‘A: Aku, Benci dan Cinta’: Ketika benci berubah jadi cinta

Tiara A. Tobing
‘A: Aku, Benci dan Cinta’: Ketika benci berubah jadi cinta
Novel 'A', karya Wulan Fadi yang diadaptasi ke layar lebar kini sudah memasuki edisi cetakan ke-13 saat film ini dibuat

JAKARTA, Indonesia —Bagi beberapa orang, masa SMA adalah masa-masa yang indah, namun hal tersebut tidak berlaku bagi Anggia (Indah Permatasari). Masa SMA-nya harus dihantui setiap harinya oleh kehadiran Alvaro (Jefri Nichol). Bagaikan air dan api, keduanya tidak dapat bersatu.

Anggia adalah sosok perempuan yang dikenal sebagai orang yang gampang marah dan cenderung tomboi, sedangkan Alvaro adalah cowok idaman di sekolah National High termasuk dikagumi oleh Tara (Syifa Hadju), sahabat Anggia sendiri. 

Anggia selalu merasa dinomorduakan oleh seisi sekolah karena ia hanyalah seorang wakil ketua OSIS dari Alvaro. Setiap acara sekolah yang direncanakan oleh Anggia maupun Alvaro selalu berakhir dengan pendapat berbeda, hingga suatu saat keduanya harus bekerja dengan satu sama lain untuk memperbaiki nilai mata pelajaran di sekolah. 

Keduanya saling mengenal cerita masing-masing seiring berjalannya waktu, hingga cerita mengenai masa lalu Alvaro dengan Athala (Amanda Rawles) serta Alex (Brandon Salim), yang jarang diceritakannya dengan banyak orang. Benih-benih cinta mulai muncul di antara mereka berdua lewat pertengkaran yang terjadi hampir setiap harinya. Apakah Anggia dan Alvaro bisa bekerjasama memperbaiki nilai mereka? Apakah Anggia benar-benar jatuh cinta dengan cowok idaman seisi sekolah yang ia benci sedari dulu?

Romantis penuh komedi

Awalnya, saya mengira bahwa film ini ber-genre film romantis seperti film novel teen lit yang diangkat ke layar lebar pada umumnya. Adaptasi novel pertama dari Wulan Fadi ini ternyata berhasil mematahkan ekspektasi saya. Memang, banyak adegan yang mungkin membuat baper beberapa orang, namun di tengah-tengah adegan baper tersebut sering dihadirkan hal-hal humoris yang tidak akan kita duga.

“Memang ada beberapa karakter-karakter di novel yang aku tidak masukkan, aku banyak koordinasi dengan Om Rizki Balki, selaku sutradara,” ujar Wulan Fadi, selaku penulis novel A saat ditemui dalam press conference film A: Aku, Benci dan Cinta di Restorante De Valentino, Setiabudi, 7 Agustus.

Banyak permainan emosi

Permainan emosi dalam film ini juga sangat beragam dan banyak cepat terjadi. Dengan sangat cepat, penonton bisa merasa sedih dalam suatu scene dan daam hitungan beberapa menit bisa kembali senang karena beberapa konflik diselesaikan dengan cara yang tidak terlalu serius.

Saat saya menonton film ini,  banyak emosi yang tidak terduga yang datangnya dari scene yang menurut saya serius, sehingga beberapa waktu saya menjadi merasa tidak dapat menebak akhir dari cerita film ini.

Akting yang maksimal

Menurut saya, para aktor yang memainkan film ini sudah memenuhi kriteria karakter yang sudah ada di novelnya dan hal itu terlihat dari kedalaman para pemain saat film. Indah Permatasari sendiri mendapat banyak pujian, karena sebelumnya Indah sendiri hanya mendapatkan pemeran supporting actress di film-film sebelumnya, Rudy Habibie (2016) serta Stip dan Pensil (2017).

“Untuk mendalami peran di sini, aku banyak-banyak tanya sama Om Rizki Balki,” jawab Indah saat ditanya mengenai bagaimana cara ia mendalami peran Anggia. Indah juga menambahkan bahwa Rizki Balki adalah sosok sutradara yang tidak menambahkan pressure pada pemainnya, sehingga semua pemain merasa sangat senang dan bisa menikmati selama proses syuting berlangsung.

KONFERENSI PERS. Pemain, pendukung, produser serta penulis buku yang terlibat di proyek film 'A: Aku Benci dan Cinta' usai gelaran konferensi pers, Senin, 7 Agustus. Foto oleh Tiara A. Tobing/Rappler

Untuk anak SMA

Walau film ini bisa ditonton oleh siapa saja, namun saya sangat merekomendasi film ini untuk kalian yang masih duduk di bangku SMA. Meski penonton seperti saya, yang sudah tidak lagi berada di bangku SMA, juga ikut baper saat menonton film ini, namun saya merasa bahwa ke-baper-an yang lebih dalam lagi akan dirasakan oleh yang masih berada di bangku SMA karena cerita ini sendiri juga menceritakan tentang masa-masa SMA.

Hal tersebut juga didukung oleh kehadiran Jefri Nichol dan Amanda Rawles, pasangan aktor dan aktris yang sekarang sedang naik daun di kalangan anak-anak sekolahan karena chemistry mereka di film-film yang mereka perankan bersama sebelumnya. “Aku malah senang ya main film bareng sama Nichol lagi, soalnya enggak perlu ribet-ribet lagi bangun chemistry dari awal,” ungkap Amanda Rawles.

Film A: Aku, Benci dan Cinta adalah film yang pas untuk ditonton jika kalian sedang mencari film Indonesia yang menceritakan romantisme serta komedi. Film ini sendiri sudah dapat ditonton di layar lebar mulai tanggal 16 Agustus di bioskop.

—Rappler.com

Add a comment

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.