dan kakaknya, Mercedes, akhirnya tiba di Brisbane pada Minggu pagi. Namun, beberapa jurnalis televisi sudah tiba di sana dan menyiarkan ketibaan mereka berdua secara langsung. Mereka gagal mendapatkan komentar dari Corby dan Mercedes.

Pernyataan tertulis dari keluarga kemudian dibacakan oleh salah satu petugas keamanan di bandara.

“Dengan penuh rasa syukur dan lega, pada pagi ini kami menandai kembalinya Schapelle Corby ke Australia. Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada para pendukung Schapelle dengan semua keyakinan, cinta dan dukungan yang telah ditunjukan selama bertahun-tahun lamanya,” ujar keluarga Corby melalui pernyataan tertulis tersebut.

Fokus mereka saat ini yaitu ke pemulihan dan terus menjalankan hidup.

Ibu Corby, Rose, pada pekan ini mengaku dia khawatir putrinya akan kesulitan menyesuaikan diri hidup di Negeri Kanguru. Apalagi di tengah kejaran media yang begitu kekeuh ingin mendapat pernyataan dari Corby usai dia dinyatakan bebas murni.

Keluarga juga menantikan kepulangan Corby agar dia bisa menabur abu dari jasad ayahnya di suatu lokasi yang dirahasiakan. Sang ayah meninggal akibat kanker sembilan tahun lalu.

“Dia dan ayahnya begitu dekat. Ketika kita semua sudah berkumpul dan itu waktu yang tepat, maka kami akan menabur abunya di lokasi yang dia inginkan. Kami tidak bisa melakukan itu tanpa Schapelle,” kata Rose kepada Gold Coast Bulletin pada Jumat kemarin.

Kisah Corby menarik perhatian media Australia karena sejak awal dia membantah berniat menyelundupkan narkoba ke Pulau Dewata. Selama di persidangan, dia kerap menyatakan ada suatu upaya konspirasi untuk membuatnya terlihat bersalah. Publik dan media Negeri Kanguru pun bersimpati terhadap nasib Corby.

Sementara, publik Indonesia menanggapi dengan sudut pandang berbeda. Media menjulukinya sebagai “Ratu Mariyuana”.

Bahkan, hanya sedikit publik di Indonesia yang bersimpati. Sebagian justru mempertanyakan mengapa Corby lolos dari vonis mati dan bahkan mendapat grasi dari Presiden SBY. – dengan laporan AFP/Rappler.com

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.