Panitia aksi solidaritas Rohingya belum tentukan ke mana dana akan disalurkan

Anang Zakaria
Panitia aksi solidaritas Rohingya belum tentukan ke mana dana akan disalurkan
"Nanti akan dimusyawarahkan lagi," ujar ketua panitia ketika ditanya apakah dana akan disalurkan melalui AKIM

MAGELANG, Indonesia – Aksi solidaritas bagi etnis Rohingya akhirnya tetap dilakukan di Masjid An-Nuur Magelang, Yogyakarta pada Jumat siang, 8 September. Selain menggelar salat ghaib, panitia juga melakukan penggalangan dana dari massa.

Namun, sayangnya, panitia belum mengetahui akan disalurkan ke mana dana yang sudah berhasil digalang dari massa aksi solidaritas itu.

“Nanti, akan kami diskusikan secara teknis,” ujar Ketua Panitia Aksi Imanudin pada siang tadi.

Padahal, Kementerian Luar Negeri telah membentuk Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM) yang beranggotakan 11 organisasi masyarakat. Untuk memudahkan donasi masyarakat, maka panitia sebenarnya bisa menggunakan jalur itu. Dengan disalurkan di program Hummanitarian Assistance for Sustainable Community, maka AKIM bisa mendistribusikan dana sehingga tepat sasaran.

“Nanti, akan dimusyawarahkan lagi,” katanya lagi ketika ditanya apakah ada kemungkinan untuk menyalurkan dana peserta aksi melalui AKIM.

Kapolres Magelang Ajun Komisaris Besar Hindarsono memperkirakan peserta aksi mencapai 5.000 – 6.000 orang. Angka itu didapat dari catatan jumlah jemaah yang mengikuti salat Jumat di Masjid An-Nuur.

Jemaah yang menunaikan salat dan masuk melalui gerbang masjid diperkirakan sebanyak 4.500 orang lalu, ditambah perkiraan jemaah yang salat di jalan raya.

“Tadi, yang salat kan sampai di sana (jalan),” kata dia.

Untuk mencegah aksi agar tidak berubah menjadi rusuh, polisi menurunkan 2.800 personel. Sebanyak 600 personel berjaga di area Candi Borobudur, sisanya disebar di beberapa titik lain di dekat tujuan pariwisata itu.

Langkah antisipasi lainnya yakni dengan menempatkan Ketua MUI Magelang sebagai imam salat Jumat dan Kepala Kantor Kementerian Agama Magelang sebagai khatib.

Hindarsono mengakui adanya pengetatan pola keamanan aksi. Polisi membuat barikade dan menggelar razia di perbatasan area Jawa Tengah – Yogyakarta dan pertigaan Palbapang. Mereka menghalau calon peserta aksi dari Yogyakarta dan daerah-daerah di sekitar Magelang.

“Kapasitas masjid ini kan sempit,” kata dia menjelaskan alasan ada sebagian massa yang dihalau polisi.

Lagi pula, aksi itu cukup sensitif. Polisi khawatir akan pecah kerusuhan dan dapat mengancam kelestarian Candi Borobudur, situs budaya terbesar milik bangsa Indonesia.

“(Borobudur) Tak hanya milik umat Buddha saja, tapi seluruh orang Indonesia,” kata dia.

Tak kapok dihalau polisi

SALAT. Massa aksi solidaritas etnis Rohingya menunaikan salat di Masjid An-Nuur Magelang pada Jumat, 8 September. Foto oleh Anang Zakaria/Rappler

Kendati dilakukan razia di beberapa jalan menuju ke Candi Borobudur, namun peserta aksi tidak kapok. Bahkan, mereka tetap mencari jalan alternatif untuk mencapai Masjid An-Nuur.

Dian Tri, satu di antaranya. Pemuda berusia 19 tahun asal Solo itu datang menggunakan sepeda motor seorang diri. Namun, ia tidak berhasil mencapai ke Masjid An-Nuur

Remaja yang sehari-hari aktif menjadi takmir masjid di kampungnya itu baru tiba di Masjid An Nuur pukul 14.00, ketika massa aksi baru saja membubarkan diri.

“Tadi sampai di perbatasan Yogya-Magelang jam setengah dua belas terus disuruh balik sama polisi,” kata Dian.

Bukannya kembali Solo, Dian memilih mencari masjid terdekat untuk menunaikan salat Jumat. Usai salat, ia melanjutkan perjalanan ke Borobudur untuk bergabung dengan massa.

Ia mengatakan termotivasi ikut aksi bela Rohingnya karena prihatin dengan kekerasan yang dialami muslim Rohingnya. Dari informasi yang ia dapat di internet, ia tergerak untuk melakukan solidaritas.

“Ini persoalan agama, bukan hanya satu dua orang saja,” katanya.

Ini merupakan kali kedua, Dian ikut dalam aksi membela agama. Pertama, ketika dilakukan Aksi Bela Islam yang menuding mantan Gubernur DKI Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama sebagai penista agama di Solo. Aksi unjuk rasa itu berlangsung sebelum aksi 212 digelar di Jakarta.

“Yang aksi 212 tak ikut karena kerja,” kata lelaki yang bekerja di sebuah bengkel di Solo itu.

Dalam posternya, aksi bela Rohingnya di Borobudur diikuti oleh 151 laskar dan ormas di DIY dan Jawa Tengah. Di antaranya, dari atribut yang digunakan peserta aksi, mereka berasal dari FPI, FJI, FUI, Kokam dan GPK. Mereka datang dengan menggunakan kendaraan roda empat dan dua.

“Kami (datang) tujuh orang pakai mobil,” kata Nasir, seorang peserta usai aksi.

Ia dan keenam rekannya merupakan anggota Partai Keadilan Sejahtera Purworejo.

“Kalau mau datang silakan tapi kalau enggak juga enggak apa-apa,” jawab dia saat ditanya apakah kedatangannya merupakan perintah dari parpol. – Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.