Napak tilas 17 Agustus di Kota Proklamasi: Pahlawan tidak hitung-hitungan

Rosa Cindy
Napak tilas 17 Agustus di Kota Proklamasi: Pahlawan tidak hitung-hitungan
Komunitas Historia Indonesia semarakkan HUT ke-72 RI dengan napak tilas dari Museum Joang ’45 ke Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat

JAKARTA, Indonesia — Merayakan kemerdekaan Indonesia dengan upacara bendera di sekolah atau institusi terjadi setiap tahun. Merayakannya dengan perlombaan adalah hal yang lumrah dilakukan. Namun Komunitas Historia Indonesia (KHI) memberikan gaya baru dalam menyemarakkan perayaan kemerdekaan Indonesia.

Pendiri KHI, Asep Kambali, mengatakan, peringatan kemerdekaan adalah saat yang tepat untuk melakukan retrospeksi dan belajar sejarah bangsa. Untuk itu, Asep bersama KHI menggelar acara bertajuk Napak Tilas Proklamasi pada Rabu, 16 Agustus. Acara ini sendiri disebut telah menjadi tradisi sejak 1983.

Napak Tilas Proklamasi 2017 dibuka dengan Tarian Selamat Datang dari Sanggar Selendang Merah, nyanyian Indonesia Raya, dan sambutan oleh Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat di Museum Joang ’45. Djarot membuka sambutannya dengan pernyataan dari pidato presiden pertama Indonesia, Soekarno, pada perayaan kemerdekaan Indonesia tahun 1966.

“Jas Merah—Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Itu Soekarno ingatkan kita pada pidato 17 Agustus 1966. Pesan itu masih relevan hingga saat ini,” tuturnya.

Dalam sambutannya juga, Djarot menggelorakan semangat menjaga Indonesia. Ia menyebut, ada kebiasaan orang Indonesia untuk terus membicarakan hal-hal yang buruk, dan melupakan prestasi besar bangsa.

Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak didapat secara gratis, melainkan memiliki proses yang panjang, butuh perjuangan, semangat, dan tetesan air mata para pejuang. Tidak ada pula kata pamrih dalam diri para pejuang.

“Saya ingatkan mengapa kita bisa merdeka. Karena pahlawan enggak hitung-hitungan apa yang akan mereka dapat setelah merdeka,” katanya.

Menjadi demikian karena para pejuang memiliki tiga nilai penting; yaitu kehendak, semangat, dan kerja nyata.

Jika Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan, Djarot menyebut Jakarta sebagai Kota Proklamasi. Sebab, pergolakan kemerdekaan terjadi di Jakarta, dan proklamasi dibacakan di Jakarta.

“Tahun 1945 pergolakan RI ada di Jakarta dan proklamasi itu dibaca di Jakarta. Maka izinkan saya menyampaikan bahwa Jakarta adalah kota proklamasi,” ujar Djarot.

Menutup sambutannya, ia memberikan restu untuk melakukan napak tilas.

“Selamat napak tilas. Selamat mencecap kemerdekaan dari Kota Proklamasi,” katanya bergelora.

Usai sambutan dari Djarot, doa pun dilayangkan untuk keselamatan seluruh peserta. Napak Tilas Proklamasi 2017 pun resmi dimulai usai pelepasan oleh Djarot dan Wakil Presiden RI keenam, Try Sutrisno.

Di barisan terdepan adalah tiga orang pemegang foto Soekarno, Hatta, dan naskah proklamasi. Disusul dengan pembawa spanduk acara, tim pembawa bendera, marching band, dan peserta. Acara ini diikuti lebih dari 1.000 peserta; yang terdiri dari keluarga veteran, mahasiswa dan pelajar dari berbagai instansi, komunitas museum, dan Abang-None Jakarta. Sebuah mobil ambulans juga dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan adanya peserta yang jatuh sakit.

Napak Tilas Proklamasi 2017 mengunjungi tujuh lokasi bersejarah, di mulai dari:

  • Museum Joang ’45
  • Masjid Cut Meutia
  • Museum Jendral Besar A.H. Nasution
  • Taman Suropati
  • Museum Perumusan Naskah Proklamasi
  • Rumah Keluarga Bung Hatta
  • Metropole (dulu bernama Megaria)
  • dan berakhir di Monumen Proklamasi. 

Namun, hanya tiga tempat yang dijadikan titik pemberhentian, yaitu Museum Joang 45, Museum Perumusan Naskah Proklamasi, dan Monumen Proklamasi.

Peserta napak tilas 17 Agustus berdandan seperti pahlawan kemerdekaan. Foto oleh Rosa Cindy/Rappler

Perjalanan semakin semarak dengan permainan lagu-lagu nasional oleh tim marching band. Setiap kelompok peserta juga menyanyikan lagu bernuansa kemerdekaan lainnya, 

Nuansa kemerdekaan tampak ramai dengan nuansa merah-putih pada pakaian peserta. Beberapa di antaranya juga mengenakan pakaian bak masa perjuangan, seperti pejuang Indonesia dengan bambu runcing dan darah pada pakaian, hingga berpenampilan seperti Soekarno dengan jas putih dan peci hitamnya.

Sejumlah peserta lainnya baru bergabung dari Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Di sana, pemegang foto Soekarno, Hatta, dan teks proklamasi ditukar. Selain itu, tim pembawa bendera dan marching band juga diganti.

Sambutan dan pelepasan kedua pun dilakukan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid. Setelahnya, Hilmar pun ikut berjalan kaki dan melakukan napak tilas.

Napak tilas berlangsung hingga ke Monumen Proklamasi. Sesampainya di sana, peserta dipersilakan duduk di lapangan terbuka, sembari mendengarkan pembacaan teks proklamasi.

Yang menariknya adalah, pembacaan teks proklamasi dilakukan oleh Iwan, seseorang yang didandani serupa dengan Soekarno. Di depan Tugu Petir, lokasi yang sama dengan pembacaan proklamasi 72 tahun yang lalu, Iwan membuka map berisi teks proklamasi, dan pembacaan proklamasi pun berkumandang. Pembacaan proklamasi dilakukan bukan oleh Iwan, melainkan rekaman suara Soekarno yang asli.

Acara dilanjutkan dengan nyanyian lagu Indonesia Raya bersama-sama, dan sambutan dari Mantan Gubernur Sumatera Selatan Ramli Hasan Basri. Dalam sambutannya tersebut, iya menyatakan rasa bangganya pada para peserta napak tilas, terutama generasi mudanya yang masih memiliki semangat melanjutkan perjuangan para pendahulunya. Ia berharap semangat ini tidak akan pernah luntur.

Setelahnya, Hilmar kembali diberikan kesempatan untuk memberikan sambutan. Ia pun menyatakan hal yang serupa dengan Ramli, dan menyampaikan harapannya untuk Indonesia Raya dinyanyikan tiga stanza. Ia menjelaskan, ada bait-bait penting pada setiap stanzanya, seperti:

Bait I: “Marilah kita berseru, Indonesia bersatu.”

Bait II: “Marilah kita mendoa, Indonesia bahagia.”

Bait III: “Marilah kita berjanji, Indonesia abadi.”

Di akhir acara, panitia Napak Tilas Proklamasi membagikan hadiah pada para pemenang lomba yel-yel dari sekolah-sekolah yang terlibat dalam kegiatan ini. —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.