JAKARTA, Indonesia – Pertemuan sub regional yang membahas isu terorisme berakhir pada Sabtu, 29 Juli di Manado. Dari pertemuan enam negara di kawasan Asia Tenggara itu dihasilkan lima hal.
Pertama, masing-masing negara sepakat untuk membentuk forum mengenai petempur asing (FTF) untuk memperkuat kerja sama pembagian informasi dan kerja sama di antara penegak hukum serta badan intelijen. Kedua, kerja sama di antara 6 negara dengan perusahaan-perusahaan yang memberikan layanan media sosial, fasilitas berbagai video dan pesan pendek.
“Jadi, perusahaan-perusahaan media sosial ini nantinya ikut membantu kami mencari keberadaan teroris atau menangkal secara langsung,” ujar Menteri Koordinator bidang politik, hukum dan keamanan Wiranto ketika memberikan keterangan pers pada Sabtu kemarin.
Hal ketiga yang disepakati yaitu studi komparatif hukum terkait terorisme yang berlaku di masing-masing negara. Keempat, penguatan kerja sama antar lembaga untuk menanggulangi kegiatan pendanaan kegiatan terorisme. Kelima, peningkatan kerja sama di antara badan imigrasi dalam rangka pengawasan perbatasan terpadu.
“Pertemuan ini juga menyepakati bahwa akan ada pertemuan sub regional selanjutnya yang diselenggarakan pada tahun 2018,” kata dia.
Sementara, Jaksa Agung Australia George Brandis di tempat yang sama mengatakan bahwa terorisme global menjadi ancaman yang mematikan bagi seluruh masyarakat dan dengan hancurnya kekhalifan di kawasan Timur Tengah, maka memungkinkan peluang para petempur asing kembali ke negara asalnya.
“Hal itu justru dapat meningkatkan terjadinya tindak teror lintas batas,” kata Brandis.
Brandis mengatakan kelompok militan ISIS berniat untuk mendirikan kekhalifahan di Asia Tenggara dan kawasan sekitarnya. Hal itu terjadi pasca kelompok Maute di Filipina selatan berbaiat kepada ISIS.
Itu sebabnya, Brandis menilai pertemuan sub regional yang diikuti oleh enam negara mendesak untuk dilakukan.
“ISIL (ISIS) telah mendeklarasikan keinginan untuk mendirikan negara khilafah regional dan situasi yang berkembang sekarang di bagian selatan Filipina merupakan kekhawatiran yang besar,” katanya.
Terapkan konsep divergen
Pernyataan Brandis itu diperkuat dengan informasi yang diterima oleh Wiranto. Saat ini, kata purnawirawan TNI itu, militan ISIS sedang melakukan konsep baru yakni konsep divergen.
“Ketika posisi mereka di Suriah terdesak, mereka kemudian menyebarkan militan-militan yang telah mereka brainwash (cuci otak). Mereka latih dan ajak perang untuk membangun basis-basis di semua wilayah, termasuk Asia Tenggara,” katanya.
Semula, katanya lagi, ISIS menggunakan teori konvergen yaitu mengumpulkan militan dari seluruh dunia untuk bergabung dalam pertempuran di Timur Tengah. Tetapi, situasi kini telah berubah. Posisi ISIS semakin terdesak.
Di Irak, pasukan pemerintah yang dibantu Amerika Serikat sudah berhasil merebut kembali Mosul, kota terpenting yang digunakan untuk mendeklarasikan kekhalifan. Peristiwa serupa juga terjadi di Raqqa. Ibu kota de facto ISIS itu sudah mulai dapat ditembus.
Semula, ISIS berniat untuk membangun basis baru di Indonesia yakni di Poso, Sulawesi Tengah. Tetapi, hal tersebut tidak memungkinkan karena tim gabungan Polri-TNI berhasil menewaskan Santoso, pemimpin Mujahidin Indonesia Timur (MIT).
Selain diikuti oleh Indonesia dan Australia, pertemuan sub regional satu hari di Manado juga diikuti Filipina, Selandia Baru, Brunei Darussalam, dan Malaysia. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan serupa yang dilakukan di Nusa Dua, Bali tahun 2016. – Rappler.com
BACA JUGA:
- Tiga fokus Indonesia dalam pertemuan penanggulangan terorisme dunia
- 4 Langkah dunia untuk cegah aksi terorisme
There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.