Atas nama cinta, seniman difabel ini melukis dengan tusuk gigi

Atas nama cinta, seniman difabel ini melukis dengan tusuk gigi
Ari Irawan, seorang seniman difabel di Banjarnegara, jatuh cinta pada seorang perempuan. Tak disangka, perasaannya membawa karyanya dikenal banyak orang

BANJARNEGARA, Indonesia — Kondisi fisik Ari Irawan berbeda dengan pria lain pada umumnya. Kedua tangan dan kakinya tidak tumbuh sempurna sejak lahir sehingga susah digerakkan. 

Jika dilihat secara kasat mata, mustahil pria asal desa Merden, Purwanegara, Banjarnegara, Jawa Tengah, itu punya keterampilan luar biasa melalui jemari tangannya yang tak sempurna. 

Ari kini tumbuh sebagai seniman lukis yang handal. Pada usia 4 tahun, ia mulai hobi memegang pensil untuk menggambar pemandangan alam. 

Meski awalnya kesulitan, Ari kecil tak patah arang. Ia terus mengasah kemampuannya agar menjadi pelukis profesional. 

“Saya belajar melukis sendiri, tidak ada yang mengajari,” kata Ari kepada Rappler.

“Dia sudah ada yang punya. Tapi saya bahagia dia tersenyum melihat lukisan saya tentang dia.”

Saat duduk di kelas 2 Madrasah Tsanawiyah (MTs), Ari mulai mengenal internet. Ia rela merogoh saku untuk pergi ke warung internet (warnet) guna mempelajari teknik dasar melukis melalui YouTube. 

Berkat keuletannya, kemamuan Ari kian terasah. Hasil lukisannya semakin detil dan nyaris menyerupai objek asli. Saat itu, karya Ari hanya terpajang di ruang koleksi pribadi. 

Karyanya mulai dikenal publik pun berawal dari ketidaksengajaan. Mulanya ia mengagumi seorang gadis di sekolahnya. Kekaguman itu berubah menjadi cinta. 

Ari memindahkan imajinya tentang gadis itu ke dalam media kertas. Ia mengerahkan total kemampuannya untuk melukis perempuan tersebut agar hasilnya sempurna. 

Lukisan itu kemudian dihadiahkan kepada sang pujaan sebagai ungkapan perasaan. 

“Dia sudah ada yang punya. Tapi saya bahagia dia tersenyum melihat lukisan saya tentang dia,” akunya.

Ari juga mengunggah lukisan gadis itu ke laman Facebook miliknya. Tak diduga, banyak orang yang mengapresiasi karyanya.  

Satu per satu teman-teman Facebook-nya mulai menanyakan harga lukisannya. 

Sejak saat itu, Ari mulai percaya diri untuk mempromosikan dan menjual karyanya. Kini, Ari mulai kebanjiran pesanan. 

Satu lukisan seukuran kertas A3 ia hargai Rp200 ribu hingga Rp350 ribu tergantung warna dan tingkat kerumitan. 

Ari terus berinovasi. Ia tidak hanya melayani jasa lukis manual, tapi juga mahir melukis digital melalui komputer. 

Ari kini tak hanya melayani jasa lukis di atas medium kertas atau kanvas, melainkan juga menawarkan jasa lukis di atas medium lain, di antaranya kaus, sepatu, tas, topi, bahkan batu. 

Yang menarik adalah cara Ari dalam melukis objek. Berbeda dengan pelukis umumnya, Ari menggambar menggunakan tusuk gigi atau lidi. Penggunaan media itu untuk memudahkannya melukis setiap detail objek sehingga hasil lukisannya sempurna. 

“Saya biasa menggunakan tusuk gigi, terutama saat melukis kaus,” katanya.

Mantan Ketua Komunitas Seniman Banjarnegara itu rupanya bukan hanya mahir melukis, ia juga terampil mengotak-atik barang elektronik, termasuk merakit komputer. Di rumahnya, ia membuka jasa servis atau rakit komputer serta perangkat pendukungnya, antara lain printer

Ari adalah difabel serba bisa. Ia juga menguasai teknik fotografi. Meski kedua tangannya kurang sempurna, ia lihai memainkan kamera. Ia bahkan berani membuka studio foto di rumahnya, meski dengan peralatan terbatas. 

Ari biasa menerima order pemotretan acara pernikahan. Sayangnya, mobilitasnya masih terkendala transportasi. Tangannya kesulitan menyetir kendaraan roda dua sehingga ia harus dibonceng temannya jika ingin bepergian. 

Ini cukup merepotkan saat dia menerina order pemotretan keluar rumah. 

“Kalau kendaraannya dimodif jadi roda tiga mungkin bisa. Semoga nanti ada modal untuk membeli. Saya juga berangan mengembangkan studio biar lebih profesional,” ujarnya.

Bambang, ayah Ari, terenyuh saat menceritakan kelahiran putranya. Saat keluar dari rahim ibunya, ruang persalinan hening. Ari tak mengeluarkan suara dan tangis seperti umumnya bayi yang baru lahir. 

Mulut bayi tersebut juga tak mampu menganga sehingga sulit menerima asupan makan. 

Tak dinyana, Ari kemudian tumbuh jadi bocah ceriwis. Ia mampu merampungkan pendidikan di sekolah formal hingga taman SMA. 

Meski tangan dan kakinya tak tumbuh sempurna, Bambang melihat Ari sebagai bocah pembelajar yang serba bisa. 

“Dia orangnya kreatif, apapun bisa diotak atik. Dia terampil dan serba bisa,” kata Bambang. —Rappler.com

Add a comment

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.