JAKARTA, Indonesia – Dua puluh tahun bekerja di berbagai institusi keuangan membuat Adrian Asharyanto Gunadi berpikir untuk menciptakan fasilitas yang menjembatani antara pemberi pinjaman (lender) dengan peminjam (borrower). Mei 2016, Investree memulai operasionalnya. September 2016, dikenalkan secara resmi ke publik dan klien.
Kini, perusahaan rintisan di bidang teknologi finansial (fintech) ini memiliki 500-an peminjam, dan 6.000-an pemberi pinjaman.
“Kalau peminjam mayoritas di Jakarta, sementara pemberi pinjaman lebih meluas, bahkan sampai ke Papua,” kata Adrian, Co-founder dan CEO Investree, kepada Rappler, Jumat, 2 Juni.
Bisnis Investree yang bernaung di bawah bendera PT Investree Radhika Jaya ini berkembang pesat, melampaui target yang dibuat Adrian dan dua rekannya yang sama-sama lama berkecimpung di dunia perbankan. Investree disebut sebagai pionir peer-to-peer lending di Indonesia. Bisnis yang dikembangkan Adrian bertujuan memberikan akses lebih mudah bagi pemberi pinjaman dan peminjam.
“Saat bekerja di perbankan, saya melihat ada potensi besar untuk mendukung pengembangan industri kreatif, termasuk media dan periklanan, dengan model peer-to-peer lending,” kata Adrian.
Adrian lulus pendidikan S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan S2 di Rotterdam School of Management Erasmus University. Dia memulai kariernya sebagai Management Trainee di Citibank, lantas mengelola Islamic Finance di Standard Chartered, Saadiq, Dubai, UEA. Dia pernah menjadi Kepala Bagian Syariah di Bank Permata, lantas pindah menjadi direktur pengelola Retail Banking di Bank Muamalat.
Selama 20 tahun menggeluti dunia perbankan lokal dan internasional, Adrian banyak disibukkan dengan membangun model bisnis perusahaan perbankan meliputi jaringan konvensional di bidang syariah, dan platform SME, keuangan mikro dan e-banking di bisnis ritel.
“Saya melihat orang seperti Mark Zuckerberg mendirikan Facebook. Lantas di Indonesia ada Nadiem Makarim yang mendirikan Gojek. Platformnya digital. Saya pikir, dengan pengalaman lama di perbankan, saya harus memulai bisnis yang berbasis digital dan memudahkan banyak orang,” kata dia.
Pengalamannya di Bank Muamalat yang juga mengurusi bidang teknologi informasi menambah modal pengetahuan memulai usaha ini. Tantangan paling besar adalah regulasi.
Bisnis seperti Investree belum ada aturan mainnya. Selama sekitar tiga bulan, Adrian dan sejumlah pemain baru di bidang fintech duduk bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk merumuskan aturan dasar kegiatan usaha.
“Soalnya kan saat mulai bingung, mau dimasukkan ke mana? Perbankan? Lembaga keuangan? Alhamdulillah OJK sangat terbuka dan adaptif terhadap bisnis baru seperti yang kami jalankan,” tutur Adrian.
Investree kini resmi beroperasi di bawah aturan OJK. Perusahaan yang mengusung jargon #SemuaBisaTumbuh ini pekan lalu menggandeng Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) DKI Jaya untuk mendukung industri periklanan. Para pelaku jasa periklanan kerap kali membutuhkan bantuan pembiayaan atau permodalan untuk kegiatan usaha mereka, namun tak sedikit dari para pegiat periklanan tersebut yang tersandung masalah akses—belum dapat menjangkau atau terjangkau oleh layanan finansial.
Investree menghadirkan Pinjaman Bisnis Berbasis Tagihan (Invoice Financing) yang ternyata telah banyak dimanfaatkan oleh para pelaku industri kreatif di Indonesia, khususnya di wilayah Jabodetabek. Dalam kerjasama itu, P3I DKI Jaya sebagai organisasi yang terdiri atas 141 perusahaan periklanan di Jakarta memperkenalkan Investree kepada para anggota yang berprospek untuk menjadi pengguna layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi atau peer-to-peer lending .
Menurut statistik portfolio lnvestree sejak akhir Januari 2017, saat ini industri kreatif berkontribusi sekitar 28% dari seluruh sektor yang didanai dari lnvestree, posisi kedua setelah sektor outsourcing dengan persentase 29%.
Adrian mengatakan, sebanyak 36% dari peminjam Investree merupakan pemain bisnis kecil dan menengah kreatif, sehingga dapat dikatakan bahwa mayoritas pendanaan yang dilakukan melalui platform ini disalurkan untuk membantu pengembangan usaha di bidang industri tersebut. Investree sudah menyalurkan pinjaman sekitar Rp 200 miliar.
“Bagi peminjam dana pun, pengembalian investasi yang kami tawarkan cukup menarik, sekitar 17% per tahun. Lebih besar dari bunga deposito perbankan,” ujar Adrian.
Pertengahan bulan Ramadan ini, Investree akan meluncurkan produk syariahnya. Adapun produk yang ditawarkan Investree yaitu Business Loan berupa pinjaman modal kerja untuk memperlancar cash flow bisnis dengan menjaminkan tagihan atau invoice. Diperuntukkan bagi perusahan yang merupakan Perseroan Terbatas (PT), berdomisili di Jadetabek, dan telah beroperasi minimal 6 bulan.
Selain itu, mereka juga menyediakan Employee Loan yaitu pinjaman pribadi bagi karyawan yang terdaftar sebagai pekerja di perusahaan yang bekerjasama dengan Investree. Melalui skema potong gaji, para karyawan akan memperoleh kesempatan pendanaan untuk berbagai macam kebutuhan.
Kini perusahaan mengembangkan operasionalnya ke Semarang dan Surabaya. “Selain ekspansi, kami juga tengah menjajaki kolaborasi dengan mitra usaha kami, termasuk para klien. Ini yang menarik dari usaha rintisan berbasis digital yang punya komunitas. Potensi kolaborasi sangat besar,” ujar Adrian – Rappler.com
There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.