Proyek pengerukan Pelabuhan Tanjung Emas tak terpengaruh OTT KPK

Ryan Songalia
Proyek pengerukan Pelabuhan Tanjung Emas tak terpengaruh OTT KPK
Proyek pengerukan Pelabuhan Tanjung Emas sudah rampung sejak dua pekan lalu

SEMARANG, Indonesia – Beberapa pejabat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar pertemuan tertutup dengan para petinggi otoritas Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang pada Jumat siang, 25 Agustus. Ini merupakan pertemuan perdana dengan para pemangku kepentingan proyek pengerukan di pelabuhan tersebut pasca Direktur Jenderal Kementerian Perhubungan terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT).

Acara turut dihadiri Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjung Emas, Gajah Rooseno, General Manager Pelindo III Cabang Semarang, Agus Hermawan serta para pegawai Bea Cukai setempat. Lalu, apa isi pertemuan tersebut?

“Kami dibekali pesan-pesan moral mengenai pentingnya menjaga integritas kawasan pelabuhan. Sebab, Tanjung Emas sempat disebut dalam kasus OTT Dirjen Hubungan Laut di Jakarta,” ujar GM Pelindo III cabang Semarang, Agus kepada Rappler usai bertemu dengan pejabat KPK di gedung Bea Cukai Semarang.

Ia memastikan proyek pengerukan sedimentasi perairan Tanjung Emas tidak akan terganggu pasca munculnya kasus OTT terhadap Antonius Tonny Budiono. Aktivitas di lapangan pun tidak akan ditunda dan tetap jalan terus.

“Proyeknya tetap jalan. Enggak ada penundaan. Toh, itu bukan proyeknya Pelindo. Jadi, kami enggak tahu menahu. Itu kewenangannya KSOP,” kata Agus.

Sementara, Kepala KSOP Tanjung Emas, Gajah Rooseno, mengaku menyesalkan sikap Tonny yang malah mengaitkan kasus suap dengan proyek pengerukan yang ada di Semarang. Di mata Gajah, uang suap terhadap proyek pengerukan di Tanjung Emas terkesan mengada-ada. Sebab, proyek pengerukan yang dimaksud sudah rampung sejak dua pekan lalu. Saat ini, prosesnya tinggal dilakukan serah terima pengelolaan kepada pihaknya.

“Proyeknya kan sudah selesai 100 persen. Nanti, akan diserahkan kepada kami. Makanya, kami sangat prihatin kok Semarang disebut-sebut dalam kasus itu,” katanya lagi.

Ia memastikan secara pelaksanaan teknis sudah benar dan sesuai prosedur. Sehingga, kecil kemungkinan jika ada perbuatan korupsi dalam proyek tersebut.

Gajah pun menjelaskan mengenai proyek pengerukan yang disebut-sebut menjadi alasan Komisaris PT Adhiguna Keruktama menyuap Tonny. Proyek tersebut dikerjakan di sekitar alur pelayaran perairan Pelabuhan Tanjung Emas. Proyek itu mencakup kedalaman 10,5 LWS dengan pelebaran areal menjadi 104 meter dari yang semula 100 meter. Sedangkan, panjang pelabuhan mencapai 5.000 meter.

Total anggaran untuk pengerukan pelabuhan di Tanjung Emas yakni mencapai Rp 40,5 miliar dari rencana penganggaran semula yang mencapai Rp 50 miliar. Oleh sebab itu, ia mempertanyakan sumber uang suap sebesar Rp 20 miliar yang diberikan demi kelancaran perizinan proyek tersebut.

Ketika dilakukan OTT di kediaman dinas Tonny di area Gunung Sahari, penyidik KPK menemukan 33 tas kecil berisi uang total Rp 18,9 miliar. Itu belum termasuk uang yang terbenam di dalam empat rekening.

“Besaran anggaran Rp 40,5 miliar. Lha kok bisa dia menyebutnya Rp 20 miliar. Saya kaget dan complaint kenapa Semarang dikaitkan (dalam praktik suap). Anggaran kami tidak segitu. Sangat disayangkan proyek pengerukan dikotori oleh ulah oknum kementerian,” kata Gajah.

Ia menjelaskan proyek pengerukan tidak hanya dikerjakan di Pelabuhan Tanjung Emas. Ada dua proyek serupa, salah satunya berlokasi di Juwana Pati.

Sementara, proyek di Tanjung Emas direncanakan harus diserahkan ke Pelindo pada bulan November agar bisa segera dioperasikan.

Siap diperiksa KPK

Lantaran tidak merasa ada yang keliru, Gajah mengaku siap diperiksa KPK. Bahkan, ia menjelaskan secara gamblang bagaimana tahapan proyek berjalan ketika bertemu petinggi lembaga anti rasuah itu.

Gajah mengaku tidak takut dicopot seandainya terbukti menerima aliran dana suap dari Dirjen Hubla.

“Karena risiko jabatan, maka dipecat pun saya juga suap. Apapun risikonya saya (akan) hadapi jika proyek itu berdampak buruk terhadap negara. Sejauh ini, saya yakin semuanya berjalan mulus karena sudah diawasi oleh kejaksaan bersama stackholder dan pengguna alur pelayaran,” kata dia.

Ia menjelaskan tujuan semula dilakukan pengerukan di Pelabuhan Tanjung Emas untuk merawat alur pelayaran yang saat ini semakin bertambah padat. Gajah mengatakan arus barang impor menuju ke Semarang meningkat pesat seiring terbatasnya dermaga peti kemas di Singapura.

Proyek tersebut dimaksudkan untuk menyikapi keluhan kapal-kapal asing karena selama ini terhambat pendangkalan di Laut Jawa.

“Barang impor dari China mulai masuk kemari, sementara terminal Singapura mulai padat. Maka dari itu, alur pelayaran harus dirawat sehingga bisa dilalui kapal dari Jatim, Jakarta, Kalimantan maupun luar negeri,” katanya. – Rappler.com

Add a comment

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.