Tiap 10 hari Ramadan, umat Muslim di Bali buka puasa dengan tradisi megibung

Iwan Setiadharma
Tiap 10 hari Ramadan, umat Muslim di Bali buka puasa dengan tradisi megibung
Tradisi megibung yang sudah ada sejak ratusan tahun itu dilaksanakan setiap 10 hari pada bulan Ramadan

DENPASAR, Indonesia — Menjelang kumandang adzan Maghrib, suasana Masjid Al-Muhajirin di Kampung Islam Kepaon, Denpasar, Bali, ramai dikunjungi warga. Bukan hanya sekadar untuk menunaikan salat Maghrib berjemaah, namun juga berbuka puasa dengan megibung.

Tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun itu dilaksanakan setiap 10 hari pada bulan Ramadan. 

“Tujuan megibung sebagai ungkapan syukur diberikan kesehatan dan rezeki yang luar biasa,” kata tokoh masyarakat Kampung Islam Kepaon, Haji Ishak Ibrahim, pada Senin, 5 Juni.

Saat megibung, warga makan bersama dalam satu wadah yang sama. Tidak ada aturan tertentu dalam megibung. Biasanya satu wadah, ada empat atau lima orang yang makan. Lauk pauk yang disajikan pun bermacam-macam. Tidak ada rasa canggung di antara mereka saat megibung. Anak-anak sampai orang tua ikut dalam tradisi megibung ini.

Menurut Ishak, megibung juga merupakan simbol kerukunan. Selama Ramadan, warga Kampung Islam Kepaon rutin mengadakan tadarus Al-Qur’an. Mereka membaca tiga juz pada malam hari sesudah salat tarawih sampai menjelang waktu sahur. Maka dalam 10 hari, khataman Al-Qur’an sudah sejumlah 30 juz. 

Megibung, tutur Ishak, sekaligus bentuk tasyakur atas khatam Al-Qur-an setiap 10 hari pada bulan Ramadan. Selanjutnya, hari ke-20 dan ke-30, megibung kembali dilakukan untuk buka puasa bersama.

Hidangan untuk megibung ini berasal dari sumbangan warga Kepaon. Sejak sore hari, warga sudah memasak makanan untuk dibawa ke Masjid Al-Muhajirin. Adapun pola menyiapkan makanan ini dibagi menjadi tiga, warga dari sisi kelod (selatan), tengah, dan kaja (utara) setiap 10 hari. Pada pekan pertama Ramadan ini sumbangan dimulai dari warga sebelah selatan Kampung Islam Kepaon.

“Menjalankan tradisi ini kami tidak bingung mencari dana,” kata Ishak.

Ia menambahkan, toleransi antarumat beragama juga berpadu dalam megibung. Ia mencontohkan, tak jarang pihak keluarga Puri Pemecutan menyumbang makanan untuk megibung buka puasa.

Ishak menjelaskan, warga Kampung Islam Kepaon adalah bagian dari keluarga besar Puri Pemecutan, pemegang kekuasaan Kerajaan Badung. Hubungan persaudaraan antara Hindu dan Islam itu telah berjalan selama ratusan tahun.

Persaudaraan tersebut bermula saat leluhur Puri Pemecutan, Gusti Ayu Made Rai, dinikahi oleh Pangeran Cakraningrat IV dari Bangkalan, Madura, yang beragama Islam. Setelah menikah, Gusti Ayu Made Rai menjadi mualaf, kemudian dikenal dengan nama Raden Ayu Siti Khodijah.

Megibung juga menarik minat Riza Wulandari. Ia bukan warga Kampung Islam Kepaon, namun ia tertarik untuk megibung. 

“Ada akulturasi dan toleransi dalam tradisi ini,” kata perempuan asal Ponorogo itu yang sudah satu tahun tinggal di Bali.

Ia pun tak masalah makan bersama lima orang dalam satu wadah yang sama. Tidak ada rasa canggung saat menikmati hidangan berbuka puasa. 

“Malah ini yang bikin enak sebagai makna kebersamaan. Saya juga baru kenal dengan warga di sini,” kata Riza.

Adapun warga Kepaon, Muhammad Zakaria, mengaku sangat menikmati buka bersama dalam tradisi megibung ini. 

“Kalau makan di rumah dan di sini beda rasanya. Di masjid, kami megibung lebih terasa berkah kebersamaan,” ujarnya. —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.