JAKARTA, Indonesia – Ahmad Miftah tidak menyangka kalau penghuni rumah kontrakannya menjadi korban persekusi daring. Pada Rabu, 30 Mei, anggota Front Pembela Islam (FPI) mendatangi PMA, seorang remaja berusia 15 tahun untuk menuntut permintaan maaf.
“Sekitar jam 10 (malam) ada yang bilang dari FPI (datang) ke rumah saya. (Mereka) nanya apa betul ini rumah kontrakannya (PMA),” ujar pria yang juga dikenal sebagai Haji Iwan ketika ditemui di rumahnya pada Kamis sore, 1 Juni.
Dia mengingat ada sekitar 5-6 orang yang datang menggunakan 4 motor yang diparkir di depan kediamannya. Tak lama kemudian seorang anggota FPI lain dari arah kontrakan yang berjarak tak lebih dari 100 meter datang.
“Ada tuh orangnya di atas,” kata Ahmad meniru ucapan orang tersebut.
Orang-orang tersebut pun bergegas meninggalkan rumahnya dan menuju lokasi kontrakan. Ahmad mengaku sempat mendengar ada adu mulut sebelum PMA akhirnya dibawa ke kantor RW.
Dalam video yang tersebar di media sosial, tampak anak laki-laki itu tengah dikerubuti sejumlah pria dewasa di lokasi yang belakangan diketahui di kantor RW 03 Cipinang Muara, Jakarta Timur. Beberapa di antaranya mengenakan peci berwarna putih.
Orang-orang itu mengaku marah karena PMA disebut telah menyudutkan pemimpin FPI, Rizieq Shihab. Menurut Ahmad, tidak semua orang di lokasi itu merupakan anggota FPI Jakarta Timur. Ada warga sekitar yang ikut bergabung.
Hal ini pun dibenarkan Koordinator Keamanan RW 03 Sutikno yang juga menyaksikan langsung kejadian tersebut. Menurut dia, suasana sudah sepi lantaran malam itu Cipinang Muara diguyur hujan. Maka, keramaian di kantor sangat mencolok perhatian.
Lalu, dari mana FPI bisa mengetahui alamat kontrakan PMA? Menurut Sutikno, anggota FPI sudah lama mengincar PMA. Bahkan, dalam interaksi di media sosial PMA memang sempat menyebutkan alamat rumahnya.
“Dari mereka waktu di sini, bilang memang sudah mengintai selama berhari-hari,” katanya.
Pria berusia 46 tahun ini memperkirakan ada sekitar 50 orang yang berkumpul di sana ketika itu. Ia mengetahui mereka merupakan anggota FPI lantaran sempat mengobrol. Dari situ pula Sutikno mengetahui tujuan kedatangan mereka karena tulisan PMA di akun Facebooknya.
Selain Sutikno dan Ahmad, sebenarnya turut hadir Ketua RW 03 untuk melakukan mediasi di dalam. Tapi, proses intimidasi tetap tidak terhindarkan.
“Disuruh tulis dua surat pernyataan, satu untuk PMA satu untuk FPI. Tapi karena tulisan dia tidak terbaca, akhirnya ibunya yang menulis,” kata Ahmad.
Dalam video, tampak ibu PMA terlihat mendampingi di belakang saat putranya membacakan surat dengan tangan gemetaran.
Pemukulan
Kasus ini menjadi ramai lantaran dalam video yang viral di media sosial, PMA tampak ditempeleng dari arah kanan sebanyak dua kali dan dipukul dengan lembaran kertas. Bahkan, ada yang menabok mulut PMA dari arah belakang karena yang bersangkutan hanya diam saja. Gerombolan tersebut tertawa-tawa saat melakukan tindakan ini.
Saat mereka mengintimidasi PMA, gerombolan tersebut ikut mengungkit etnis PMA.
“Besok temen-temen lu yang sesama etnis kayak lu juga, lu nasihatin, lu bilangin, lu inbox, kalau bisa jangan deh bro, ini udah kejadian di lu,” kata salah satu pria yang wajahnya tak tersorot kamera.
Ia bahkan menambahkan kalau nasib PMA terbilang lebih baik karena hanya didatangi. Pria lainnya mengatakan ada korban serupa di Jakarta Barat yang kondisinya berakhir mengenaskan.
