Gus Ipul: “Jawa Timur aman, tak ada aksi persekusi”

Eko Widianto
Gus Ipul: “Jawa Timur aman, tak ada aksi persekusi”
Gerakan Pemuda Ansor dan Banteng Muda Indonesia (BMI) mendeklarasikan gerakan antipersekusi

 

BLITAR, Indonesia — Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf meminta warga Jawa Timur tak terlibat dalam aksi persekusi. Warga diminta menjaga diri dan menjaga keamanan Jawa Timur. “Jawa Timur sementara aman, tak ada aksi persekusi,” katanya di Blitar, Selasa 6 Juni 2017. 

Persekusi, kata Saifullah Yusuf, tak hanya membuat trauma psikologis tetapi juga bisa melukai secara fisik. Seperti aksi persekusi yang terjadi di sejumlah daerah. “Polisi sudah bekerja. Bergerak cepat,” katanya.

Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul ini berharap semua elemen tak melakukan aksi yang merugikan orang lain. Apalagi jika bakal menimbulkan disintegrasi bangsa. Untuk itu, Pancasila wajib diamalkan dalam setiap kehidupan berbangsa dan bernegara.

Gus Ipul juga tengah mengusahakan lembaga terkait untuk melakukan upaya pencegahan. Supaya tak menimbulkan korban seperti yang terjadi di Solok dan Jakarta.

Untuk mencegah persekusi tersebut, Gerakan Pemuda Ansor dan Banteng Muda Indonesia (BMI) mendeklarasikan gerakan antipersekusi. “Stop teror, intimidasi dan persekusi,” kata Sekretaris Jenderal BMI, Antoni Wijaya.

BMI dan GP Ansor mengajak masyarakat untuk mengedepankan penegakan hukum dalam menghadapi segala persoalan. BMI dan GP Ansor membetuk tim pendampingan hukum membantu persekusi.

“Polisi harus menindak akun media sosial yang mengumbar kebencian. Persekusi bermula dari perilaku intoleran,” katanya. Sekretaris Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Timur, Ahmad Tamim menginstruksi semua kekuatan Ansor dan Banser menghadapi aksi persekusi. “Jangan ada main hakim sendiri,” kata Tamim.

Sementara di Malang, sejumlah pelajar mendeklarasikan antihoax. Mereka belajar bergaul di media sosial dengan positif. Serta membuat media sosial yang sehat dan menginpirasi. Mereka menggelar diskusi “Cerdas Bermedia Sosial”  dan kampanye antihoax di SMA Muhammadiyah 1 Malang.

Pendiri media diet Ellen Melanzi Yasak yang juga Kepala Prodi Studi Ilmu Komunikasi Universitas Tribuana Tunggadewi mengajak pelajar untuk mengenali berita bohong atau hoax. 

Kabar bohong menyebar sejak 1808 sebagai fenomena gelembung atau bubble. Kabar bohong bergulir dan menghilang begitu saja. Saat merebak media sosial, hoax semakin sumur melintasi lini masa. Apalagi, ada media arus utama atau akun media sosial yang pengikutnya banyak mengutip informasi tersebut.

“Gampang menyebar, viral dan berlipat,” ujarnya. Berita hoax, katanya, berupa gambar lucu, meme, info grafis. Biasanya digunakan untuk kepentingan propaganda strategi politik untuk menjegal lawan. Media sosial juga memicu perundungan dan persekusi.

“Jangan sampai karena kebencian menyebabkan disintegrasi,” ujarnya. Untuk mengetahui berita hoax atau bukan bisa dilihat dari nama medianya, alamat redaksi dan nama penanggungjawab. Jika media itu digunakan untuk menyebarkan berita hoax dipastikan tak ada alamat dan nama penanggungjawab yang kredibel.

“Ini perlunya digital literasi. Bagaimana aman penggunakan media sesuai usia pengguna,” ujar Ellen. Selain itu, memilah dan memilih berita yang dibutuhkan. Terutama anak muda dan pelajar yang selama ini banyak menggunakan media sosial dalam berinteraksi. 

Dia menyebutkan data jika pengguna internet berusia antara 18-20 tahun. Sebagian besar menggunakan melalui gawai atau telepon pintar. Dua tahun kedepan, katanya, 70 persen wilayah perkotaan dan 30 persen pedesaan bisa mengakses internet. Media diet, katanya, merupakan usaha membatasi akses internet sesuai kebutuhan. —Rappler.com

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.