Kado terindah bagi Romeo yang kembali ke habitat asal

Andi Rahma Selviani
Kado terindah bagi Romeo yang kembali ke habitat asal
Romeo menanti lebih dari 24 tahun untuk bisa merasakan kembali hidup di habitat asal karena sempat mengidap hepatitis B

SAMARINDA, Indonesia – Hari Lingkungan Hidup tahun ini menjadi momen penting bagi Romeo, orangutan penderita hepatitis B yang sebelumnya dikarantina oleh Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS). Romeo akhirnya mendapat kesempatan pra-pelepasliaran di sebuah pulau yang terletak di kawasan Samboja, Kalimantan Timur.

Sebelumnya Romeo harus mendapat pengawasan ekstra karena hewan mamalia itu diketahui mengidap hepatitis B usai dipulangkan dari Taiwan 24 tahun silam. Akibatnya, Romeo harus menjalani perawatan ekstra sebelum akhirnya dibebaskan pada 5 Juni. Itu pun setelah dipastikan bahwa Romeo tidak akan membahayakan bagi populasinya di alam bebas.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur Sunandar Trigunajasa mengatakan pihaknya sangat serius terhadap upaya pengembalian orangutan ke habitat aslinya. Sebab, pada dasarnya sejak awal orang utan ditakdirkan untuk hidup bebas di dalam.

“Namun mengingat status konservasi mereka yang saat ini dianggap ‘sangat terancam punah’ atau ‘critically endangered’, kita semua, termasuk saya dan jajaran Balai KSDA Kalimantan Timur harus meningkatkan upaya pelestarian orangutan dan habitatnya. Hari ini kita pindahkan satu jantan dan sebelumnya, dua betina,” ujar Sunandar pada Rabu, 7 Juni kemarin.

BKSDA Kaltim tak bekerja sendiri dalam menyelamatkan hewan khas Kalimantan ini melainkan juga mendapat dukungan penuh dari oranisasi luar seperti organisasi mitra seperti BOS Swiss, BOS Jerman, BOS Australia, dan The Great Projects. Hasilnya cukup memuaskan.

Pada semester awal tahun 2017 sebanyak 13 ekor orang utan sudah berhasil dikembalikan ke habitat aslinya melalui proses yang panjang. Tetapi, menurut CEO Yayasan BOS Jamartin Sihite upaya mereka terganjal faktor lingkungan, sebab saat ini di Kaltim sulit menemukan hutan dengan luasan dan kriteria yang sesuai dengan kebutuhan orang utan.

Akibatnya, banyak orang utan yang terpaksa tertahan di kandang karantina.

“Program pelepasliaran kami sempat terhenti selama 10 tahun akibat tidak tersedianya hutan untuk menampung orangutan dari pusat rehabilitasi. Ini menyebabkan menumpuknya ratusan orang utan yang senasib dengan Romeo, menanti kebebasan,” kata Jamartin pada Jumat, 9 Juni.

Saat ini, hanya Hutan Kehje Sewen yang layak sebagai satu-satunya tempat untuk melepasliarkan orang utan. Sayang, hutan ini tak lagi mampu untuk menampung lebih banyak orang utan. Padahal, ada sekitar 100 orang utan lainnya yang direncanakan untuk dilepasliarkan.

“Kami butuh dukungan untuk mendapatkan hutan lain. Kami juga masih butuh jasa lingkungan dari hutan seperti air bersih, udara, dan keseimbangan iklim,” kata dia.

Dengan adanya orang utan di hutan, maka mereka dapat meningkatkan dan menjaga kualitas hutan. Jika ingin hutan tetap lestari, maka manusia juga harus menjaga keberadaan orang utan.

Sayangnya, justru banyak orang utan yang diburu dan sengaja dibunuh karena dianggap sebagai hama. – Rappler.com