#PHVote

Ramadan Yummy: Kicak, kue khas Ramadan warisan Mbah Wono

Dyah Ayu Pitaloka
Ramadan Yummy: Kicak, kue khas Ramadan warisan Mbah Wono
Kicak dapat dijumpai hampir di setiap pedagang kue di dalam Pasar Sore Ramadan di Gang Kauman, Yogyakarta

YOGYAKARTA, Indonesia – Petang itu gang kecil di Jalan K.H. Ahmad Dahlan Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogykarta mulai dipenuhi banyak pengunjung. Di gang yang dikenal dengan nama Kauman itu berkumpul puluhan penjual aneka kue dan makanan menjelang buka sepanjang Ramadan.

Satu jajanan khas yang paling dicari adalah Kicak. Kue warisan mbah Wono itu kini bisa dijumpai hampir di setiap pedagang kue di dalam Pasar Sore Ramadan di Gang Kauman.

“Kicak sudah ada sejak saya kecil. Ibu saya dulu membantu Mbah Wono membuat Kicak dan menjual kicak serta makanan lainnya,” kata Sidar, pembuat kue kicak di kediaman mendiang Mbah Wono, Kamis, 1 Juni.

Perempuan paruh baya itu bersama tiga rekannya mulai membuat aneka kue dan makanan sejak pagi hingga siap dibeli sekitar pukul 15:00 WIB setiap harinya. Setidaknya ada 20 jenis makanan yang dimasak oleh Sidar dan tiga rekannya. Tak lupa, anak Mbah Wono juga ikut melanjutkan jejak ibunya membuat kue. “Ini sudah turun temurun. Awalnya mbah Wono yang membuat kemudian yang lain ikut membuat kicak,” ujarnya.

OTENTIK. Kicak mbah Wono dijual menggunakan daun pisang. Foto oleh Dyah Ayu Pitaloka/Rappler

Kue kicak terbuat dari ketan, parutan kelapa, santan dan irisan nangka. Rasa manis dan gurihnya tak berlebihan. Tekstur ketan yang matang dalam balutan parutan kelapa terasa lembut di lidah.

Tak ada yang tahu pasti kapan kicak mulai dibuat oleh Mbah Wono. “Seingat saya tahun 1986 sudah ada kicak, saya sudah di sini. Kemudian pasar tiban (pasar Ramadan) baru ada tahun 1995an. Kicak hanya dijual saat Ramadan karena manis, jadi lakunya saat puasa,” katanya.

Sidar memasak di rumah yang sama. Rumah dengan lantai tanah dan berdinding anyaman bambu di dalam Gang Kauman. Rumah itu adalah rumah Mbah Wono yang meninggal tiga tahun lalu di usia 81 tahun. “Anaknya, sengaja tinggal di sini dan tidak pindah,” katanya.

Mbah Wono bersuamikan seorang mantri atau dokter yang bekerja di Rumah Sakit PKU milik ormas Muhammadiyah, tak jauh dari Malioboro. Sehari-hari Mbah Wono berjualan makanan di kediamannya. Pelanggannya sebagian besar adalah para perawat, dokter, mantri dan karyawan dari rumah sakit tersebut. Saat itu jajanan manis seperti Kicak dan Wajik, paling disukai ketika Ramadan.

“Dulu wajik juga ada, sekarang sudah tidak karena kalah sama kue yang lain. Darimana asal nama kicak itu saya tidak tahu. Dulu Mbah Wono sudah lupa ketika ditanya asal namanya,” lanjutnya.

BUKA SETIAP HARI. Warung Mbah Wono di Kauman yang buka setiap hari dipadati pembeli. Foto oleh Dyah Ayu Pitaloka/Rappler

Tradisi berjualan kicak berlanjut hingga saat ini. Bedanya, jika dahulu seluruh proses memasak kicak dilakukan sendiri oleh Mbah Wono dan anak-anaknya, kini sebagain bahan sudah dipasok pembuat kue yang lain.

“Jadah (ketan) beli dari penjual jadah, sekarang sudah tidak kuat kalau bikin jadah sendiri. Rata-rata antara 10 sampai 15 kilo jadah habis sehari. Tapi parutan kelapa kami masih beda dengan yang lain. Kelapa di sini dimasak lebih dahulu,” rincinya.

Kicak populer

RAMAI. Suasana di pasar Ramadan Kauman, Yogyakarta. Foto oleh Dyah Ayu Pitaloka/Rappler

Setelah muncul pasar Ramadan, kicak tak hanya dijual oleh penerus Mbah Wono. Mulai banyak pedagang lain yang ikut meramaikan pasar Ramadan membuat kicak masing-masing. Supangat adalah salah satu penjual yang berasal dari Gamping, Sleman. Sejak lima tahun terakhir, perempuan berusia 53 tahun itu juga membuat kicak untuk dijual di lapak miliknya.

“Awalnya saya beli, kemudian saya makan, kemudian saya mulai membuat kicak,” kata perempuan yang sudah berjualan aneka makanan sejak 25 tahun terakhir. Berbeda dengan kicak di lapak Mbah Wono, kicak milik Supangat dibungkus menggunakan kotak plastik. Namun cita rasanya serupa, manis dan gurih. Rata-rata sehari Supangat mampu menjual hingga 50 porsi kicak dengan harga per porsinya Rp 2000. 

Hingga saat ini Kauman dianggap sebagai pusatnya kicak. Meskipun bisa dijumpai di tempat lain, namun tak lengkap rasanya jika tidak beli di Kauman. Pembelinya pun tak hanya kaum muslim yang sedang berpuasa. “Saya suka setiap Ramadan, karena bisa membeli kicak di sini. Meskipun saya tidak puasa,” kata Wiwid, perempuan paruh baya yang tinggal tak jauh dari Kauman. Wiwid mengaku suka dengan rasa manis kicak serta masakan lain yang tidak ditemuinya di luar Ramadan.

“Ada garangasem, ayam dibumbu pakai santan. Ini masakan Jawa Timur, tapi ada juga di sini. Rasanya gurih dan pedas,” kata Wiwid. Sore itu dia membeli lima bungkus kicak dan aneka lauk dari lapak Supangat.

TUNGKU DAN ARANG. Proses memasak di kediaman Mbah Wono menggunakan tungku dan arang. Foto oleh Dyah Ayu Pitaloka/Rappler

Tak hanya dari sekitar Yogyakarta, pembeli kicak juga berasal dari luar provinsi. Seperti Silvi, pembeli asal Surabaya yang khusus datang ke Kauman untuk membeli kicak. “Saya baca di koran jadi penasaran. Ini ke sini memang cari kicak,” kata Silvi yang berada di Yogyakarta untuk mengunjungi anaknya. “Kebetulan anak saya kuliah di sini, jadi sekalian mencari kicak,” lanjutnya.

Banyaknya penjual kicak baru tak mengganggu anak keturunan Mbah Wono. Mereka tetap berjualan makanan melanjutkan warisan Mbah Wono. Anak cucu Mbah Wono menjual kicak berdampingan dengan penjual kicak yang lain di Pasar Kauman.  

Hadiah khusus untuk warta Yogyakarta yang mau mencoba langsung Kicak warisan Mbah Wono. Gunakan kode promo UBER agar perjalanannya lebih terjangkau! 

—Rappler.com

Baca juga artikel Ramadan Yummy lainnya:

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.