JAKARTA, Indonesia — Semua warga negara Republik Indonesia pasti tahu warna bendera negara kita; merah putih. Tapi pasti banyak yang tidak kenal dengan nama Amina Sabtu. Siapakah dia?
Kalau kita mengenal Ibu Fatmawati sebagai penjahit bendera Merah Putih yang dikibarkan saat upacara pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, Amina bisa disebut sebagai ”Fatmawati-nya Tidore” atau juga “Fatmawati dari Indonesia Timur”.
Nenek Na, sapaan akrabnya, adalah penjahit bendera Merah Putih yang dikibarkan sekelompok pemuda pejuang di Tanjung Mareku, Pulau Tidore, pada 18 Agustus 1946.
Bendera hasil jahitan Nenek Na itu menjadi bendera Merah Putih pertama yang berkibar di Indonesia Timur. Berkibarnya bendera tersebut sekaligus menyimbolkan Tidore dan Kepulauan Maluku sebagai bagian dari Republik Indonesia. Ini menjadi hantaman telak bagi Jepang juga Belanda, yang hanya mengakui kemerdekaan RI di Pulau Jawa.
Dengan jasanya itu, pantas Nenek Na disebut sebagai salah satu pelaku sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Ia adalah saksi hidup sekaligus figur penting dalam terbentangnya wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Perjuangan Nenek Na
Selain Nenek Amina Sabtu sebagai penjahit bendera, tercatat pula nama Abdullah Kadir, sepupunya, yang bersama sejumlah pemuda Mareku mengibarkan bendera hasil jahitan Nenek Na di Tanjung Mareku.
Awalnya, bendera tersebut akan dikibarkan di Jembatan Residen, Ternate. Namun ketatnya penjagaan tentara Belanda membuat Kakek Dullah dan kawan-kawan harus mengubah rencana.
Menggunakan perahu dayung, Kakek Dullah dkk. putar balik ke Pulau Tidore dan mulai mencari tempat yang dipandang strategis untuk menancapkan simbol perlawanan terhadap pendudukan penjajah yang masih berlangsung di Maluku Utara tersebut. Tanjung Mareku kemudian dianggap sebagai lokasi sempurna.
Kakek Dullah telah wafat pada 2009 silam. Sedangkan Nenek Amina Sabtu masih diberi kesehatan dan umur panjang.

Saat peristiwa heroik lebih dari setengah abad itu, usia Nenek Na baru 19 tahun. Kini beliau sudah tidak bisa banyak bergerak. Untuk mengikuti upacara peringatan pengibaran bendera di Tanjung Mareku yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari rumahnya saja, Nenek Na harus dipapah anak-cucu.
Nenek Na tinggal bersama anak-cucunya di Mareku. Tepatnya RT 08 RW 4 Kelurahan Mareku, Kecamatan Tidore Utara, Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara. Rumah yang 70 tahun silam jadi tempat beliau menjahit bendera Merah Putih bersejarah tersebut.
Beliau menghabiskan keseharian dengan bercengkerama bersama cucu, dan sesekali mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci piring. Hal yang sebenarnya tidak diperkenankan oleh anak-cucunya.
Setiap upacara 17 Agustus, Nenek Na (dan Kakek Dullah semasa hidupnya) selalu diundang Pemkot Tidore Kepulauan untuk hadir di Kantor Wali Kota. Pada momen itu biasanya Pemkot memberi santunan.
Diserahkan langsung pada 18 Agustus 2017
Lantas bagaimana kita sebagai generasi muda bisa membantu jasa Nenek Na? Seorang netizen, Eko Nurhuda, berniat menggalang dana untuk membantu Nenek Na.
Caranya dengan berdonasi melalui situs kitabisa.com. Jika kamu ingin mengulurkan tangan, kamu juga bisa membantu Nenek Na dengan meng-klik tombol donasi di bawah ini.
Diharapkan dana yang sudah terkumpul bisa diberikan langsung oleh Eko kepada Nenek Na pada 18 Agustus 2017 mendatang di Tanjung Mareku.
—Rappler.com
There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.