Begini proses napi asing kabur dari Lapas Kerobokan melalui lubang

Bram Setiawan
Begini proses napi asing kabur dari Lapas Kerobokan melalui lubang
Empat napi kabur melalui lubang untuk pembuangan sampah klinik yang sudah ada sejak tahun 1992 lalu

DENPASAR, Indonesia – Pihak kepolisian melakukan rekonstruksi narapidana warga negara asing di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kerobokan Bali yang pernah melarikan diri pada 19 Juni lalu. Dua napi memperagakan sekitar 80 mulai dari dalam lapas hingga ke Bandara I Gusti Ngurah Rai pada Kamis, 13 Juli.

Namun, Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Bali Ajun Komisaris Besar Rudi Setiawan tidak menjelaskan secara runut adegan yang diperagakan, khususnya adegan 11-39.

“Rekonstruksi itu bisa berkembang,” ujarnya memberi alasan di Lembaga Pemasyarakatan Kerobokan.

Kendati ada empat napi yang berhasil kabur, namun baru dua napi saja yang ditangkap mengikuti proses rekonstruksi yaitu Dimitar Nikolov Iliev (asal Bulgaria) dan Sayed Mohammed Said (asal India). Keduanya ditemukan di Dili, Timor Leste pada Kamis, 22 Juni.

Dua napi itu akhirnya dibawa ke Bali pada Sabtu, 24 Juni untuk menjalani pemeriksaan di markas Brimob Polda Bali. Dimitar dan Sayed tiba di Lapas Kerobokan pukul 08:38 WITA. Awal rekonstruksi dimulai di dalam lapas. Rudi mengatakan jumlah adegan rekonstruksi berdasarkan data pihak kepolisian mencapai 30 adegan.

Di luar lapas, adegan berlanjut memasuki adegan ke-40. Rekonstruksi yang dilakukan di luar lapas dimulai pukul 09:41 WITA. Di sana, Dimitar dan Sayed memerankan adegan setelah keluar dari lubang pelarian.

Setelah berhasil keluar dari lubang, kedua napi lalu menyeberang jalan. Mereka berjalan menuju ke salah satu bangunan kosong untuk mengganti pakaian.

“Dari pukul 22:00 – 02:00 WITA (proses) mereka kabur. Dipastikan semua sudah keluar (dari Lapas) pukul 02:30 WITA,” kata dia.

Kedua napi terlihat tidak banyak berbicara ketika memerankan adegan dalam proses rekonstruksi. Menurut Rudi, upaya kabur melalui lubang pelarian dilakukan secara bergiliran. Pertama, Shaun Edward Davidson yang keluar.

“Selanjutnya Sayed, Mohammed Said, Tee Kok King dan Dimitar Nikolov Iliev. Saat mereka kabur, cuaca sedang hujan. Mereka kemudian mengeluarkan air dari tanah, kemudian dipinggirkan,” katanya.

Rekonstruksi itu diperkirakan berlangsung pukul 08:45 WITA hingga pukul 09:57 WITA di dalam dan luar Lapas Kerobokan. Adegan rekonstruksi kemudian berlanjut ke bandara.

Di sana dilakukan proses reka ulang ketika keempat napi meninggalkan Bali. Rudi menjelaskan diduga ada satu mantan napi di bandara yang ikut membantu untuk menyediakan tiket pesawat.

“Inisialnya A, kami rekonstruksi,” ujarnya.

Tidak sadar ada lubang

ADEGAN. Dua napi yang berhasil kabur dari Lapas Kerobokan tengah memperagakan adegan usai berhasil kabur dari lapas pada Kamis, 13 Juli. Foto oleh Bram Setiawan/Rappler

Sementara, ada satu pertanyaan yang menjadi tanda tanya publik. Bagaimana mungkin, keempat napi tersebut bisa kabur melalui sebuah lubang yang menembus tembok lapas?

Menurut Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Hukum dan HAM Bali, Surung Pasaribu, lubang yang digunakan oleh keempat napi sudah lama ada, bahkan sejak tahun 1992 lalu.

“Lubang itu sudah ada sejak tahun 1992 lalu untuk pembuangan limbah klinik. Tetapi, enggak digunakan lagi. Jadi, mereka (empat napi) tidak membuat lubang, hanya memanfaatkan lubang yang sudah ada,” ujar Surung.

Dengan modal lubang yang sudah ada, kemudian, keempat napi mencicil dengan membuat ukurannya lebih lebar agar muat dimasuki oleh mereka. Tetapi, kapan mereka mulai proses penggalian, hal itu tidak diketahui oleh petugas lapas.

“Tetapi, diduga proses pelebaran memakan waktu lebih dari satu minggu,” katanya.

Bahkan, menurut petugas Kepala Lapas Kerobokan Tonny Nainggolan banyak yang tidak menyadari ada lubang untuk pembuangan sampah klinik di sana.

Tetapi, Tonny tidak menampik memang ada petugas piket di menara dekat lubang tersebut.

“Tetapi, tidak terpantau, karena kurang sumber daya manusia,” kata Tonny.

Dua napi yang ikut dalam proses rekonstruksi hingga kini belum dikembalikan ke Lapas Kerobokan. Mereka masih dimintai keterangan di Polda Bali untuk melacak keberadaan dua napi lainnya yang masih buron. Kedua napi yang masih buron yakni Shaun Edward Davidson (asal Australia) dan Tee Kok King (asal Malaysia).

Davidson merupakan napi karena terjerat kasus pelanggaran keimigrasian dan ditahan sejak 5 April 2016. Sisa pidana yang harus ia jalani tinggal 2 bulan dan 15 hari.

Sementara, Tee merupakan napi kasus narkoba. Ia masih harus menjalani sisa pidana 6 tahun, 1 bulan dan 5 hari. Namun, polisi masih belum mendapatkan petunjuk ke mana dua napi itu kini berada. – Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.