Latin America

BNPB: Oknum tertentu sengaja buat informasi hoax mengenai letusan Gunung Agung

Ryan Songalia
BNPB: Oknum tertentu sengaja buat informasi hoax mengenai letusan Gunung Agung
BNPB belum dapat memastikan kapan Gunung Agung akan meletus

JAKARTA, Indonesia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan beberapa lembaga lain seperti BMKG mengimbau kepada publik agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial mengenai kondisi Gunung Agung. Sebab, sebagian besar informasi itu hoax dan tidak dapat dipercaya.

Salah satu informasi hoax yang diterima Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho yakni mengenai Gunung Agung yang sudah meletus. Padahal, hingga saat ini gunung tersebut belum meletus. Berbagai institusi pun tidak dapat memastikan kapan gunung dengan tinggi 3.031 meter itu akan meletus.

Menurut Sutopo, informasi yang tersebar melalui berbagai platform seperti WhatsApp, Youtube, dan media sosial lainnya bersumber dari letusan Gunung Sinabung dan Gunung Soputan pada tahun 2015 lalu. Informasi hoax lainnya yakni rilis Surat Tanggap Darurat Bupati Karangasem terhadap Gunung Agung.

“Surat itu rekayasa. Tidak ada pernyataan dari Kepala Daerah yang menggunakan materai,” ujar Sutopo menanggapi beredarnya surat tersebut dalam jumpa pers pada Senin, 25 September di gedung BNPB.

Berikut beberapa contoh informasi hoax mengenai Gunung Agung:




Ia juga menjelaskan jika informasi hoax dimanfaatkan oknum tertentu untuk mendapatkan keuntungan dari Google Adsense (GA).

“Sebab, jika website atau blog yang dikunjungi meraih banyak pengunjung, maka mampu dijual oleh oknum untuk mendapatkan keuntungan,” kata dia.

BNPB mengaku telah berkomunikasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika agar segera memblokir berbagai situs yang menyebarkan hoax tersebut. Sebab, informasi hoax tersebut dapat menyebabkan kepanikan bagi masyarakat Bali.

BNPB pun menyayangkan informasi hoax tetap disebarkan oleh oknum tertentu. Alhasil, sebagian masyarakat Bali akhirnya ada yang mengungsi ke Pulau Lombok dan Provinsi Jawa Timur. Oleh sebab itu, sekali lagi Sutopo mengimbau agar masyarakat hanya mempercayai informasi dari sumber terpercaya.

Kondisi Gunung Agung

BNPB pun menyarankan agar masyarakat secara reguler mengecek ke kanal resmi yang mereka luncurkan seperti di situs magma.vsi.esdm.go.id atau menghubungi pos pengamatan Gunung Agung di nomor 0813 211 00319.

Status Gunung Agung dinaikan menjadi awas (level 4) pada Jumat, 22 September. Sutopo mengklarifikasi bahwa aktivitas Gunung Agung hingga saat ini masih berupa dorongan magma dari dalam tubuh gunung.

“Meletus atau tidaknya gunung, tergantung dari kekuatan dorongan magma yang mampu mendorong sumbat lava di puncak,” katanya.

Namun jika ditelusuri melalui gambar satelit yang dirilis oleh BNPB, memang terdapat inflasi penggembungan tubuh gunung. Hal ini terpantau sejak Agustus 2017.

Sementara, akibat status Gunung Agung yang dinaikan menjadi awas, sebagian masyarakat Bali yang bermukim di sekitar area tersebut memilih untuk mengungsi. Data dari BNPB menunjukkan ada 34.931 jiwa yang mengungsi di 238 titik.

“Jumlah pengungsi sering berubah, karena pada siang hari sebagian warga kembali ke rumah untuk memberikan makan ternaknya. Pada sore atau malam hari, mereka kembali ke tempat pengungsian lagi,” kata Sutopo. – Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.