Ernesto Valverde dan identitas Barcelona yang hilang

Agung Putu Iskandar
Bersama Enrique, Barca menjelma menjadi tim yang terlalu flamboyan. Sesuatu yang begitu jauh dari nilai tradisi Catalonia.

Selamat datang kembali, Ernesto! Foto: Akun Twitter Barcelona

JAKARTA, Indonesia – Tak ada satupun nama pelatih Liga Inggris yang disebut. Dalam pengumuman penting yang disampaikan Barcelona, Senin, 29 malam waktu setempat, justru nama yang tidak terlalu tenar yang diungkap Presiden Barcelona Josep Maria Bartomeu sebagai pengganti Luis Enrique: Ernesto Valverde.

Padahal, dua nama tenar dari liga paling glamor di dunia itu sempat memenuhi udara: Ronald Koeman dan Mauricio Pochettino.

Pochettino bahkan dikabarkan beberapa kali bertemu manajemen Blaugrana. Dia juga sempat beberapa kali pergi ke Catalonia. Nama Koeman, yang kini membesut Everton, juga disebut lantaran kedekatannya dengan klub tempat dia menjadi legenda itu.

Media Inggris Independent menyebut, internal Barcelona ada yang menginginkan asisten Luis Enrique, Juan Carlos Unzue, sebagai pelatih anyar. Namun, keputusan bulat akhirnya mengarah pada Valverde. Kebetulan, pelatih 53 tahun itu sedang tidak memperpanjang kontraknya dengan Athletic Bilbao. Klub yang dia tangani sejak 2013.

Kesepakatan antara Valverde dan Barcelona juga terjadi begitu cepat. Azulgrana lebih banyak berbicara dengan perwakilan Valverde daripada dengan mantan pemainnya itu secara langsung. Bahkan, pelatih kelahiran Viandar de la Vera, Spanyol, itu menjadi orang terakhir yang mengetahui bahwa dia adalah pelatih anyar Barca.

Nama Valverde tidak begitu populer. Dia justru lebih dikenal sebagai lelaki asal Basque, sebuah region di Spanyol yang memiliki tradisi budaya yang kuat seperti Barcelona. Hal itu karena dia identik dengan Athletic Bilbao, klub kebanggaan “negara” Basque.

Valverde bergabung dengan Bilbao sebagai pemain pada 1990-1996 dan kembali lagi menjadi pelatih pada 2013 sampai tahun ini. Padahal, di Bilbao, tidak sembarangan orang boleh masuk sebagai pemain, apalagi pelatih. Hanya orang-orang “asli” Basque yang bisa masuk.

Valverde sendiri bukan lelaki kelahiran Basque. Tapi di Viandar de la Vera yang masuk kawasan Extremadura. Namun, dia pindah ke wilayah bangsa tersebut saat masih kanak-kanak. Terbukti, meski bukan asli kelahiran daerah tersebut, Valverde mampu mengemban nilai-nilai negara Basque.

Membesut klub seperti Bilbao dengan ketatnya aturan “hanya untuk orang Basque” jelas tidak mudah. Tanpa para pemain yang mudah dibeli di pasar transfer, mereka hanya bisa mengandalkan produk akademi sendiri.

Di sinilah peran sentral orang-orang seperti Valverde. Sebab, tidak semua lulusan akademi bisa seperti Lionel Messi yang lulus dari akademi La Masia. Justru sebagian besar adalah talenta mentah yang tidak berpengalaman, emosional, dan penuh beban mental.

Nama-nama seperti Aymeric Laporte dan Inigo Ruiz de Galarreta adalah segelintir para pemain “ingusan” yang tiba-tiba mendapat kesempatan tampil di kompetisi tertinggi di tangan Valverde.

Mengembalikan identitas Barcelona

Karena itulah, hanya pelatih yang memiliki ketelatenan, kesabaran, dan kepercayaan besar pada anak asuhnya yang bisa melakukannya.  Dan itu bukan sembarang orang.

Terbukti, di antara nama-nama besar pelatih dunia, hanya sedikit yang memberi perhatian khusus pada pemain lokal produk binaan sendiri. Jose Mourinho, yang meraih begitu banyak piala dengan berbagai klub, baru melirik akademi Manchester United saat klub tersebut sudah kehabisan stok pemain karena cedera.

Di klub-klub besar yang dia tangani seperti Inter Milan, Chelsea, dan Real Madrid, dia lebih banyak mengandalkan para pemain jadi yang dibeli di bursa transfer.

Begitu juga Luis Enrique di Barcelona. Enrique tidak memiliki komitmen terhadap pemain lokal. Satu-satunya pemain lokal yang menjadi starter di bawah lelaki asal Gijon itu hanya Sergi Roberto. Rafinha tetap dicadangkan meski dipanggil kembali dari masa peminjaman di Celta Vigo.

Sementara itu, Pedro Rodriguez, Sandro Ramirez, dan Munir El Haddadi lebih memilih cabut demi waktu bermain lebih banyak.

Tak hanya dalam pilihan pemain, kritikan untuk Enrique juga menyorot fokus permainan Barca yang berubah. Tim yang secara tradisi lebih mementingkan dominasi permainan di lapangan tengah itu kini hanya mengandalkan serangan.

Sejak trio Neymar, Luis Suarez, dan Lionel Messi dalam satu paket MSN, Barca lebih menekankan pada jumlah gol daripada membangun dominasi dari lini tengah.

Enrique sempat berusaha mengatasinya dengan mendatangkan Andre Gomes dan Denis Suarez. Tapi kedua pemain itu keteteran mendominasi permainan setiap kali Andres Iniesta absen.

Memang, Enrique tak bisa dianggap gagal. Di musim pertamanya dia langsung mempersembahkan treble winners, mengulangi era Josep Guardiola. Di musim kedua dia membawa Barca meraih double winner.

Di musim ketiga, Barca juga tetap meraih gelar meski hanya Copa del Rey. Namun, seperti kata Bartomeu dalam sebuah kesempatan, “Tim ini dibangun tidak sekadar untuk mencari kemenangan. Tapi meraihnya dengan cara-cara yang indah.”

Nilai-nilai itulah yang kini menjadi beban bagi Valverde. Apalagi, dia juga masih menjadi bagian dari “klan” Johan Cruyff, legenda yang meletakkan dasar-dasar permainan Barcelona.  Valverde menjadi bagian dari skuat Cruyff saat memperkuat raksasa Spanyol itu pada 1988-1990.

Valverde, meski lebih condong sebagai warga Basque daripada Catalonia, juga tak asing dengan budaya dan tradisi mereka. Sebab, sudah dua tim Catalonia pernah dia perkuat. Selain Barca, dia pernah bergabung dengan Espanyol, baik sebagai pemain maupun pelatih.

“Valverde memiliki kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman. Dia mempromosikan para pemain muda dan memiliki tradisi Barca dalam dirinya. Kami mengetahui siapa dirinya dan kami tahu apa yang bisa dia lakukan,” kata Bartomeu.—Rappler.com

Add a comment

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.