“Udah enggak berbentuk wajahnya,” kata pria itu.
Dalam video berdurasi 2 menit 20 detik itu, PMA tampak diam dan menuruti apa saja yang diucapkan gerombolan tersebut.
Video yang terdiri dari 4 bagian itu ditutup dengan pembacaan pernyataan maaf dari PMA. Ia mengakui telah menghina Rizieq di Facebook dengan mengunggah gambar FPI yang diedit menjadi Front Pengangguran Indonesia pada 26 Mei lalu.
Ia juga mengaku mengunggah foto Rizieq bersama ulama FPI lainnya yang telah diedit seolah-olah mereka sedang bermain di Hotel Alexis. Terakhir, ia menulis status yang menantang umat Islam untuk duel satu lawan satu.
Baik Sutikno maupun Ahmad mengakui ada kontak fisik antara massa dengan PMA. Namun, keduanya kompak mengatakan bukan anggota FPI yang melakukannya.
“Itu emang ada warga sekitar yang kira-kira anak SMP lah, ngeplak kepalanya. FPI cenderung menahan karena katanya bakal mencoreng nama mereka juga,” kata Ahmad.
Kendati begitu, Lurah Cipinang Muara Sri Astuti mengatakan kalau orang-orang yang tampak di video tersebut bukan warganya. Malah tidak ada satu pun wajah di dalam video yang dia kenal.
Anak pendiam
PMA dan ibunya baru sekitar 4 bulan menghuni kontrakan milik Ahmad. Meski demikian, PMA tak melulu berdomisili di Cipinang Muara.
“Ia lebih sering ada di tempat adiknya (tante), jarang di sini,” kata Ahmad.
Ibu PMA yang sehari-harinya berada di rumah tampak sibuk mengurusi 3 anaknya yang masih kecil.
Menurut Sutikno, ibu PMA cukup dikenal oleh warga sekitar, namun tidak dengan putranya. Ia cenderung pendiam dan lebih banyak berada di rumah. Meski demikian, ia sudah lebih dahulu mengenal PMA yang pernah mengontrak di rumah atasannya di RT 15.
“Anaknya memang agak temperamental,” ujar Sutikno.
Informasi yang diterima Rappler terkait latar belakang pendidikan PMA sendiri masih simpang siur. Namun ia disebut sudah tidak bersekolah sejak kasus ini mencuat pada akhir Mei lalu.
Ahmad mengaku miris saat melihat langsung kejadian tersebut. Apalagi, setelah PMA keluar dari kantor RW, ia terlihat menangis.
“Miris karena masih anak-anak, saya juga tanya apa dia tidak kasihan sama ibunya. Setahu saya lagi hamil,” katanya.
Walaupun bersimpati terhadap nasib PMA, Ahmad tetap tidak dapat membenarkan apa yang telah ditulis oleh remaja tersebut di akun media sosialnya. Saat ini, keluarga PMA sudah dievakuasi ke Polda Metro Jaya. Kepolisian pun telah meminta keterangan dari saksi dan kasus ini tengah diusut.
Ahmad mengaku lega dan malah meminta agar PMA tidak kembali ke kontrakannya.
“Saya minta supaya sementara PMA tidak tinggal di Cipinang Muara lagi, karena takut nanti ada apa-apa lagi,” kata dia sambil menyebut ibu PMA dan saudaranya masih diizinkan untuk mengontrak.
Tangkap dua pelaku

Menanggapi isu ini, polisi melakukan gerak cepat. Kapolres Jakarta Timur Kombes Polisi Andry Wibowo mengatakan jika dua terduga pelaku persekusi sudah ditangkap. Mereka berinisial berinisial MH (57 tahun) dan M (60 tahun).
Saat ditanya terkait peran keduanya, ia mengaku masih mendalami.
“Sedang didalami sesuai video yang viral (di media sosial),” kata dia saat dihubungi Rappler pada Kamis malam.
Ia enggan membeberkan lebih detail terkait identitas kedua orang tersebut. Namun, Andry mengatakan salah satu terduga pelaku diindikasikan sebagai anggota FPI, sementara yang lainnya hanya simpatisan.
“Salah satunya ada yang mukul,” kata dia.
Saat ini kedua terduga pelaku telah diserahkan ke Polda Metro Jaya untuk penyidikan lebih lanjut. – Rappler.com
There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.