Ramadan sejuk: Nuansa kebersamaan beragam etnis di Pekojan

Dzikra Fanada
Ramadan sejuk: Nuansa kebersamaan beragam etnis di Pekojan
Setiap tanggal 27 bulan Ramadan, warga Pekojan mengadakan acara buka puasa bersama. Acara tersebut menyatukan beragam etnis, sekaligus menjadi kesempatan silaturahmi bersama

 

JAKARTA, Indonesia — Memasuki Jalan Pengukiran, Pekojan, Jakarta Barat, suara warga yang sedang membaca Selawat Nabi mulai terdengar. Suara-suara tersebut sedikit menyatu dengan suara kendaraan yang sedang berusaha untuk mendapatkan tempat parkir. Pun dengan suara warga lain yang sedang mempersiapkan makanan untuk berbuka puasa.

Setiap tanggal 27 Ramadan, ada tradisi khusus buka puasa bersama antar keluarga di Pekojan. Dulu, acara buka puasa bersama ini diikuti oleh keluarga etnis Arab yang tinggal di Pekojan. Namun seiring berjalannya waktu, Pekojan menjadi tempat tinggal bagi semua etnis. 

Menurut warga setempat, sudah banyak orang etnis Arab yang sebelumnya tinggal di Pejokan, sekarang berpindang tempat. “Dulu di sini kan banyaknya etnis Arab, tapi sekarang sudah campur,” kata salah seorang warga bernama Solehah.

“Orang etnis Arab banyak yang sudah pindah. Ada yang ke Yaman atau ke Arab Saudi untuk sekolah, atau tetap di Indonesia hanya beda daerah saja.”

Acara buka puasa bersama ini juga menjadi ajang silaturahmi. Sanak saudara yang tingga di luar Pekojan menyempatkan datang ke acara ini. Selain keluarga satu darah, ada pula kerabat keluarga, beberapa perwakilan pondok pesantren, dan beberapa komunitas yang datang. 

Banyak dari mereka membawa kendaraan pribadi. Akibatnya, petugas parkir kesulitan mengatur kendaraan yang datang. Saat ditanya ada berapa warga dari luar pekojan yang datang, mereka bilang sulit untuk dihitung karena terus berdatangan.

Saat ini, Pekojan ditempati oleh banyak etnis. Ada etnis Tionghoa, pribumi, juga etnis Arab. Mereka semua tinggal bersebelahan dan harmonis. 

Petugas acara buka puasa bersama di pekojan sedang menyiapkan minuman untuk berbuka. Foto oleh Dzikra Fanada/Rappler

“Semua yang tinggal di sini akur. Kadang saya main ke rumah tetangga saya yang beda etnis. Mungkin di dalem rumah adatnya kan beda-beda, tiap keluarga punya tradisi masing-masing. Tapi kami tetap main bareng dan enggak pernah ada masalah,” ungkap Eko, seorang warga setempat yang sedang membantu warga lain mencari tempat parkir.

Pernikahan antar etnis juga sudah banyak dilakukan, seperti pernikahan antar etnis Arab dan etnis Tionghoa. 

“Ada saudara saya yang menikah dengan etnis Tionghoa. Saat ini ia menjadi mualaf [orang yang baru masuk Islam]. Kalau di sini, nikah beda etnis sepertinya sudah biasa,” kata Solehah.

Penjelasan Solehah tadi terlihat jelas dalam acara buka puasa yang diadakan di tengah-tengah jalan ini. Mereka saling bercengkrama dengan akrab di atas karpet sebagai alas jalan aspal.

Semua orang yang datang ke acara ini diterima dengan baik. Ketika azan Maghrib berkumandang, mereka memakan takjil dengan lahap.

Makanan yang tersedia sudah disiapkan oleh beberapa keluarga yang tinggal di Pekojan. Salah satunya adalah keluarga dari Syifa Abdul Kadir Al-Jufri atau yang biasa dipanggil dengan Umi Syifa. Di rumah Umi Syifa, berbagai makanan sudah disiapkan sejak pagi hari. Mulai dari nasi kari, gulai kambing, ayam goreng, hingga berbagai jenis gorengan ada di sini.

Perempuan buka bersama di dalam ruangan

Makanan sudah tersaji di atas karpet untuk dimakan bersama-sama saat buka puasa tiba. Foto oleh Dzikra Fanada/Rappler

Di tengah jalan pengukiran, semua yang duduk untuk berbuka puasa bersama adalah laki-laki. Tidak ada perempuan yang terlihat di tengah jalan tersebut. Ini karena perempuan memiliki tempatnya sendiri saat acara berlangsung.

Biasanya, perempuan di tempatkan di Masjid An-Nawier yang lokasinya dekat dengan acara buka puasa bersama ini dilangsungkan. Nantinya, perempuan juga dihidangkan makanan dan takjil yang sama. Selain di Masjid An-Nawier, perempuan juga biasanya ada di rumah-rumah keluarga yang juga sedang membuat acara buka bersama.

Kebersamaan di tempat ini terasa kental. Senyum di wajah warga Pekojan seperti terus terlihat. Sapaan mereka yang khas dengan menggunakan Bahasa Arab juga sering terdengar. Sampai acara ini selesai, mereka tetap berbincang akrab dengan warga lainnya. — Rappler.com 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.